What do you want?

Rabu, 04 Desember 2013

Bajuku, Diriku!

          Kita memang bukan boneka Barbie, yang selalu tampil cantik, berbadan langsing, dan punya sejuta koleksi pakaian di lemarinya. Normal kalau kita ingin menjadi seperti Barbie. Sempurna dan tanpa cela. Tapi kita bisa kok, jadi Barbie versi kita sendiri! Merasa cantik berarti merasa puas dan bahagia akan diri sendiri. Kenakan pakaian yang membuat kita merasa nyaman dan cantik tentunya. Belanja kebutuhan pakaian, sepatu, atau aksesori kita sesuai dengan keinginan diri sendiri. Nggak perlu beli baju dengan alasan supaya cowok inceran kita terpesona. Kalau kita terlihat happy dengan apa yang kita kenakan, percaya deh, kita akan terlihat lebih cantik. Remember, happiest girls are the prettiest!
     
     Cara kita berpakaian dan memilih pakaian tentu akan mendefinisikan gaya dan kepribadian kita. Kata “feminine” dan “cewek banget” akan menjadi label kita kalau kita senang pakai rok atau dress ke mana-mana. Kata “cuek banget” juga akan menjadi label kita kalau ke mana-mana hobinya hanya pakai sandal. Kata “fashionable” juga akan mampir ke diri kita kalau kita berganti-ganti gaya dan berani bermain dengan warna dalam pakaian.
          
    Labeling itu penting. Dan nggak ada efek apa-apa? Eiits! Tunggu dulu. Bagi yang merasa dunianya bersentuhan dengan dunia fashion tentu menganggap ini sesuatu yang penting. Apakah hanya desainer, model, ataupun public figure saja yang harus peduli dengan penampilan? The answer is no. Bagi kita yang ingin terjun ke dunia profesional atau bisnis pun penting untuk punya selera dalam berpakaian. Kenapa disarankan untuk tampil dengan ‘baik’ dalam berbagai kesempatan? Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan bertemu orang penting dalam hidup kita. First impression itu yang selalu mereka katakan.
          
    Dengan mengenakan setelan yang nyaman, enak dilihat, dan sesuai dengan tempat dan waktu, kita bisa mencuri perhatian dalam berbagai kesempatan. Misalnya, seorang calon pegawai yang datang wawancara kerja dengan wajah yang kucel dan berpakaian kusut akan memiliki hasil wawancara yang berbeda dibandingkan dengan calon pegawai yang datang dengan wajah segar dan pakaian yang rapi (ingat, bukan mahal, lho). Walaupun tingkat kepandaian mereka sama, kesan yang didapat akan berbeda. Calon pegawai yang tampil lebih rapi akan dinilai dapat menuntaskan pekerjaannya dengan rapi pula.
           
        Ada yang bilang kalau kita harus keluar dari zona nyaman atau comfort zone kita. Tapi lain hukumnya kalau kita membicarakan pakaian. Saya percaya, when it comes to showing skin, stay in your comfort zone!! Contohnya, hanya kita sendiri yang bisa megukur tingkat kenyamanan kita saat menggunakan rok pendek. Tapi ingat, hidup bermasyarakat pun juga punya ‘aturan’ yang tidak tertulis. Walaupun merasa nyaman, berhati-hatilah dalam berpakaian, khususnya ke sekolah, kampus, kantor, atau institusi-institusi lainnya.
                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar