What do you want?

Senin, 06 Oktober 2014

Gunung Merapi Via Selo



9 – 10 Agustus 2014
 
Mas Iwan, mas Novi, Icha, mbak Uti, mas Adira
            Hai, hai, ke gunung ini lagi kedua kalinya, ketemu trek berbatu, berpasir lagi. Trek unik dan khas Merapi yang aku suka. Yap, Gunung merapi dengan ketinggian 2.913 mdpl yang merupakan gunung berapi teraktif di Indonesia bahkan katanya teraktif di dunia. Terletak di dunia provinsi yaitu Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jalur pendakiannya pun ada dua yaitu via Selo (Boyolali, Jawa tengah) dan kaliurang (Yogyakarta). Namun, jalur pendakian resmi via Kaliurang sudah ditutup, tinggalah via Selo sebagai jalur resmi satu-satunya.

            Puasa dan lebaran pun usai. Lama nggak hiking dan lagi seneng-senengnya juga nih. Eh, mendadadak ada yang ngajakin ke Merapi yaitu mas Novi (Mas Bandeng), Mas Iwan (Mas Panjul), dan mas Adira (Mas Bedor). Karena saya males jadi cantik sendiri diantara 3 cowok itu hahaha, saya pun mengajak mbak Uti, Mbak Uti sudah lama banget penget naik gunung, kesempatan nih hehe sekalian nemenin aku. Kami pun naik dengan tim yang beranggotakan 5 orang, yaitu: saya, mbak Uti, mas Bandeng, mas Panjul, dan mas Bedor.

            Sabtu (9 Agustus 2014), siang hari kami menuju basecamp Merapi yaitu BASECAMP BARAMERU untuk bersiap mendaki. Administrasi beres kami pun sekitar jam 4 sore memulai pendakian. Jalanan menanjak dari basecamp menuju New Selo cocok untuk pemanasan sebelum mendaki Merapi. Sampai di New Selo kami berhenti sebentar untuk beristirahat, sekitar setengah 5 sore kami memulai pendakian dengan melewati ladang-ladang penduduk dan memasuki hutan.

            Dari New Selo ke Pos 1 kami menghabiskan waktu 1 jam, hari belu gelap pukul setengah 6 sore. Kami beristirahat sejenak di pos 1 (pos 1 berupa gerbang besi berwarna hijau tua, beberapa meter di sampingnya terdapat shelter berupa pondok). Kemudian melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan sebelum sampai pos 2 kami beristirahat lagi untuk menunggu adzan Magrib. Banyak pendaki yang turun waktu itu, sepertinya Merapi sangat ramai. Ketika kami mendaki pun banyak berpapasan dengan pendaki yang juga ingin menuju puncak Limas (puncak tertinggi Merapi).

Sekitar pukul 8 kami sampai di pos 2, pos yang berupa shelter dengan atap seng yang beberapa sengnya hilang tertiup angina kencang. Kami hanya duduk-duduk sebentar di sana dan melanjutkan perjalanan. Jalanan masih tanah hingga beberapa waktu kemudian kami menemukan jalan menanjak yang perlahan-lahan terjal berupa bebatuan yang mudah runtuh. Batunya beukuran bervariasi, dari yang kecil, sedang, hingga besar sehingga kami mesti memanjatnya.

Tidak terasa sudah pukul 10.00 malam, akhirnya kami hamper sampai tempat camp, tidak jauh dai Pasar Bubrah. Kami segera membuka tenda, masak lalu tidur dan sepakat pukul 4 pagi akan menuju Pasar Bubrah dan puncak Merapi.

Tuing… tuing…. Alarm menunjukkan pukul 4 pagi, kami segera bersiap untuk menuju Pasar Bubrah. Sayang sekali, di tengah perjalanan mbak Uti dangat kedinginan, kami semua ketakutan jika terjadi apa-apa. Sesampainya di Pasar Bubrah, kami menitipkan mbak Uti ke tenda pendaki yang baik hati agar mbak Uti beristirahat dan menghangatkan diri. Sementara yang pergi ke puncak hanya saya, mas Panjul, dan mas Bedor. Mas Novi menemani mbak Uti di tenda.
 
Mbak Uti menunggu di tenda Pasar Bubrah

Latar belakang gunung Merbabu
Aksi mas Novi

Trek ke puncak benar-benar berpasir dan bebatuan kerikil. Seringkali ketika melangkah malah melorot dan turun lagi. Di tengah usaha-usaha kami menuju puncak, kami disambut oleh matahari pagi yang sinarnya bisa menghangatkan tubuh kami. Perjalanan dari Pasar Bubrah ke Puncak merapi (Puncak Limas) bisa ditempuh dalam waktu 1 jam sampai 1,5 jam. Di sini sangat berhati-hati dan selalu waspada apabila ada reruntuhan batu dari atas. Jadi ingat, pertama kali ke Merapi barengwaktu ulang tahun mbak Shaqib bareng Dieppo, Eka, dan pacar mbak Shaqib. Namun pendakian kami tidak sampai puncak dan hanya sampai Pasar Bubrah saja dikarenakan keadaan Merapi yang lagi ngambek, hahahaha…. :p





Sunrise ketika pendakian menuju puncak Limas

Pukul 7 pagi saya dan kedua mas-mas sampai di puncak tertinggi Merapi. Yeaaay…. Puncak Limas. Puncak yang begitu mainstream menurut saya. Tepat disamping puncak berbatasan langsung dengan kawah yang begitu lebar dan asapnya selalu mengepul-ngepul. Ngeri! Kebayang nggak kalo jatuh ke sana?! Hiih… =.= lebih kurang 1,5 jam kami di puncak untu memuaskan diri berfoto-foto ria, lalu kami pun turun. Banyak dijumpai bule di sini, bule yang begitu kuat haha.





puncak Merapi (puncak Limas)

jangan lupa selfie :D

Perjalanan turun dari puncak Merapi ke Pasar Bubrah lumayan sulit. Kaki dipenuhi pasir dan bebatuan. Perjalanan turun dari tempat camp ke new Selo pun termasuk sulit menurut saya, karena saya seringkali terjatuh dan terpleset karena licin dengan tanah-tanah dan pasir yang kering.




kakipun sampai tenggelam di pasir

view Merbabu dari Merapi




ketika perjalanan turun

Big thanks to mas Bandeng, mas Panjul, mas Adira, dan mbak Uti yang menyempurnakan perjalanan saya ke Merapi. Hmmm… jadi udah puas ke Merapi, akhirnya bisa sampai puncak juga. Big hug buat kalian semua {} :*
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar