What do you want?

Jumat, 27 September 2013

Menjadikannya Seketika Jernih



          

         Adalah ayah saya, Ir. Muhammad Syukri, seorang laki-laki paling hebat untuk saya, sangat baik, bijaksana, pintar, sangat bertanggung jawab, serba bisa, sabar, dan pekerja keras. Saya sangat beruntung dan bersyukur bisa menjadi putri satu-satunya beliau. Sering kali saya bercita-cita menjadi seperti ayah saya yang serba bisa, bagaimana tidak? Sejak saya SD sampai SMA pun setiap malam ayah sayalah yang mengharuskan dan menemani saya belajar meskipun siangnya saya telah mengikuti berbagai les akademik. Ayah saya pintar sekali mengajari saya walaupun beliau bukan seorang guru, tetapi jika saya bertanya berbagai hal dengan beliau, pasti beliau tahu jawabannya. Bukan itu saja, hampir setiap saya mempunyai tugas dari sekolah berupa prakarya atau apapun, ayah saya selalu membantu saya. Alhasil, seringkali tugas dan prakarya saya paling bagus diantara teman-teman saya sekelas :p.
            Saya punya segudang kenangan colorfull dengan ayah saya. Tetapi kali ini saya ingin bercerita tentang 2 tahun yang lalu dimana saya masih duduk di bangku SMA. Waktu itu saya kelas 3 SMA, keadaan yang sangat menentukan masa depan saya, terutama kuliah. Ayah saya sempat tidak setuju ketika saya benar-benar bertekad kuliah di luar kota. Padahal waktu itu salah satu perguruan tinggi negeri di kota asal saya bisa menerima saya menjadi mahasiswa, dengan jurusan yang lulusannya sedang sangat dibutuhkan akhir-akhir ini, tetapi saya kurang meminatinya dan saya memilih kuliah di luar kota,  Jika dipikir-pikir lagi, saya over confident sekali waktu itu yang sangat berkeinginan dan berani menjadikan target dua perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Tengah dan Surabaya, namun jika tidak ada yang lulus saya juga siap untuk masuk perguruan tinggi swasta di sana, asal di Jawa. Setelah mengetahui itu, ayah saya pun langsung mencarikan perguruan tinggi swasta ternama, terakreditasi baik kampus dan fakultasnya, tujuannya tidak lain untuk cadangan jika saya tidak lolos seleksi SNMPTN saya bisa berkuliah di perguruan tinggi swasta yang berkualitas bagus. Rupanya ayah saya menginginkan saya berkuliah di farmasi pada PTS tersebut, kenapa farmasi? Kata ayah saya, agar saya nantinya bisa bekerja di swasta maupun negri dengan kata lain banyak memiliki pilihan pekerjaan, lantas ayah saya langsung mendapatkan daftar-daftar universitas yang memiliki jurusan farmasi dengan akreditasi A dan kampusnya yang terakreditas baik pula, “haruskah begitu ayah?” alasan beliau juga cukup kuat “karena jika kamu ingin mengikuti tes CPNS kelak, salah satu syarat essensialnya yaitu kamu lulusan dari fakultas dan universitas yang minimal akreditasnya B”. Ooh… mendengar itu saya sangat bangga dengan ayah yang pemikirannya sudah jauh dan sangat peduli dengan masa depan saya. Ayah pun mengajak saya mengikuti tes PTS dua minggu sebelum Ujian Nasional (UN).
            Saya sering sekali berfikir, jika waktu itu tidak ada peran besar ayah saya, bagaimana saya bisa tetap bertahan pada tekad saya berkuliah di luar kota? bagaimana saya pergi mendaftar kuliah keluar kota? Sampai-sampai urusan administrasi hingga syarat-syarat mengikuti tes PTS saja hampir keseluruhan ayah saya yang menyelesaikan semua, dengan enaknya saya tinggal duduk menghadap komputer dan menyelesaikan soal-soal tes tersebut ): . The last, sampai sekarang belum ada laki-laki manapun yang bisa menyaingi hebatnya ayah saya. .



               

2 komentar:

  1. Terima Kasih partisipasinya di 2nd GA Semut Pelari.
    Mohon maaf jumlah kata nya lebih sedikit. Mohon di edit kembali :)

    Terima Kasih

    BalasHapus
  2. Iya Kak, terimakasih kembali. akan saya edit kembali. :))

    BalasHapus