What do you want?

Selasa, 17 Desember 2013

ABSORBSI OBAT SECARA IN VITRO


   LAPORAN PRAKTIKUM
BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
PERCOBAAN III
ABSORBSI OBAT SECARA IN VITRO



Disusun Oleh :
Nama : Eldesi Medisa Ilmawati
NIM : K 100 110 038
Kelompok : B3
Korektor :


LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013


PERCOBAAN III
ABSORBSI OBAT SECARA IN VITRO


I.                   TUJUAN PERCOBAAN
Mempelajari pengaruh pH terhadap absorbs obat di saluran pencernaan secara in vitro.

II.                DASAR TEORI
Absorbsi obat berkaitan dengan mekanisme input obat ke dalam tubuh dank e dalam jaringan atau organ di dalam tubuh. Disposisi dapat dibedakan menjadi distribusi dan eliminasi. Setelah obat memasuki sirkulasi sistemik pbat didistribusikan ke jaringan tubuh. Penetrasi obat ke dalam jaringan bergantung pada laju aliran darah ke jaringan, karakteristik pasrisi antara darah dan jaringan tercapai (Sinko, 2012).
Pada obat yang diberikan secara peroral absorbs obat dapat terjadi pada saluran cerna. Jadi saluran cerna memegang peranan penting terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan laju dan keberadaan absorbs obat. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1.      Sawar membrane saluran cerna
2.      pH saluran cerna
3.      kestabilan obat dalam saluran cerna.
4.      Interaksi obat dan kompleksasi
Bila diasumsikan bahwa dalam saluran cerna tidak ada yang menghalangi absorbsi setelah obat berada dalam keadaan terlarut, maka obat (molekul) harus kontak dengan saluran cerna kalau obat itu telah terdifusi dari cairan salran cerna ke permukaan membran (Syukri, 2002).
Disolusi dan absorbsi obat dalam saluran cerna tidak sederhana karena pH cairan bulk bisa berbeda secara bermakna dari pH lapisan stationer di sekeliling partikel-partikel obat. Pengisi, pengikat dan zat penambah lainnya dalam bentuk sediaan bisa juga dipengaruhi oleh pH. pH partisi absorbsi obat dari saluran cerna bisa dipengaruhi oleh pH cairan dan pKa obat tersebut tapi prinsip ini juga harus dilihat dengan beberapa hal yang harus diperhatikan seperti setelah diterangkan sebelumnya. Faktor-faktor lain seperti:
-          Tempat absorbsi spesifik  dan luas permukaan dari berbagai daerah saluran cerna mungkin sama pentingnya atau lebih penting dari pertimbangan asam basa.
-          Usus halus mempunyai luas permukaan untuk absorbsi yang jauh lebih besar diabsorbsi di sana tanpa melihat pertimbangan pH atau pKa (martin, 1993).
Sebagian besar obat merupakan asam atau basa organic lemah. Ansorbsi obat dipengaruhi oleh derajat ionasasinya pada waktu zat tersebut berhadapan dengan membrane-membran sel lebih permeable terhadap bentuk obat yang tidak terionkan daripada bentuk terionkan. Derajat ionisasi tergantung pada pH larutan dan pKa (Anonim, 2012).


III.             ALAT DAN BAHAN

Alat :
1.      Tabung Crane dan Wilson yang dimodifikasi
2.      Spektrofotometer
3.      Water-bath (penangas air)
4.      Timbangan analitik
5.      pH meter
6.      alat-alat untuk operasi
7.      alat-alat gelas

Bahan :
1.      Organ terisolasi berupa usus tikus
2.      Cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2), cairan usus tanpa pankretin (pH 7,5)
3.      Larutan NaCl 0,9% b/v
4.      Asam salisilat
5.      Eter
6.      Gas oksigen
7.      Alcohol
8.      Sel sulfat dan barium hidroksida

IV.             CARA KERJA
1.      Penentuan Absorbsi pada Usus Tikus
Usus untuk percobaan dipuasakan selama 20-24 jam dan tetap diberi minum air masak.
Tikus dibunuh dengan eter, kemudian dibuka perutnya di sepanjang lines mediana dan usus dikeluarkan.
Usus sepanjang 15 cm di bawah lambung (pylorus) dibuang, lalu diukur 20 cm di bawahnya dan dipotong untuk digunakan dalam percobaan.

Usus dibagi dua bagian sama panjang, masing-masing ±10 cm kemudian dibersihkan dngan larutan 0,9% NaCl.
Bagian yang dekat dengan anal (bagian bawah) digunakan sebagai control dan bagian atas (kerah lambung) digunakan untk percobaan.
Ujung anal (bagian bawah) dari potongan usus tersebut diikat dengan benang, kemudian dengan menggunakan batang gelas yang berdiameter 2 mm usus tersebut dibalik sehingga bagian mukosa terletak diluar.
Bagian kanula dari tabung Crane dan Wilson dimasukkan ke ujung oral (bagian atas) dari usus yang belum diikat.

Usus diukur dengan panjang efektif 7 cm dan diisi dengan 1,5 mLcairan serosal (larutan natrium klorida 0,9% b/v).
Kantong usus yang sudah diisi cairan serosal ini dimasukkan ke dalam tabung Crane dan Wilson yang sudah diisi 75 mL cairan mucosal yang  mengandung bahan obat pada suhu 370C.
Kantong usus untuk control diperlakukan dengan cara yang sama, tetapi dengan menggunakan cairan mucosal tanpa obat.

Selama percobaan berlangsung, seluruh bagian usus dijaga agar dapat terendam dalam cairan mucosal dan selalu dialiri gas oksigen dengan kecepatan kira-kira 100 gelembung permenit.
Pada interval waktu tertentu, kadar obat yang berada dalam cairan serosal ditentukan.
Untuk penentuan ini seluruh cairan serosal diambil melalui kanula dan segera dicuci dengan larutan natrium klorida 0,9% b/v.
Diisi kembali dengan 1,5 mL larutan natrium klorida 0,9% b/v.

2.      Cara Analisis
Diambil 1 mL sampel kemudian ditambah dengan 2 mL larutan seng sulfat 5% dan 2 mL larutan barium hidroksida 0,3 N.
Larutan dikocok dengan diputar selama 5 menit.
Diambil bagian yang jernih 2,5 mL kemudian ditambah dengan FeNO3 sebanyak 5 mL dan ditambah aquadest sampai volume mencapai 10 mL
Dibaca dengan  maksimum.

V.                ANALISIS CARA KERJA
-          Tikus dipuasakan selama 20-24 jam dengan tujuan agar absorbsi obat optimal karena absorbsi obat dipengaruhi oleh kecepatan pengosongan lambung sehingga proses adsorbs obat akan lebih cepat.
-          Tikus dibunuh dengan eter dan dibuka perutnya di sepanjang imea mediana dan ususnya dikeluarkan, usus sepanjang 15 cm di bawah pylorus atau lambung dibuang dengan tujuan menghindari kontaminasi asam-asam lambung yang  dihasilkan oleh lambung, sehingga absorbsinya terganggu sedangkan pembuangan usus 20 cm di bawah dikarenakan adanya fili dan mikrofili yang menyebabkan besarnya luas permukaan fili-fili ini tidak terdapat pada daerah saluran cerna lainnya.
-          Bagian usus dibagi menjadi dua bagian atas yang disebut bagian oral dan bagian bawah disebut bagian awal. Bagian oral digunakan untuk sampel sedangkan bagian awal digunakan untuk control tanpa obat.
-          Larutan mukosa diibaratkan sebagai kompartemen saluran pencernaan dan selama percobaan selalu dialiri gas oksigen dengan kecepatan kira-kira 100 gelembung/menit, kecepatan ini tergantung dari panjang usus, media yang digunakan dan perlakuan terhadap usus.
-          Tujuan penambahan cairan serosal yang masing-masing 2 mL untuk mengikat garam NaCl dalam serosal, menjadi endapan BaCl2 berwarna putih yang dapat dipisahkan dengan sentrifuge selain untuk mengendapkan garam NaCl juga untuk mengendapkan protein, sehingga beningan yang mengandung asam salisilat bisa dibaca serapannya dengan spektrofotometer visible dengan penambahan FeNO3 sehingga terjadi pembentukan kompleks warna.
-          Tabung Crane dan Wilson merupakan alat yang digunakan pada praktikum ini, cara kerjanya bahwa obat yang



VI.             HASIL DAN PERHITUNGAN

1.      Nama bahan obat : Asam salisilat
2.      Kadar bahan obat sebenarnya : 0,01 M
3.      Kurva baku           : y = 1,2095 – 0,079 , nilai r = 0,964
4.      Λmax                    : 553 nm
5.      Operating time      : 5 menit
6.      pH cairan               : 7,5
7.      A   = 2 . π . r . t
8.           = 2 . 3,14 , 0,1 . 10
    = 6,28 cm2
9.      Sampel Obat
T (menit)
Ak
As
Ck
Cs
Cs-Ck
Kadar Total
Q
 )
15
0,030
-0,02
0,09
0,048
-0,042
-0,042
-0,00063
-1,003 x 10-4
30
0,034
0,006
0,093
0,07
-0,023
-0,065
-0,000975
-1,55 x 10-4
45
0,166
0,021
0,203
0,083
-0,12
-0,185
-0,002775
-4,419 x 10-4
60
0,222
0,232
0,249
0,257
0,008
-0,177
-0,002655
-4,228 x 10-4
90
0,240
0,295
0,263
0,309
0,046
-0,131
-0,001965
-3,129 x 10-4

Perhitungan Kadar
Kadar kontrol (mg/mL)
Kadar sampel (mg/ml)
t = 15 abs = 0,03
y = 1,2095 – 0,079
0,030 = 1,2095 – 0,079
X = 0,09
t = 15 abs = -0,02
y = 1,2095 – 0,079
-0,02 = 1,2095 – 0,079
X = 0,0048
t = 30 abs = 0,034
y = 1,2095 – 0,079
0,034 = 1,2095 – 0,079
X = 0,093
t = 30 abs = 0,006
y = 1,2095 – 0,079
0,006 = 1,2095 – 0,079
X = 0,070
t = 45 abs = 0,166
y = 1,2095 – 0,079
0,166 = 1,2095 – 0,079
X = 0,203
t = 45 abs = 0,021
y = 1,2095 – 0,079
0,021 = 1,2095 – 0,079
X = 0,083
t = 60 abs = 0,222
y = 1,2095 – 0,079
0,222 = 1,2095 – 0,079
X = 0,249
t = 60 abs = 0,232
y = 1,2095 – 0,079
0,232 = 1,2095 – 0,079
X = 0,257
t = 90 abs = 0,240
y = 1,2095 – 0,079
0,249 = 1,2095 – 0,079
X = 0,263
t = 90 abs = 0,295
y = 1,2095 – 0,079
0,295 = 1,2095 – 0,079
X = 0,309

Cs-Ck (mg/mL)
t = 15
0,048 - 0,09 = -0,042
t = 45
0,083 - 0,203 = -0,12
t = 90
0,309 - 0,263 = 0,046
t = 30
0,07 - 0,093 = -0,023
t = 60
0,257 - 0,249 = 0,008



Kadar Total (mg/mL)
t = 15
-0,042
t = 30
-0,042 + -0,023 = -0,065
t = 45
-0,042 + -0,023 + -0,12 = -0,185
t = 60
-0,042 + -0,023 + -0,12 + 0,008 = -0,177
t = 90
-0,042 + -0,023 + -0,12 + 0,008 + 0,046 = -0,131

Q  )
t = 15
-0,042 x  = -0,00063
  = -1,003 x 10-4
t = 30
-0,065 x  = -0,000975
 = -1,55 x 10-4
t = 45
-0,185 x  = -0,002775
 = -4,419 x 10-4
t = 60
-0,177 x  = -0,002655
 = -4,228 x 10-4
t = 90
-0,131 x  = -0,001965
 = -3,129 x 10-4





Regresi Linear t vs Q/A
A = -1,312 x 10-4
B = -3,262 x 10-6
R = -0,604
Y = -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
Pm ( Permeabilitas membran )
Pm =
Slope = b = -3,262 x 10-6
Cg = Kadar awal x BM asam salisilat
      = 0,01 M x 138,12
      = 1,381 mg/cm3
Pm usus  =
                = -2,362 x 10-6
                 = -3,937 x 10-6
Lag time usus
Merupakan perpotongan garis dengan sumbu x , y = 0
Y = -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
0 = -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
X = -4,022 menit




Grafik Q/A vs t

 

VII.          PEMBAHASAN
 Tujuan pada percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari adanya pengaruh pHterhadap absorbsi obat melalui saluran pencernaan secara in vitro. Absorbsi obat merupakan proses pergerakan obat dari tempat pemberian menuju sirkulasi sistemik, sedangkan in vitro merupakan preparasi yang dilakukan di luar tubuh makhluk hidup atau hewan uji dengan menggunakan salah satu hewan uji.
Pada percobaan ini organ yang digunakan adalah usus halus dari hewan percobaan yakni tikus, digunakan usus halus karena usus merupakan tempat absorbsi obat dalam tubuh. Cairan yang digunakan adalah cairan serosal 1,5 mL yang terdiri dari larutan natrium klorida 0,9 % b/v, serta cairan mucosal yang digunakan adalah cairan lambung buatan tanpa pepsin pH 1,2 dan bahan obat yang digunakan adalah asam salisilat.
Asam salisilat merupakan obat yang bersifat asam lemah dimana absorbsinya lebih baik pada pH lambung yaitu pH 1,2. Pada obat, asam lemah jika diletakkan pada mmembranemedium pH rendah maka bentuk tak terionnya lebih banyak daripada bentuk terionnya. Sehingga lebih banyak yang diabsorbsi pada medium ini. Sebaliknya, pada medium dengan pH yang lebih besar, maka bentuk terion lebih banyak, sehingga pbat yang diabsorbsi hanya sedikit.
Membrane sel lebih permeable dari bentuk obat yang tidak terionkan. Diharapkan dengan pH percobaan rendah yaitu 1,2 menjadikan bentuk obat banyak dalam bentuk tak terionkan sehingga sel lebih permeable dan pada akhirnya obat mudah untuk diabsorbsi. Permeabilitas dari data yang didapat adalah -3,937 x 10-6 cm/detik, sedangkan lag time merupakan nilai dari perpoyongan garis dengan sumbu t, bahan yang memiliki lag time kurang dari 15 menit biasanya tidak menimbulkan masalah pada proses transpormelalui membrane biologis. Ada percobaan ini kami mendapatkan nilai lag time yaitu -4,022 menit yang berarti tidak menimbulkan masalah pada proses transport melalui membrane biologis.


VIII.       KESIMPULAN
1.  Lag time yang didapat yakni -4,022 menit yang berarti tidak menimbulkan masalah pada proses transport melalui membran biologis karena kurang dari 15 menit.
2.      Pada praktikum ini digunakan asam salisilat dimana asam salisilat bersifat asam lemah sehingga akan banyak diabsorbsi di lambung karena di lambung bentuk tak terionnya lebih banyak daripada terion.


IX.             DAFTAR PUSTAKA
Martin. 1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik. Diterjemahkan oleh Yoshita. UII Press. Yogyakarta.
Sinko. 2011. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Martin. Diterjemahkan oleh Djajadisastra. EGC. Jakarta.
Syukri. 2002. Biofarmasetika. UII Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar