What do you want?

Jumat, 14 Maret 2014

Pendakian Ketiga: Kembali Lagi ke Puncak Hargo Dumilah (3.265 mdpl)



Gunung Lawu, 28 Februari 2014 – 2 Maret 2014

Ini adalah kali pertama saya mendaki mendadak dan hanya berlima. Kembali lagi ke puncak tertinggi Lawu ‘Hargo Dumilah’ untuk yang kedua kalinya. 2 malam ngecamp di pos 5 dan beberapa meter di bawah puncak membuat saya dan teman-teman dengan puasnya mencumbu sunrise + sunset 1 Maret 2014, sunrise 2 Maret, dan berada di atas lautan awan. Indah sekali!
Minggu, 2 Maret 2014

Halo readers… sampai sekarang saya masih menikmati hobi baru saya yang satu ini ‘mendaki’. Iya, cuma hobi sih dan saya belum memikirkan lebih jauh untuk menjadi pecinta alam atau petualang sejati, haha karena saya juga masih mempertimbangkan dan berkompromi dengan fisik saya yang belum terlalu kuat dan belum terlalu terlatih dan terbiasa dengan alam serta tentunya masih ingat kuliah :D.

Yap, beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 28 Februari saudara saya mengajak saya untuk mendaki. Maaaaaau bangeeeeeet, kebetulan saya waktu itu sedang rindu-rindunya mendaki, sudah 2 bulan saya tidak mendaki. Namun, ajakan ini termasuk mendadak. Awalnya saudara saya ingin naik ke Merapi, namun setelah mencari-cari info ternyata di Merapi belum boleh ke puncak dan jika mendaki hanya boleh sampai Pasar Bubrah (Pasar Setan) saja. Ya sudah, alternatif lain adalah mendaki Lawu saja, karena itu adalah gunung yang dekat dari Solo. 1 hari sebelum keberangkatan saya masih bingung mau ikut apa tidak karena ya ada masalah tersirat dari hati ke hati, hahaha. Tapi, Jum’at siang, 28 Februari 2014 saya memastikan untuk ikut. 2 jam sebelum mendaki saya baru memutuskan dan langsung bersiap-siap membeli keperluan logistik.

Foto di depan gerbang pendakian melalui jalur Cemoro Sewu

Kembali lagi seperti pendakian Lawu yang pertama kali ketika tahun baru, saya mendaki bersama anak-anak POK UNS lagi, tetapi hanya dengan Andi, Gaplek, dan Mahindro (Slank) saja. Siap, ditambah dengan Eka kami mulai pendakian pada pukul 22.30 melewati jalur Cemoro Sewu. Beda sekali dengan pendakian Lawu pada tahun baru yang cuacanya saat itu sangat tidak mendukung, iya kami mendaki ditemani oleh rintik-rintik hujan+angin+kabut, namun pada pendakian kali ini kami ditemani dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit, hari itu sangat cerah sekali, memang pas sekali untuk mendaki.

Kami sampai pos 5 (tempat yang biasanya digunakan pendaki-pendaki untuk nge-camp) pada pukul 04.10 pagi. 5,5 jam kami mendaki. Hari itu tepat tanggal 1 Maret 2014. Tidak hujan sih tapi dinginnya tetap saja sangat mengigit. Andi, Gaplek, dan Slank segera mendirikan tenda lalu tidak lama kemudian kami melihat siratan merah mahameru di langit, hmmm itu pasti sunrise. Kami segera melangkah ke tempat yang memang cocok untuk menikmati dan menyaksikan tahap demi tahap sang surya keluar dari peraduannya. Indah sekali! Baru kali ini saya bisa dengan puasnya menikmati sunrise pagi di gunung, maklum pada pendakian-pendakian sebelumnya kami kurang beruntung dan cuacanya tidak terlalu mendukung. Capek dan dinginnya saat mendaki benar-benar terbayar jika telah melihat jingganya kekuasaan Allah yang satu ini. 
Sunrise 1 Maret 2014 di pos 5




Tentu, kami tidak lupa foto-foto ketika itu, namun setelah itu kami segera kembali ke tenda. Gaplek memasakkan kami mie goreng, setelah itu kamipun tertidur. Beberapa jam kami tertidur, kami bangun dan merasakan hawa panas di dalam tenda karena memang hari itu benar-benar panas dan cerah. Jadi ingat ketika tahun baru lalu kami kena badai yang cukup kencang di pos 5 ini. Kami meutuskan untuk melnjutkan perjalanan ke puncak tertinggi gunung Lawu “Hargo Dumilah”. Namun, kami mampir sebentar di Sendang Drajat untuk mengambil air.

Sekitar 1 jam perjalanan ke Hargo Dumilah, namun sayang sekali di sana kabut. Kami lalu turun beberapa meter dari puncak. Kami memutuskan untuk menginap lagi 1 malam di puncak gunung karena kami ingin lagi melihat sunrise minggu pagi besok. Iya, tanggal 2 Maret kami baru akan turun ke basecamp. Kami kembali mendirikan tenda, makan siang, dan sorenya kami kembali ke tugu Hargo Dumilah untuk menyaksikan sunset. Alhamdulillah, kami bisa melihat dan menyaksikan sunset dari puncak tertinggi gunung ini. Langit yang biru ditambah awan yang berwarna merah bercampur orange benar-benar sangat indah.



Malam minggu berlima muncak dengan udara dingin yang merasuk membuat kami tidak bisa tertidur lelap malam itu. Hari minggu, sekitar pukul 04.00 pagi Gaplek membangunkan kami berempat untuk bersiap-siap melihat sunrise. Sleeping Bag yang menghangatkan tubuh kami membuat kami enggan untuk beranjak dari tenda dan berjalan beberapa meter ke tugu Hargo Dumilah. Yaaah, tidak ingin melewatkan kesempatan yang bisa dibilang jarang ditemui, kami pun langsung beranjak ke puncak. Sekitar pukul 04.45 kami sudah menunggu di puncak. Semburat warna merah bercampur kuning di langit pun tidak lama mulai nampak. ‘Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?’ 1 keindahan alam ini pun tidak akan bisa diciptakan manusia. Sangat merasakan bersatu dengan alam waktu itu, damai dan indah sekali. Benar-benar bisa merasakan kekuasaan Tuhan, keindahan alam, serta biru dan hijaunya Indonesia, dan yang pasti menurut saya hanya dengan inilah saya bisa kembali berucap syukur dan syukur bisa kembali dipersatukan dengan alam yang begitu kayanya. 


Kami berlima di puncak Hargo Dumilah

Bertemu pendaki-pendaki lain
Beberapa saat setelah itu, kami disuguhkan oleh pemandangan yang begitu menakjubkan “di atas lautan awan”. Saya juga suka sekali melihat ketika awan berada di bawah kita namun kita tetap berpayungkan birunya langit yang cerah ditambah dengan sinar matahari yang perlahan-lahan menghangatkan tubuh kita sembari membunuh dinginnya udara gunung.

Di atas awan :D

Banyak juga orang-orang bilang, jika kita sudah sampai di tugu Hargo Dumilah dan mendaki dengan hati yang ikhlas, maka berdo’alah, insya Allah do’a kita akan dikabulkan oleh Yang Esa. Yap, tidak lupa kami berdo’a di sana :D

Setelah menikmati semuanya, kami pun kembali ke tenda. Gaplek kembali memasakkan kami mie instant. Setelah kami makan kamipun berkemas-kemas untuk turun ke basecamp. Sayang sekali, ketika kami perjalanan turun, cuaca tidak mendukung, kami kehujanan. Namun tidak apa-apa, ini juga salah satu bagian perjalanan yang harus dilalui sewaktu mendaki. 
Gaplek memasak mie :D
Eka, saya, dan Slank di dome

Perjalanan turun ke basecamp melewati jalur Cemoro Sewu
Jam 11.30 kami mulai perjalanan turun, dan sekitar jam 14.00 kami sampai basecamp. Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih selama 3 jam. Alhamdulillah, pendakian yang benar-benar dakanan namun sangat mengesankan. Terimakasih Eka, Andi, Gaplek, dan Slank. Semoga kita bisa mendaki bersama-sama lagi di waktu selanjutnya…

Salam…

1 komentar: