What do you want?

Rabu, 22 Oktober 2014

Sensasi Pagi di Bukit Sikunir



30-31 Mei 2014
Merasakan sunset di atas awan di desa tertinggi di Pulau Jawa – Sembungan Village
Melihat proses munculnya lampu semesta yang sempurna “Golden Sunrise” – Bukit Sikunir
 
Selamat datang di Bukit Sikunir :D
Halo…
Ada yang ngajakin jalan-jalan nih, yeeey…yeeey… aku suka banget sama travelling! Sabtu (30 Mei 2014), aku, mbah Yusuf, mbak Poi, beserta pacarnya yaitu mas Linuk cuss Wonosobo. Kita pengen nyusurin Dieng.Mulai dari Kawah Sikidang, Candi Arjuna, Telaga Warna, lalu berujung ke Bukit Sikunir. Di sini aku pengen cerita panjang lebar soal Bukit Sikunir, hehe.

Bukit Sikunir sudah terkenal dengan  tempatnya yang sangat pas untuk menyaksikan momen matahari terbit. Dari sini ada yang bilang bisa lihat 11 gunung, tapi aku cuma bisa lihat 8 atau 9 gunung hehe. Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan, Dieng, Wonosobo.

Waktu itu pukul 5 sore, saya dan teman-teman masih di perjalanan dari Candi Arjuna menuju desa Sembungan. Di tengah perjalanan, aku sebagai pembonceng mendadak usil lihat ke belakang, eh ternyata indah sekali pemandangan di belakangku, di atas motor aku bisa menikmati pemandangan sunset di atas awan. Baru kali ini nggak usah naik gunung dulu udah bisa menikmati pemandangan di atas awan. Hawa semakin dingin sore itu, sekitar 15 menit mengendarai motor akhirnya kami sampai di gerbang yang bertuliskan “WELCOME TO SEMBUNGAN VILLAGE, DESA TERTINGGI DI PULAU JAWA”.Pantes aja udah bisa ngeliat sunset di atas awan, wong ini desa tertinggi di pulau Jawa kok :p. Menurut informasi yang saya dapat, desa Sembungan ini berada pada ketinggian sekitar 2.400an mdpl. Wow, gunung Guntur di Jawa Barat aja nggak setinggi desa ini :D.
 
nih, desa tertinggi di pulau JAWA :D

gapura desa tertinggi, SEMBUNGAN VILLAGE

Jalan menuju tempat parkir dan pembelian tiket memasuki Bukit Sikunir kondisinya aspal berlobang, berbatu, lobangnya gede-gede pula -_- kasian banget yang motornya matic. Padahal ada yang bilang kalo Bukit Sikunir ini tempat yang paling indah melihat sunrise se-Asia, Bromo aja kalah. Eh malah kondisi jalannya begini -.- sedikit mengecewakan. Coba aja kondisi jalan dan komodasi ke sananya bagus, pasti pengunjung/wisatawan makin rame juga, jalannya jelek gini aja pengunjung tetep banyak loh!

Tepat di waktu magrib kami sampai di tempat pemarkiran motor Bukit Sikunir. Terlihat ramai sekali para pengunjung yang camping di sekitar Telaga Cebong. Sementara kami masih bingung ingin camp di pinggir Telaga Cebong atau di dekat puncak Bukit Sikunir. Akhirnya kami memutuskan untuk menegakkan tenda di pinggir Telaga Cebong, namun sedikit kecewa, sore itu Telaga Cebong nampak keruh :/. 

Tepat sekali waktu itu malam minggu. Ramai sekali para pengunjung yang nge-camp di sini ditambah lagi ketika sebelum tidur kami sengaja duduk-duduk di dekat tendadan di pinggir telaga, walaupu nmalam itu dinginnya menusuk tetep hajar daaah! Eh mendadak ngeliat lampion yang banyak banget terbang-terbang di tengah gelapnya langit malam itu, indah sekali gemerlapnya! Lampion yang sempat aku hitung hingga angka 14, eh habis itu males nghitung lagi gegara banyak banget! :p sekitar pukul 10 malam kami beranjak tidur karena sekitar pukul setengah 5 pagi kami berniat ingin memburu sunrise di puncak Sikunir.

Kriiiing… Kriiingggg… Kringgggg… alarm BlackBerryku berbunyi. Sudah pukul 4 pagi, kami pun bersiap untuk menuju puncak Sikunir. Perjalanan menuju puncak pun ramai sekali dan kadang-kadang macet :/ perjalanan dari tempat parkir ke puncak bisa ditempuh dalam waktu 30 menit sampai 45 menit, tergantung jalannya cepet atau nggak, banyak istirahat atau ngebut sampai pucuk, haha. Kondisi jalannya beraspal dan batu-batu yang sudah disusun di awal perjalanan, namun beberapa menit kemudian kita menemukan kondisi jalan tanah padat yang menanjak namun agak landai. Kami berempatpun terpisah, aku dengan Mbah, sedang kan mbak Poi dengan mas Linuk.
Finally, setelah berjalan santai di tengah ramainya para wisatawan Bukit Sikunir, sampailah kami di puncaknya.Ada beberapa puncak yang pas untuk menyaksikan matahari terbit, namun puncak Sikunir sangat khas ditandai dengan pondok tanpa atapnya, di bawah pondok itu ada beberapa penjual makanan seperti gorengan dan mie instan, dan minuman hangat.Gileeee…. Bener-bener rame dah! Kayak pasar pindah ke bukit, haha. 
nih liaaat... rame banget keun?! nungguin sunrise

Memang benar-benar indah sekali menyaksikan lampu semesta yang mulanya malu-malu untuk menampakkan sinarnya dari bukit ini.Benar-benar melihat pada layar lebar tanpa batas.Tidak ada yang menghalangi penglihatan.Sinar matahari berwarna jingga kemerahan pun akhirnya muncul. Bola bulat berwarna jingga kekuningan pun telah nampak sempurna. Eh… foto jangan lupak! Hahaha :P
Aku dan Mbah juga menyusuri bukit ini, berpindah dari puncak satu ke puncak lainnya, berfotodenganlatar belakang Gunung Sindoro yang nampak gagah, melihatpemandangantelagaCebongdaripuncak, dan ternyatapagi itu air telaga Cebong berwarna biru karena pantulan biru cerah warna langit waktu itu. Udara sejuk juga melengkapi perjalanan kami turun dari bukit, namun tentu saja kami menuruni bukit ini beramai-ramai lagi dengan wisatawan lain.
nih sunrisenya :D



 
khasnya Sikunir tuh ada pondok tanpa atap :D
Sampai tenda, cari makanan karena perut sudah lapar, mbak Poi dan mas Linuk beberapa saat kemudian juga sampai tenda.Masak apa pag ituuuu? Masak telor ceplok, masak nasi, dan makannya pake sambel pecel, uuuw… sungguh enak! Apa aja enak deh kalo namanya laper, haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar