What do you want?

Minggu, 05 Oktober 2014

GUNUNG CIREMAI VIA APUY – 3.078 MDPL



-Secarik pengalaman dari atap Jawa Barat…-
3.078 mdpl

16-18 Mei 2014
            Pendakian dadakan, persiapannya saja kurang dari seminggu, yup tepatnya hanya 3 hari sebelum keberangkatan. Tanggal 16 Mei 2014, Jum’at malam sekitar pukul 8 malam kami berlima dari Bandung (saya, Selo, Nagib, Sani, dan Yogi), kemudian bertemu teteh Tya dan Aa dari garut yang ingin berbarengan dengan tim kami ke sana. Kami segera mencari elf jurusan Majalengka waktu itu, karena kami ingin mendaki Ciremai via Apuy. Setelah mendapat elf dan sepakat tawar-menawar dan negosiasi urusan biaya elf, perorang 25ribu rupiah, kami pun segera berangkat menuju Majalengka. Perjalanan Bandung – Majalengka kurang lebih 5 jam.

            Pukul 2 dini hari (Sabtu, 17 Mei 2014) kami tiba di terminal Majalengka, kemudian kami mencari pick-up untuk mengangantarkan kami  ke basecamp Ciremai via Apuy dan pos 1 Ciremai. Pick-up pun kami dapatkan dengan mudah, setelah bernegosiasi soal harga kami membayar 20ribu rupiah setiap orang. Perjalanan dari terminal Majalengka – basecamp Ciremai sekitar 45 menit. Di basecamp kami mengurus administrasi terlebih dahulu dengan biaya 10ribu perorangnya. Perjalanan pun kami lanjutkan ke pos 1 Ciremai dengan menggunakan pick-up yang tadi, karena jalanannya masih berupa aspal dan tanah yang lumayan lebar yang dikelilingi oleh ladang-ladang sayur penduduk. Ternyata dari basecamp ke pos 1 lumayan jauh, dengan menggunakan elf saja kami habiskan waktu sekitar setengah jam sampai 45 menit dengan jalan tanah yang licin sehingga sesekali beberapa orang dari kami harus turun agar pick-upnya kuat menanjak. Akhirnya kami sampai di pos 1, kami disambut oleh gerbang pendakian yang di sampingnya terdapat beberapa pondok penjual. Kami segera bersiap-siap mendaki sekitar pukul 04.30 pagi.
dengan pick-up melewati ladang penduduk

POS 1 – POS 2
            Treknya tanah dengan rerumputan rimbun, sesekali kami bertemu jembatan kecil. Setelah kami berjalan kurang lebih 1 jam, kami beristirahat agak lama untuk menunggu subuh. Tidak bias melihat keindahan sunrise sama sekali karena kami ditutupi oleh rimbunnya pepohonan. Lalu kami meneruskan perjalanan. Kali ini trek disominasi oleh jalan yang sudah sangat jelas namun tanahnya selalu lembab bahkan basah, seringkali kami menemukan ulat bergelantungan dari pohon, hiiih…. 1,5 jam berjalan kami pun menemukan pos,  iyeey pos yang kami kira pos 2, eh ternyata pos 2 bayangan. Awalnya kami sudah senang sekali, kami sudah buka matras, tidur, bahkan makan bekal nasi+ayam yang kami beli di Bandung tadi malam. Setelah kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit, eeeh baru ketemu pos 2 yang asli. -_- waktu itu pukul 09.30 pagi.
POS 1

Istirahat di Pos 1


POS 2 – POS 3 (Tegal Masawa)
            Kami hanya beristirahat sebentar di pos 2 karena kami sudah beristirahat lama di pos 2 bayangan. Pos 2 – pos 3 kami tempuh sekitar 2 jam. Kelompok pendakian pun terpecah. Nagib dan Sani yang duluan karena ingin cepat-cepat sampai Goa Walet (tempat camp) karena takut tidak dapat lahan camp, lalu di belakangnya ada saya, Selo, dan Yogi, dan tepat paling belakang ada teteh Tya danAa’nya. Treknya landau dan masih tanah namun suasana hutan sangat terasa sekali di sini, udara lembab dan rimbunnya pepohonan menemani perjalanan kami k epos 3. Sekitar jam setengah 11 lebih atau kurang dikit saya, Selo, dan Yogi pun sampai di pos 3 yang dinamakan TEGAL MASAWA, sementara teteh Tya dan Aa’nya masih tertinggal di belakang.
di Pos 2 bayangan

 
POS 3 - Tegal Masawa
POS 3 (Tegal Masawa) – POS 4 (Tegal Jamuju)
            Kami hanya beristirahat sebentar di pos 3, hanya dengan duduk dan berfoto beberapa kali. Perjalanan kami lanjutkan ke pos 4, treknya hampir sama seperti dari pos 2 ke pos 3. Sekitar pukul 12 siang kami sampai di pos 4 yang dinamakan TEGAL JAMUJU, kami menempuh perjalanan 1,5 jam dari pos 3.
 
POS 4 - Tegal Jamuju
POS 4 (Tegal Jamuju) – POS 5 (Sanghyang Rangkah)
            Perjalanan dilanjutkan ke pos 5 dengan trek tanah yang agak landau kemudian tanjakan-tanjakan yang lumayan terjal. Pos 5 berupa hamparan tanah yang dikelilingi pepeohonan yang lumayan luas, bisa untuk mendirikan tenda 3 sampai 4 tenda. Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 kami tempuh lebih kurang 1 jam, sehingga pukul 1 siang kami sampai di pos 5 yang dinamakn SANGHYANG RANGKAH.



POS 5 - Sanghyang Rangkah

Pertigaan palang Apuy dan Palutungan
Pos 5 (Sanghyang Rangkah) – Pos 6 (Goa Wallet)
            Kondisi fisik kami bertiga (saya, Selo, dan Yogik) mulai menurun, sementara teteh Tya dan Aa’nya tertinggal di belakang dan tidak terlihat, kami juga berpikir Nagib dan Sani sudah sampai di Goa Wallet. Kami istirahat agak lama untuk makan siang dengan makanan seadanya, yaitu roti tawar dengan susu. Trek semakin menanjak dan terjal, tanah bercampur batu-batu sedang, pepohonan besar pun mulai jarang. Waktu itu sekitar pukul 2 siang, kami terus berjalan, trek kali ini terasa panjang sekali, lama kami berjalan belum juga bertemu palang panah dari papan berwarna kuning yang menunjukkan dan memisahkan jalur Ciremai via Palutungan dan Apuy.sekitar pukul setengah 4 sore kami pun sampai di palang petunjuk tersebut, beberapa kali jepret foto, Yogik meninggalkan saya dan Selo. Kali ini treknya lebih menguras tenaga, berupa batuan yang terbentuk dari lava yang membeku. Sekitar 1 jam kami berjalan dan sering kali berhenti untuk beristirahat dan akhirnya pukul setengah 5 sore kami sampai di tempat camp para pendaki Ciremai yaitu pos 6 atau GOA WALLET dengan ketinggian 2.950 mdpl, butuh waktu sekitar 1 jam lagi atau 0,3 km menuju puncak Ciremai dengan trek yang sangat terjal berupa bebatuan. Namun, kami bermalam terlebih dahulu di Goa Wallet untuk beristirahat, makan, tidur, dan memulihkan badan kembali. GOA WALLET berupa hamparan tanah yang cukup luas untu menampung hingga 8 tenda, terdapat goa di sudut yang cukup besar, air menetes dari goa tersebut. Usai memasak kami pun tidur hingga esok pagi pukul 5 kami bersiap menuju puncak Ciremai.
GOA WALLET



POS 6 (Goa Wallet) – Puncak Ciremai (3.078 mdpl)
            Kami semua terbangun dan bersiap-siap menuju puncak Ciremai pada pukul 5 pagi dengan membawa bekal secukupnya dalam 1 daypack. Trek masih berbatu hingga puncak namun lebih terjal. Namun, akhirnya sekitar pukul 6 kami semua sampai di puncak Ciremai yang merupakan tanah tertinggi atau gunung tertinggi di Jawa Barat “atap Jawa Barat” seringkali orang-orang menyebutnya. Alhamdulillah, 3.078 meter di atas permukaan air laut. Sedikit tidak beruntung, kabut menutupi sunrise -_- kami berada di puncak sekitar 3 jam untuk menikmati keagungan Tuhan dengan ciptaanNya, tentu saja berfoto-foto ria sendiri-sendiri dan bersama pendaki-pendaki lain.


    
Teh Tya dan Aa'

Selo, Icha, Yogi

Kita berlima dari Bandung :))

suasana puncak



memoriam pendaki @ puncak Ciremai

Kawah mati Ciremai = Ciremai tidak aktif lagi

       Pukul 9 pagi kami kembali ke Goa Wallet untuk makan pagi dan packing turun. Pukul 12 semua anggota dari kami siap untuk menuju pos 1 gunung Ciremai. Kami kehujanan selama turun, perjalanan turun ditempuh dalam waktu 4 jam dari Goa Wallet ke pos 1. Kembali menaiki pick-up untuk kembali ke terminal Majalengka dan mencari elf untuk kembali ke kota Bandung.




selfie boy-boy

yang baju kuning digendong, anak kecil aja udah sampai puncak

“Benar-benar perjalanan panjang untuk saya bersama teman-teman baru (teman-teman Selo: Nagib, Sani, dan Yogi), serta teteh Tya dan Aa’nya (kenalan Nagib dari Twitter) hehe…
Terimakasih kalian semua…”




1 komentar:

  1. Halo Medisa,selamat pagi dan Asslm... Saya mau nanya soal pendakian ke Gunung Ciremai nih,kalau jalur Linggarjati berapa waktu yang ditempuh? Dijawab ya..

    BalasHapus