What do you want?

Minggu, 05 Oktober 2014

GUNUNG PAPANDAYAN (2.665 MDPL)



“Mungkin bagian terkecil dari Surga yang terselip di bumi…”



7-8 Juni 2014
            Bagian terkecil dari Surga yang mungkin terselip di bumi… hanya itu yang bisa saya katakana ketika melihat indahnya Tegal Alun di gunung Papandayan. Ohya, sebelum berbicara jauh tentang Tegal Alun, saya akan menjelaskan terlebih dahulu garis besar tentang gunung Papandayan ini. Gunung Papandayan adalah gunung berapi aktif  dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan air laut, terletak di Garut, Jawa Barat. Gunung ini cocok sekali untuk pendaki pemula, untuk hiking, dan camping ceria.

CAMP DAVID


        Mungkin saya di sini lebih banyak bercerita tentang keindahan gunung ini karena untuk treknya lumayan mudah untuk dilewati. Dari basecamp yang dinamakan basecamp DAVID kita diharuskan mengurus administrasi dan mendaftarkan diri terlebih dahulu dengan biaya 10ribu. Oya jika dari Bandung akses transportasi bisa menggunakan elf sampai terminal Garut dengan biaya 25ribu perorangnya, waktu tempuh 3-4 jam, lalu dari terminal Garut diteruskan dengan menggunakan pick-up atau ojek menuju camp David (basecamp Papandayan) dengan waktu tembuh 30 sampai 45 menit. Sebenarnya jika berombongan bisa naik pick-up dan hanya membayar 15ribu perorang, tapi tergantung negosiasi dengan sopir pick-upnya juga sih, itu kalau rombongannya 10 sampai 14 orang. Namun karena kami cuma berdua dari Bandung, maka kami memutuskan menggunakan ojek sampai camp David dengan biaya 20ribu perorang.




TREK PAPANDAYAN DI AWAL
            Oke, mulailah pendakian ke gunung cantik ini. Dari basecamp treknya landau dan tidak ada pohon 1 pun, yang kita lihat di sekeliling hanyalah tanah bebatuan kecil hingga sedang, di pinggir-pinggir banyak terdapat kawah-kawah kecil yang mengeluarkan belerang dan asap, bau belerang sangat menyengat ketika kita melewati jalur ini. Kurang lebih 1,5 jam kita bertemu dengan pohon-pohon yang lumayan besar dan jalan masih saja landau sampai bertemu posko dan warung di pertigaan pendakian. Kami beristirahat di tempat teduh di pertigaan tersebut lalu meneruskan pendakian ke tempat camp yang sering digunakan para pendaki yang dinamakan PONDOK SALADAH

PONDOK SALADAH
            Pukul 15.30 sore waktu itu kami sampai di Pondok Saladah. Pondok Saladah merupakan hamparan tanah luas dengan tebing-tebing yang sangat eksotis. Eits, di sini juga ada wc nya loh, ada satu atau dua penjual makanan juga di sini. Kami mendirikan tenda di sini bersama pendaki lain yang sangat ramai. Sore-sore sekitar pukul 16.30 kami berjalan-jalan mengelilingi Pondok Saladah, menikmati bunga-bunga Edelweissnya yang waktu itu berwarna kuning. Sungguh indah sekali :’)
Suasana camp Pondok Saladah

            Malam itu, selepas magrib, suasana tempat camp itu, Pondok Saladah semakin ramai dengan suara-suara dan genjrengan gitar para pendaki. Malam itu cerah, gemerlap bintang melengkapi malam yang istimewa ini, jarang bisa melewati malam bahagia seperti ini.
            Pukul 5 pagi saya terbangun, tapi masih malas untuk beranjak meninggalkan tenda dan berburu sunrise, mata saya pun tertutup kembali. Sekitar pukul 6 pagi, kami benar-benar meninggalkan tenda untuk menikmati dan memburu tempat-tempat eksotis di Papandayan.
1.      Sunrise di Hutan Mati
Kami bergegas, matahari masih malu-malu menampakkan seluruh cahayanya. Kami menyusuri jalan-jalan yang di pinggirnya tumbuh bunga edelweiss setinggi saya dan pohon-pohon yang lumayan besar. Sampailah kami di hutan mati. Kata para pendaki, tempat paling yahut di Papndayan untuk menikmati sunrise adalah Hutan Mati. Tepat ketika kami di Hutan mati, bulatnya matahari menunjukkan keeksisannya. Sungguh indah penglihatan ini, pohon-pohon di Hutan Mati tampak meliuk-liuk dengan berlatar belakang bulatnya matahari. Indah dan menawan! :’)
2.      Tegal Alun
Hamparan bunga Edelweiss yang sangat sangat indah. Ini yang saya sebut “bagian surgA yang terselip di bumi…” padang Edelweiss yang sangat luas setelah Surya kencana di gunung Gede. 





TEGAL ALUN


3.      Kembali ke Hutan Mati
Setelah berlama-lama bercumbu dengan Edelweis, kami pun kembali turun untuk menikmati pesona Hutan Mati Papandayan. Langit biru tanpa ada awan menambah indahnya Hutan mati. Udara panas, gosong di kulit semua bisa terbayar jika telah melihat semuanya. Setelah puas dengan semuanya, kami kembali ke Pondok Saladah untuk makan pagi dan berkemas-kemas untuk turun dan kembali ke camp David. 




HUTAN MATI (DEATH FOREST)

Perjalanan yang sungguh-sungguh Indah. Papandayan adalah gunung terindah yang pernah saya kunjungi. Papandayan adalah setitik kecil Surga Allah yang terselip di bumi. 

Foto-foto keindahan Papandayan juga bisa dilihat di sini, plus foto narsis kita... hihi klik aja:
Papandayan Cantik! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar