What do you want?

Jumat, 06 Desember 2013

ABSORBSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO - Laporan Resmi Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Praktikum

                                                         LAPORAN PRAKTIKUM
BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
PERCOBAAN IV
ABSORBSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO



Disusun Oleh :
Nama : Eldesi Medisa Ilmawati
NIM : K 100 110 038
Kelompok : B2
Korektor : Nadia Dika


LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013



 
PERCOBAAN IV
ABSORBSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO

I.                   TUJUAN PERCOBAAN
Mengetahui adsorbs perkutan dan fungsi stratum korneum sebagai penghalang fisik dalam adsorbs perkutan obat.
II.                DASAR TEORI
Adsorbs perkutan dapat didefinisikan sebagai adsorbsi obat ke dalam statum corneum (lapisan tanduk) dan berlanjut obat menembus lapisan di bawahnya serta akhirnya obat masuk dalam sirkulasi darah.
Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat atau senyawa eksternal. Adsorbsi obat perkutan dipengaruhi oleh sifat fisikokimiawi obat dan pembawa serta kondisi kulit pada pemakaian obat secara topical, obat berdifusi dalam pembawanya dan kontak dengan permukaan kulit (statum korneum dan setum) serta obat selanjtnya menembus epidermis. Penetrasi obat melalui kulit dapat terjadi dengan dua cara yaitu :
1.      Rute transdermal, yaitu difusi obat menembus stratum korneum.
2.      Rute transfolikuler, yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan selum.
Sebelum obat dapat memberikan efek, obat perlu dilepaskan dari basisnya setelah obat kontak dengan stratum korneum maka obat akan menembus epidermis dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik secra difusi pasif. Laju absorbs melintasi kulit tidak segera tunak tetapi selalu teramati adanya waktu laten. Waktu laten mencerminkan penundaan penembusan senyawa kebagian dalam struktur tanduk dan pencapaian gradien difusi (Syukri, 2002).
Hambatan utama dari sistem penghantaran obat transdermal adalah sifat halangan intrinsic dari kulit. Halangan ini dapat secara kimiawi dimodifikasi dengan tujuan menurunkan resistensi difusi menggunakan peningkat penetrasi. Strategi penggunaan peningkat penetrasi memungkinkan lebih banyak obat dapat diberikan melalui sistem penghantaran transdermal. Pertimbangan penting selama pengembangan sediaan trandermal adalah potensi respon alergi, iritasi terhadap obat/konstituen formulasi lain, serta peningkatan penetrasi (karena mekanisme kerjanya bermacam-macam, antara lain melarutkan lapisan teratas dari kulit) Agoes, 2008).
Faktor yang mempengaruhi absorbs kuat yaitu penetrasi dan cara pemakaian temperatur dari kulit sifat fisika kimia obatnya, pengaruh dari sifat dasar salep, lama pemakaian, kondisi atau keadaan kulit (Anief, 2000).
Adsorbsi atau penyerapan suatu zat aktif adalah masuknya molekul-molekul ke dalam tubuh atau menuju peredaran darah tubuh, setelah melewati penghalang biologic penyerapan akan diteliti bersamaan dengan fase biofarmasetik (Ansel, 1989).
Adsorbsi melalui kulit (permukaan) bila suatu obat digunakan secara topikal maka obat akan keluar dari pembawanya dan berdifusi ke permukaan jaringan kulit. Ada 3 jalan masuk yang utama melalui daerah kantong rambut, melalui kelenjar keringat atau melalui jaringan keringa atau stratum korneum yang terletak dianara kelenjar keringat dan kantong rambut (Lachman, 1989).

III.             ALAT DAN BAHAN

Alat :
1.      Sentrifuge
2.      Spektrofotometer
3.      Alat-alat gelas (pipet ukur, pipet volume, pipet tetes, beker glass)
4.      Tabung ependroff
5.      Mikropipet
6.      Kuvet
7.      Pisau/silet
8.      Kasa dan aluminium foil
Bahan :
1.      Hewan uji kelinci
2.      Salep Natrium Salisilat
3.      EDTA
4.      Pereaksi Trinder

IV.             CARA KERJA
Penentuan panjang gelombang maksimum asam salisilat dan operating time.
Pembuatan kurva baku asam salisilat dalam darah. Darah diambil dari bagian vena kelinci sesuai dengan petunjuk no. 4.

Perlakuan pada kelinci:
Kelinci dicukur pada daerah punggung seluas sekitar 20 cm2 dengan panjang 5 cm dan lebar 4 cm.
Pada bagian yang telah dicukur itu dioleskan salep asam salisilat sebanyak 0,1 gram.
Salep ditutup dengan alumunium foil dan dibalut dengan kain kassa.
Pengambilan sampel darah dilakukan pada menit ke 15, 30, 45, 60, 90, 180 konsentrasi asam salisilat dalam plasma ditentukan seperti pada nomor 3 di atas.
Untuk percobaan yang lain, stratum korneum dikurangi jumlah lapisannya dengan jalan stripping.
Stratum korneum diambil dengan cara menempelkan kertas isolasi pada kulit yang telah dicukur bulunya beberapa kali
Untuk percobaan ini, stripping dilakukan sebanyak 5 kali.
Pengambilan sampel darah
Darah diambil dari vena di bagian telinga kelinci sebanyak 2 mL. Vena bagian telinga dilukai dengan pisau dan darah yang menetes ditampung dalam ependrof yang di dalamnya diisi dengan sedikit EDTA. Darah yang tertampung ini sebentar-sebentar digoyang-goyangkan agar tercampur dengan EDTA dan darah tidak menjendal.
Sejulah 0,5 mL darah yang diperoleh itu ditambah pereaksi Trinder sebanyak 5 mL lalu dicampur. Disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 25 menit.
Bagian plasma dipisahkan dan ditempatkan dalam suatu tabung, dibaca serapan pada panjang gelombang 540 nm.
Dilakukan analisis yang saa terhadap sampel darah blangko.
Konsentrasi obat dalam campuran dapat ditentukan dari kurva baku.

Menentukan perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistematis (Westgard dkk, 1978; Brettscheider dan Gloccke, 1983)
Sediaan larutan salisilat dalam plasma 25, 100, dan 200 µg/mL, masing=masing 3 replikasi.
Ke dalam 0,5 mL darah yang sudah diberi antikoagulan, dengan 4,0 mL Pereaksi Trinder. Dibaca serapannya pada panjang gelombang 540 nm.
Dibandingkan dengan larutan baku salisilat, dan ditentukan kadar masing-masing. Dihitung kadar rata-rata dan simpangan bakunya.
Perolehan kembali
Dihitung perolehan kembali (recovery) dan kesalahan sistematik tiap besaran kadar
Perolehan kembali =  × 100 % = P %
Kesalahan sistematik = 100 – P %
Kesalahan acak
Dihitung kesalahan acak (random analytical error) untuk tiap besaran kadar
Kesalahan acak =  × 100 %

V.                ANALISIS CARA KERJA
Digunakan hewan uji kelinci karena struktur kulit kelinci mirip dengan manusia. Pada praktikum ini dilakukan stripping untuk mengurangi lapisan stratum agar bekerja maksimal. Diberikan EDTA untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. HgCl2 untuk mengendapkan protein. HCl sebagai asam kuat yang dapat menetralkan larutan. FeNO3 digunakan sebagai pengompleks warna sehingga memudahkan untuk pembacaan absorbansi. Natrium salisilat berkhasiat sebagai analgetik (pereda nyeri). Perlakuan strippingdan non stripping untuk membandingkan dan mengetahui pengaruh stratum korneum merupakan penghalang penetrasi salep ke dalam sirkulasi darah. Fungsi dari sentrifuge adalah memisahkan protein dengan plasma sehingga didapat cairan atau supernatant yang akan diukur pada spektrofotometer dengan  540 nm. Tujuan dibalut dengan kain kasa adalah untuk mencegah kontaminasi obat dari pengaruh luar agar obat dapat diabsorbsi dengan sempurna dan untuk mengurangi gesekan udara/benda dari luar, sehingga dapat mengurangi jumlah obat yang menempel pada punggung kelinci tersebut. Pengambilan sampel darah pada menit ke 10, 20, 30, 45, 60, dan 90 untuk mengetahui jumlah obat.

VI.             HASIL PERCOBAAN
1.      Nama bahan obat        : Salep Na Salisilat
2.      Berat salep                  : 2 gram
3.      Kurva baku                 : y = 0,122x – 0,0275
4.       max                          : 592 nm
5.      Operating time            : 5 menit
6.      Sampel obat                :
T(menit)
STRIPPING
NON STRIPPING
Absorbansi
Pengenceran
Kadar
(mg/mL)
absorbansi
pengenceran
Kadar
(mg/mL)
15
0,016
1
0,356
0,072
1
0,815
30
0,015
1
0,348
0,019
1
0,381
45
0,035
1
0,512
0,040
1
0,553
60
0,039
1
0,545
0,025
1
0,430
75
0,042
1
0,570
0,027
1
0,446
90
0,043
1
0,578
0,034
1
0,504
120
0,050
1
0,635
0,041
1
0,561
150
0,058
1
0,701
0,049
1
0,627


*Maaf ya teman-teman, laporannya saya publish sampai hasil percobaan aja soalnya bagian perhitungan sampai kesimpulan ada revisi dan saya belum sempat merevisinya, dari perhitungan ada kesalahan yang sangat berpengaruh ke grafik, pembahasan, dan kesimpulan :(.

3 komentar:

  1. sangat membantu sekali.. makasih
    tolong daftar pustaka nya dicantumkan.. terima kasih ^^

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat tp alngkah baiknya bagian pembahasan dan kesimpulan yg telah direvisi segera dipublish di sini .... salam mahasiswa farmasi

    BalasHapus
  3. pakai sitasi dong cin

    BalasHapus