What do you want?

Senin, 06 Januari 2014

Pendakian Kedua: Tahun Baru di Gunung Lawu

“Akhirnya, saya bisa menutup tahun 2013 dan menyambut tahun 2014 di salah satu puncak gunung di Indonesia. Akhirnya, saya bisa melihat indahnya letusan kembang api tahun baru di salah satu ketinggian di pos gunung Lawu. Dan akhirnya, saya bisa menjumpai puncak dan tugu Hargo Dumilah, serta merasakan badai di gunung untuk yang pertama kalinya…” – Salam dari puncak tertinggi gunung Lawu, 3.265 mdpl.

Kali ini tahun baru yang paling istimewa menurut saya karena baru kali ini saya tidak mengisi tahun baru saya dengan hura-hura melainkan dengan hobi baru saya yaitu mendaki gunung dan usaha untuk mencapai puncak gunung Lawu agar paginya saya bisa melihat sunrise pertama di tahun 2014.

Gunung Lawu (3.265 mdpl) terletak di pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu memiliki 3 puncak yaitu Puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling, dan Puncak Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah adalah puncak tertinggi dari gunung ini. Sementara jalur pendakiannya memiliki 2 jalur yaitu jalur Cemoro Kandang dan jalur Cemoro Sewu. Menurut cerita, perbedaan kedua jalur ini yaitu pada jalur Cemoro Kandang melewati Hargo Dalem dan menjumpai warung Mbok Yem, jalannya landai dan tidak banyak track, medannya bukan bebatuan melainkan tanah dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk sampai di puncak. Sedangkan Cemoro Sewu tidak melewati Hargo Dalem dan warung Mbok Yem, memiliki medan yang sebagian besar/pada umumnya bebatuan yang telah tersusun seperti anak tangga, terjal, menanjak, dan hanya sedikit jalan landai namun cepat sampai puncak. 

Pada pendakian kali ini, saya diajak oleh tetangga saya yang bernama Andi, dia adalah salah satu mahasiswa POK UNS semester 5, lantas saya mengajak teman sekelas saya di Farmasi yang bernama Cyci. Andi mengajak saya 10 hari sebelum keberangkatan kami. Katanya kami akan mendaki bersama teman-temannya yang juga mahasiswa POK UNS yang tergabung dalam kumpulan SALEWA SOLO. Waktu itu saya masih galau mau ikutan apa nggak, karena melihat cuaca Solo yang hampir setiap hari hujan. H-1, epatnya tanggal 30 Januari 2013 saya pastikan saya dan Cyci ikut dan segera membeli dan mempersiapkan ini itu untuk keberangkatan. Pendakian kali ini, saya dan Cyci memiliki misi pembuktian kepada beberapa orang bahwa kami bisa mencapai puncak gunung Lawu.
Anggota tim, foto 8 dari 13 orang di basecamp Gunung Lawu

Tim pendakian kami berjumlah 13 orang dengan kaptennya yaitu Mas Benny. Pendakian simulai sekitar jam 22.30. suasana pendakian sangat ramai sekali waktu itu walaupun hujan belum kunjung reda. Kami memilih jalur pendakian Cemoro Sewu.

GERBANG – POS 1
Ketika kami berjalan memasuki gerbang, jalan masih bebatuan koral yang tersusun rapi, jalan masih landai, belum terjal sama sekali, hanya ada tanjakan dan turunan yang kecil. Dari gerbang menuju POS 1 dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 1 jam.


POS 1 – POS 2
Dari pos 1 ke pos 2 kira-kira menghabiskan waktu 1,5 jam. Jalan yang ditempuh mulai terjal dan menanjak, jarang ada jalan landai. Jalan berbentuk bebatuan yang telah tersusun seperti anak tangga namun terjal dan berliku-liku. Pada medanpendakian gunung ini, kita lumayan susah mencari tempat berkemah kecuali di pos. ketika kami sampai pos 2 sekitar pukul 12 lebih, kami bisa melihat indahnya kembang api pertanda tahun baru 2013 telah berakhir. Menurut saya, indah sekali m=bisa melihat kembang api dari gunung, ya layaknya bukit bintang di Jogja. Di pos 2, beberapa anggota tim kami yaitu Via, mas Yusuf, dan 1 orang lagi tidak melanjutkan perjalanan ke pos 3 karena capek dan mereka sudah pernah pergi ke puncak gunung Lawu beberapa waktu lalu, selain itu angin juga berhembus lumayan kencang.

Beberapa foto ketika sampai di pos 2 ketika menuruni gunung Lawu




POS 2 – POS 3
Kami memutuskan melanjutkan perjalanan meskipun mata saya sudah benar-benar berat. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 adalah perjalanan yang paling panjang daripada pos-pos lain. Kami menempuhnya dalam waktu 2 jam. Jalan masih menanjak dan terjal,  seringkali di tengah perjalanan kami menemui pendaki-pendaki lain yang tertidur di anak tangga. Eh, bukan mereka saja namun kami juga. Hehehe kami sampai pos 3 pada jam 3 pagi.

POS 3 – POS 4
Jalan menjadi lebih terjal dan menanjak. Ada yang bilang kalau jalur pos 3 ke pos 4 itu kemiringannya mencapai 70 derajat dan ini medan tersulit selama pendakian. Memang, terasa lelah sekali. Setiap 5 sampai 7 langkah melewati anak tangga kami berhenti untuk neristirahat, tidak jarang kami tertidur meskipun hanya 1 menit hehe. Perjlanan ini kami tempuh dalam waktu sekitar 1 jam lebih dan akhirnya kami sampai di pos 4. Waktu telah menunjukkan pukul4 lebih.

POS 4 – POS 5
Angin berhembus semakin kencang, namun kami tetap semangat karena kami sudah tidak sabar ingin melihat matahari pertama di tahun 2014. Selain itu, selama perjalanan dari pos 4 ke pos 5 kami n=bisa melihat pemandangan beberapa kota di Jawa Tengah meskipun keadaan masih remang-remang. Hmm… akhirnya kami sampai pos 5, pos dimana pendaki-pendaki banyak mendirikan tendanya di sini. Nyaris tim kami tidak kebagian tempat mendirikan tenda. Saya langsung melihat para pendaki-pendaki lain yang telah menunggu terbitnya matahari, namun sayang kami kurang beruntung. 1 Januari 2014 sekitar pukul 5 pagi, keadaan pos 5 gunung Lawu berkabut, mendung, hujan namun tidak terlalu deras, dan berangin. Kami hanya bisa melihat kabut putih tebal. Mas Benny, Andi, dan Mas Narwan langsung mendirikan tenda. Gunung Lawu terkenal dengan suhunya yang dingin sekali dan bisa mencapai suhu 8 derajat celcius bahkan lebih rendah lagi.

Tidak ada sunrise. Hujan, angin :(

Para pendaki yang ngecamp di pos 5

Foto di tenda sama Cyci :D


Mas Benny memasakkan mie goreng buat kita :D

POS 5 – PUNCAK HARGO DUMILAH
Pukul 6 pagi, tenda rampung didirikan, kami semua langsung tidur. Tapi, saya dan Eka tidak bisa idur karena menggigil. Hujan semakin deras ditambah dengan angin. Sekitar pukul 11 kami bangun dan mas Benny measakkan mie goreng untuk kami. Kami masih bingung ingin memutuskan untuk pergi ke puncak atau tidak karena di luar tenda masih hujan dan sangat dingin. Berangsur-angsur hujan mulai reda, saya, Eka, Cyci, mas Narwan, dan ditemani mas Benny yang notabene sudah tahu jalan ke puncak segera bersiap-siap untuk melakukan perjlanan menuju Hargo Dumilah. Sementara itu, Andi tinggal di tenda karena kondisi badan kurang fit. Jalan menuju puncak melewati Sendang Drajat. 
jalan menuju puncak dari pos 5
Ketika kami memulai langkah beberapa meter, angin berhebut sangat kencangnya, sehingga membuat Cyci memutuskan untuk tidak ikut ke puncak. Mas Narwan menemani Cyci kembali ke tenda sehingga hanya tinggal aku, Eka, dan Mas Benny saja. Kami terus berjalan melewati bebatuan yang sudah rapi sekali tersusun. Perjalanan menuju Sendang Drajat tidak terlalu terjal. Setengah jam kemudian kami samapai Sendang Drajat dan mas Benny mengisi botol air minum dengan air dari Sendang Drajat. Mas Beny menemani saya dan Eka menuju puncak Hargo Dumilah, medan yang dilalui berupa bebatuan seperti perjalanan ke Sendang Drajat, kemudian setengahnya berupa tanah yang menanjak (seperti perjalanan dari Sabana 2 ke puncak Trianggulasi gunung Merbabu). Yep, dengan tekad, target, dan tujuan membuat saya semangat untuk benar-benar sampai ke puncak tertinggi gunung Lawu dan bisa menjumpai tugu Hargo Dumilah. Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di puncak tertinggi dengan cuaca yang hujan ditambah dengan angin. Hasil foto-foto kamipun di sana tidak terlalu bagus, karena lensa kamera saya berembun karena suhu udara yang terlalu rendah. Kami hanya sebentar berada di puncak lalu bergegas turun kembali lagi ke pos 5 untuk packing dan mempersiapkan perjalannan turun.





Eka, mas Benny, dan saya di tugu Hargo Dumilah. Hujan dan angin waktu itu.

TURUN
Selesai packing dan semua anggota tim kami sudah siap untuk perjalanan turun. Kebetulan di pos 5 waktu itu badai. Baru kali ini saya merasakan badai di gunung, yang benar-benar membuat saya menggigil kedinginan. Pukul 14.30 kami mulai turun dari pos 5. Perjalanan turun memang memerlukan waktu lebih cepat dari pada mendaki. Perjalanan dari pos 5 menuju basecamp bisa kami tempuh dalam waktu sekitar 3 jam sedangkan ketika kami mendaki, kami memerlukan waktu 7 jam untuk sampai di pos 5. Alhamdulillah, pendakian kedua untuk saya kali ini lancar dan bisa memijakkan kaki di puncak tertinggi gunung ini, Hargo Dumilah (3.265 mdpl).
Foto dari pos 5. Maunya foto di puncak, namun di puncak hujan dan angin sehingga tidak bisa ngeluarin kertas :( huhu


Terimakasih anak-anak POK UNS dan SALEWA SOLO yang sudah mengajak saya tahun baruan di puncak Gunung Lawu. Ini benar-benar hal baru yang sangat istimewa untuk saya.
(Gunung Lawu, 31 Desember 2013 – 1 Januari 2014)
Salam…

2 komentar:

  1. Sumpah, ini keren. Banget :)) Semoga suatu hari dimasa depan aku juga ada kesempatan bisa kesana, meski impian utaman tetep semeru, tapi gak ada salahnya mimpiin kesini juga :)) Kamu, kerenlah :D

    BalasHapus
  2. Wuehehe... Makasih Icha :)
    aku juga pengen ke Semeru, Rinjani, Kerinci, tapi aku belum yakin sama fisikku :(.
    Aku masih pemula soalnya hihi...
    Aku ini ketagihan mendaki, awalnya iseng-iseng aja ikutan mendaki gunung Merbabu :D
    Kamu udah mendaki gunung mana aja Cha?
    Makasih ya udah komen :))
    Ayo ke gunung-gunung di Jawa :D hihi

    BalasHapus