What do you want?

Memuat...

Sabtu, 09 Maret 2013

MAKALAH KROMATOGRAFI, IDENTIFIKASI BKO (BAHAN KIMIA OBAT)



ABSTRAK
            Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas, dan elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang diukur oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakansebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom.
            Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang digunakan lebih sederhana dan lebih dikatakan bahwa hampir semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat.






















PENDAHULUAN
DASAR TEORI
            Metode pemisahan kromatografi didasarkan pada perbedaan distribusi molekul-molekul komponen diantara dua fase (fase gerak dan fase diam) yang kepolarannya berbeda.apabila molekul-molekul komponen berinteraksi secara lemah dengan fase diam maka komponen tersebut akan bergerak lebih cepat meninggalkan fase diam. Keberhasilan pemisahan kromatografi bergantung pada daya interaksi komponen-komponen campuran dengan fase diam dan fase gerak.
(Hendayana, 2010)
            Dibandingkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (KG), KLT mempunyai beberapa keuntungan, yaitu :
1.      KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar, dalam hal memilih fase gerak.
2.      Beberapa macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2 dimensi, pengembangan bertingkat, dan pembaceman penjerap dapat dilakukan pada KLT.
3.      Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja.
4.      Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi.
BAHAN DAN TEKNIK KLT
1.      Penjerap/fase diam
Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah silica dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi
2.      Fase Gerak pada KLT
System yang paling sederhana ialah dengan menggunakan campuran 2 pelaut oganik karena daya elusi campurankedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.
3.      Aplikasi (Penotolan) Sampel
Penotolan (aplikasi) sampel dapat dilakukan sebagai suatu bercak, pita, atau dalam bentuk zig zag.
4.      Pengembangan
Teknik pengembangan KLT dan KLT kinerja tinggi yaitu konvensional, pengembangan 2 dimensi, dan pengembangan kontinyu.
5.      Deteksi
(Rohman, 2009)
PENGGUNAAN KLT
      KLT digunakan secara luas untuk analisis solu-solut organic terutama dalam bidang biokimia, farmasi, klinis forensik, baik untuk analisis kualitatif dengan cara membandingkan nilai Rf solute dengan nilai Rf senyawa baku atau untuk analisis kualitatif.
      Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi, menentukan efektifitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi kolom, serta untuk memantau kromatografi kolom, melakukan screening sampel untuk obat.
(Sudjadi, 2007)

TUJUAN
            Dapat mengembangkan dan menunjukkan kemampuan pengetahuan dan/praktis untuk:
1)      Menjelaskan teori dan prinsip-prinsip dasar KLT
2)      Memilih fase gerak yang sesuai untuk pemisahan terbaik
3)      Melakukan analisis kualitatif untuk identifikasi senyawa obat dalam pengobatan tradisional.


METODOLOGI

ALAT DAN BAHAN
-          Alat                                                                            
·         Chamber                                             
·         Referensi senyawa obat                                       
·         Fase gerak untuk TLC                             
·         TLC plate : Silika Gel GF 254                                         
·         TLC plat    : Silika Gel G                                                       
·         Uap yodium
·         Sinar UV
·         Satu set peralatan TLC
-          Bahan
·         Zat warna
·         Uap iodine
·         Sampel (jamu pegal linu)
·         Fase diam (Silika Gel)
·         Fase Gerak (etanol, methanol, kloroform, heksan, etil asetat, campuran 2 macam pelarut)
·         Kertas saring




CARA KERJA
Prinsip-Prinsip Dasar KLT
Dipersiapkan ruang berkembang (menggunkan 2 kombinasi yang berbeda dari dua fase gerak).
Diberi label dan ditandai plat KLT.
            Dipercikkan stok laritan pewarna pada plat KLT.
            Dikembangkan plat KLT dan ditandai bagian dengan elusi.
            Dihitung polaritas dan kekuatan elusi fase gerak, diprediksi nilai Rf dari pewarna. 
            Divisualisasikan dan ditandai kromatogram di bawah cahaya putih.
            Dihitung nilai Rf dari pewarna.
            Ditemukan fase gerak yang sesuai untuk pemisahan terbaik pewarna.

Mengidentifikasi Senyawa Obat dalam Pengobatan Tradisional
Disiapkan ruang pengembangan.
Diberi label dan tanda pada plat KLT.
            Diberi titik stok dari referensi senyawa obat pada KLT.
            Dikembangkan plat KLT dan tandai dengan eluen
            Divisualisasikan dan ditandai kromatogram di bawah cahaya UV dan uap iodine.
            Dihitung nilai Rf referensi senyawa obat.
            Ditemukan fase gerak untuk pemisahan paling baik dari senyawa obat.
            Ditandai larutan sampel dan referensi pada plat KLT.
            Dikembangkan plat KLT dengan sistem (fase gerak) yang terbaik.
            Diidentifikasikan senyawa obat dalam sampel.







HASIL DAN PEMBAHASAN

Rf =  

UV 254 nm                                                                 UV 366 nm
Sampel = 1 Rf =  = 0,88                                       Sampel = 1 Rf =  = 0,88
     P        A       N          S
 
Paracetamol =  Rf =  = 0,88
Antalgin =  Rf =  = 0,88
Na Diklofenak Rf =  = 0,88






Data Hasil Perbandingan dengan Kelompok A1 sampai A7
NO.
Fase
Gerak
Sampel
Rf Sampel
Rf P
Rf A
Rf Na
254
366
254
366
254
366
254
366
1.
Kloroform : Aseton
(7 : 5)

0,38
0,38
0,36
-
-
-
I : 0,32
II : 0,46
-
2.
Etil Asetat : Me-OH : Amonia
(15 : 20 : 5)

I : 0,12
II : 0,52
-
0,62
-
0,12
-
0,5
-
3.
Kloroform : Metanol (8 : 2)

I : 0,5
II : 0,64
I : 0,5
II : 0,64
0,5
-
0,1
-
0,6
-
4.
Kloroform : Aseton
(7 : 3)

0,38
-
0,38
-
-
-
I : 0,38
II : 0,54
-
5.
Et. User : me-OH : Amonia
(75 : 20 : 5)

I : 0,2
II : 0,54
III : 0,64
-
0,6
-
I : 0,2
II : 0,5
-
-
-
6.
Kloroform : Me-OH
(8 : 2)

0,88
0,88
0,88
-
0,88
-
0,88
-
7.
Kloroform : Aseton
(7 : 3)

I : 0,30
II : 0,40
-
0,30
-
-
-
0,40
-
PEMBAHASAN
            Percobaan kromatografi kali ini dengan metode kromatografi lapis tipis atau KLT dengan tujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi ada tidaknya senyawa bahan kimia obat yang terkandung dalam obat-obat tradisional. Sampel jamu atau obat tradisional adalah jamu Pegal Linu yang dicurigai adanya bahan kimia obat dalam campuran jamu tradisional seperti Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak. Maka dalam analisis kualitatif ini, senyawa obat-obat tersebut digunakan sebagai pembanding dalam kromatografi lapis tipis. TLC merupakan suatu pemisahan dengan menggunakan fase gerak dan fase diam. Di sini yang berperan sebagai fase gerak adalah kloroform dan methanol, dan fase diamnya adalah silica gel.  TLC juga disebut kromatografi planar karena fase diamnya berupa lapis tipis yang seragam pada permukaan bidang datar, sedangkan fase geraknya akan berjalan sepanjang fase diam karena daya kapilaritas. Fase diam akan membawa analit melewati fase diam berdasarkan kepolaritasan.
            Untuk melihat pemisahan terbaik yang kita lakukan adalah pengoptimasian fase gerak, pola optimasi pertama menggunakan kloroform dan methanol (8 : 2) bersifat nonpolar. Pada percobaan KLT ini yang perlu diperhatikan adalah saat melakukan penotolan ,saat penotolan harus serba hati-hati jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis, serta diperhatikan batas antara totolan dan pelarut fase gerak agar totolan tidak larut dalam fase gerak sehingga tidak terjadi elusi.  Penandaan pada plat silika gel harus menggunakan pensil, tidak diperbolehkan menggunakan bolpoint, hal ini disebabka tinta pada bolpoint akan menganggu saat dicelupkan di fase gerak, tinta akan ikut masuk dan menganggu pengamatan. Silika gel harus dijaga sebersih mungkin, karena apabila basah ataupun kotor akan menganggu disebabkan adanya pengotor jadi bukan dari sampel / zat murni yang akan diteliti. Hal ini bertujuan untuk mengecek fase gerak apakah mau memisah dan juga membersihkan fase gerak dari pengotor yang dapat menganggu jalannya pengamatan. Setelah itu dilakukan penotolan keempat zat ini pada plat silika, lalu dimasukkan ke dalam fase gerak secara tegak
            Dalam praktikum ini kita menggunakan fase terbalik dimana fase diamnya bersifat  bersifat polar dan fase geraknya bersifat non polar. Di sini kita menggunakan sampel dan 3 pembanding. Sampel dilarutkan dengan kloroform dan methanol, pembanding yaitu Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak masing-masing adarnya 1 %. Fase gerak sebelumnya dijenuhkan dahulu menggunakan kertas saring yang ditandai dengan adanya titik air atau embun pada chamber atau kertas saring yang seluruhnya basah dari bawah sampai atas,.
            Kemudian dilakukan pengamatan pada sinar UV dibagi 2 yaitu pada panjang gelombang 324 dan 366. Hasi Rf pada 234 yaitu  4 totolan pada Rf seluruhnya 0,88. Parasetamol 0,88; Antalgin 0,88; Na Diklofenak 0,88. Dan pada panjang gelombang 366 hasil Rf yang diperoleh juga 0,88. Secara teoritis Rf yang bagus itu antara 0,2 – 0,8. Apabila kurang dari 0,2 berarti bias yang artinya terlihat seperti memisah tetapi aslinya tidak memisah. Jika lebih besar dari 0,8 mungkin saja itu terlalu besar terjadi karena fase gerak terlalu kuat sehingga terbawa oleh fase gerak. Pada  pengindentifikasian BKO kami menyimpulkan bahwa BKO yang terkandung dalam sampel pegal linu kelompok kami tidak diketahui karena hasil Rf-nya bias.
            Kami membandingkan hasil BKO dengan kelompok 3 yang menggunakan Fase gerak yang sama, dari hasil BKO yang terkandung dalam sampel pegal linu kelompok 3 diduga terkandung parasetamol dan Na diklofenak. Kelompok satu dengan fase gerak kloroform : aseton, pengindentifikasian BKO dalam sampel di duga mengandung parasetamol dan antalgin, kelompok 2 dengan fase gerak etil asetat : methanol : ammonia ( 75:20:5)  dengan membanding hasil BKO pada kelompok 5 dengan fase gerak yang sama didapat hasil BKO dari kelompok 2 yaitu mengandung antalgin dan Na diklofenak, sedangkan kelompok 5 mengandung parasetamol, antalgin dan Na diklofenak. Pada kelompok 4 dibandingkan dengan kelompok 7 menggunakan fase gerak sama didapat hasil BKO kelompok 4 mengandung parasetamol dan Na diklofenak dan BKO kelompok 7 juga sama yaitu mengandung parasetamol dan Na dikofenak.





KESIMPULAN
1)      Kromatografi lapis tipis adalah cara pemisahan berdasarkan fase gerak dan fase diam.
2)      Praktikum ini menggunakan fase terbalik. Fase gerak yang digunakan adalah kloroform dan metanol (8 : 2) yang bersifat non polar, fase diam silika gel
3)      Anatalgin bersifat lebih polar dibanding parasetamol karena antalgin berupa dalam bentuk garam.Digunakan 3 pembanding yaitu Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak.
4)      Rf sampel 0,88 dibanding kan denga Rf parasetamol 0,88, Rf antalgin 0,86 Rf Na diklofenak 0,88
5)      Secara teoritis Rf yang bagus itu antara 0,2 – 0,8. Apabila kurang dari 0,2 berarti bias yang artinya terlihat seperti memisah tetapi aslinya tidak memisah. Jika lebih besar dari 0,8 mungkin saja itu terlalu besar terjadi karena fase gerak terlalu kuat sehingga terbawa oleh fase gerak

DAFTAR PUSTAKA
Hendayana, Sumar. 2010. Kimia Pemisahan. Penerbit Rosda. Bandung
Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu. Yogyakarta
Sudjadi. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta






 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar