What do you want?

Senin, 17 Maret 2014

Candi Sukuh


Di gerbang Candi Sukuh
     Menjelajah tempat-tempat wisata yang berada di lereng Gunung Lawu memang mengasyikka. Saya cukup sering mengunjungi daerah ini. Di sini cukup banyak obyek-obyek wisata yang harus dikunjungi, hahaha. Seperti beragam air terjun, kebun teh, atau ingin mendaki gunung Lawu? Hahaha. Namun kali ini saya dan sahabat saya ingin mengunjungi salah satu candi dari beberapa candi yang ada di sana, yaitu Candi Sukuh. 

Kondisi di dalam candi

           30 Januari 2014, tepatnya siang hari kami mengunjungi tempat wisata ini. Berbekal informasi dari Google tentunya, maklum waktu itu adalah baru dimulainya libur semester jadi kami belum memiliki rencana untuk liburan keluar kota, dan alternatifnya adalah menuju kawasan lereng Gunung Lawu ini :D karena ada beberapa tempat wisata yang belum sempat kami kunjungi di sana :D.


                Menurut cerita, Candi Sukuh adalah salah satu candi yang paling menarik di Asia Tenggara. Candi ini penuh dengan ornamen erotis dan yang tidak kalah unik adalah bangunannya mirip dengan pyramid Suku Maya di Amerika Tengah. Namun, candi ini belum banyak diketahui orang mungkin karena leaknya yang terpencil di lereng Gunung Lawu pada ketinggian lebih dari seribu meter dpl. 

 
Candi Sukuh terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tiket masuknya seharga Rp 2.500,00 untuk wisatawan domestik, dan Rp 10.000,00 untuk wisatawan asing. Obyek wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIB. 



             1,5 jam lebih kurang perjalanan dari kota Solo menuju Desa Sukuh menggunakan kendaraan pribadi, mungkin agak terlalu lama memakan waktu karena waktu itu saya dan sahabat saya bertanya-tanya terlebih dahulu dengan orang-orang sekitar letak tepatnya obyek wisata tersebut :p. tetapi jika menggunakan kendaraan umum seperti bus, dari Terminal Tirtonadi Solo, bisa naik bus jurusan Solo – Tawangmangu dan turun di Karang Pandan, dilanjutkan dengan minibus jurusan Kemuning dan disambung dengan ojek hingga ke kawasan candi.



                Kompleks candi ini tidak begitu luas, menempati sebindang tanah berundak, gapura utama Sukuh tidak berada di tengah melainkan di sebelah kanan depan. Sisi kanan dan kiri dihiasi dengan beberapa relief. Sebuah tangga batu yang cukup tinggi membawa kami ke lorong gapura yang ternyata dihalangi dengan rantai. Untuk naik ke teras kedua, kami harus turun lagi dan berjalan memutar lewat sebelah kanan. Dari teras kedua barulah nampak dengan jelas bentuk relief di sisi gapura ini. Salah satunya adalah gambar seekor burung garuda yang kaki-kainya mencengkeram seekor naga. Dan yang mengherankan adalah adanya relief beberapa sosok manusia dalam keadaan polos, tanpa berbuasana sama sekali. Sesuatu yang cukup mencengangkan jika mengingat budaya timur yang sangat kental dengan norma susila di Indonesia. 








relief dan patung-patung di dalam kawasan candi



                Yang menarik dari candi ini adalah arsitekturnya yang berbeda. Jika candi-candi lain dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru, maka Candi Sukuh memiliki tampilan yang sangat sederhana dengan bentuk trapesium. Konon ceritanya, candi ini dibangun pada abad ke 15, beberapa saat sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit. Candi ini lebih menyerupai piramida suku bangsa Maya di Amerika Tengah. Mungkinkah dua suku bangsa berbeda dari dua benua yang berbeda bisa membuat bangunan dengan arsitektur dan desain yang nyaris sama? Ataukah memang ada pengaruh dari suku Maya dalam pembangunan Candi Sukuh  pada masa pemerintahan Raja Brawijaya ini?

              Berbagai teori dan dugaan pun bermunculan. Salah satunya menye utkan bahwa candi ini dibangun pada masa-masa ketika kejayaan Hindu mulai memudar. Sebagai akibatnya, pembangunan Candi Sukuh dibuat dengan konsep kembali ke budaya megalitikum pra sejarah. Teori lain menyebutkan bahwa bentuk candi ini merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, yaitu kitab pertama Mahabharata. Sebuah piramida yang ouncaknya terpotong melambangan Gunung Mandaragiri yang puncaknya dipotong dan dipergunakan untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta yang bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang meminumnya.



             Berbagai misteri dan pertanyaan memang masih menyelimuti Candi Sukuh. Tak hanya sekedar berjalan-jalan di lereng gunung yang sejuk sambil menikmati arsitektur kuno dari candi terakhir yang dibangun di Pulau Jawa, namun juga berkeliling mencari jejak cerita :D. 

bye...bye...

2 komentar:

  1. ketika Blogger ASEAN di Solo, saya tidak kebagian jatah untuk kunjungan ke Candi Sukuh dan trip kedua hanya mengunjungi Meseum Purbakala - wah sedih juga kalau lihat dan baca artikel ini - cantik banget ya.... semoga liburan tahun ini bisa ke candi sukuh deh sekalian Gn Lawu

    BalasHapus
  2. hehe... iya, di tawangmangu dan Karanganyar banyak sekali obyek-obyek wisata alam.
    mendaki gunung Lawu monggo :D hehe iya amin, semoga jadi ya mas...
    :D

    BalasHapus