LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI
VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR
VITAMIN C DALAM TABLET
SECARA ALKALIMETRI DENGAN
POTENSIOMETRI AUTOTITRATOR
Disusun oleh:
Kelompok : B2
Anggota :
Desty Ririn R. K100110031
Oka Gagaz P. K100110035
Eldesi Medisa I. K100110038
Yeni Cristiana K100110040
Yeni Cristiana K100110040
Korektor :
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR
VITAMIN C DALAM TABLET
SECARA ALKALIMETRI DENGAN POTENSIOMETRI
AUTOTITRATOR
I.
TUJUAN
·
Mampu menganalisis penetapan kadar
vitamin C
·
Mampu melakukan validasi metode analisis
dengan menggunakan potensiometri autotitrator
II.
DASAR
TEORI
Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan
fisika kimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial
elektroda indikator. Besarnya elektroda indikator ini tergantung pada
konsentrasi ion-ion tertentu dalam larutan.
Pada dasarnya semua titrasi (baik titrasi asam-basa,
titrasi kompleksometri, titrasi pengendapan dan titrasi redoks) dapat diikuti
dengan potensiometri dengan bantuan elektroda indicator dan elektroda
pembanding. Dengan demikian kurva yang diperoleh dengan menghubungkan antara
potensial terhadap volume titran yang ditambahkan akan mempunyai kenaikan yang
tajam disekitar titik ekivalen, sehingga dari grafik bisa diperkirakan TAT.
Titrasi potensiometri sangat berguna ketika tidak
ada indicator yang sesuai untuk menentukan TAT dan ketika daerah titik ekivalen
sangat pendek sehingga tidak ada indicator yang cocok. Harga potensial yang
diperoleh dapat diubah sedemikian rupa sehingga dapat disajikan dalam nilai pH,
PM dan PE. Kurva titrasi yang diperoleh dalam percobaan sering kali serupa
dengan kurva teoritis. (Gandjar&Rohman, 2007).
Titik
akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapakan volume
dimana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan,
titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran
secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik
terhadapvolum titran untuk diperoleh suatu kuva titrasi. Dalam banyak hal,
suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda
gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH-meter ini telah menjadi
demikian biasa, maka pH-meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi,
bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan. (Basset, 1994)
Tablet Vitamin C dengan nama lain Acidi
Ascorbici Compressi atau Tablet Asam Askorbat mengandung Asam Askorbat C6H8O6,
tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera
pada etiket. (Anonim, 1995).
Untuk penetapan keseragaman sediaan
dengan cara keseragaman bobot, pilih tidak kurang dari 30 satuan, dan lakukan
sebagai berikut untuk sediaan yang dimaksud. Untuk tablet tidak bersalut,
timbang saksama 10 tablet, satu per satu, dan hitung bobot rata-rata. Dari
hasil penetapan kadar, yang diperoleh seperti yang tertera dalam masing-masing
monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-masing dari 10 tablet dengan
anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Kecuali dinyatakan lain dalam
masing-masing monografi, persyaratan keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat
aktif dalam masing-masing dari 10 satuan sediaan seperti yang ditetapkan dari
cara keseragaman bobot atau dalam keseragaman kandungan terletak antara 85,0%
hingga 115,0% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif kurang
dari atau sama dengan 6,0%. Jika 1 satuan terletak di luar rentang 85,0% hingga
115,0% seperti yang tertera pada etiket dan tidak ada satuan terletak antara
rentang 75,0% hingga 125,0% dari yang tertera pada etiket, atau jika simpangan
baku relatif lebih besar dari 6,0% atau jika kedua kondisi tidak dipenuhi,
lakukan uji 20 satuan tambahan. Persyaratan dipenuhi jika tidak lebih dari 1
satuan dari 30 terletak diluar rentang 85,0% hingga 115,0% dari yang tertera
pada etiket dan tidak ada satuan yang terletak di luar rentang 75,0% hingga
125,0% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif dari 30 satuan
sediaan tidak lebih dari 7,8%. (Anonim, 1995)
Linieritas merupakan kemampuan suatu
metode untuk memperoleh hasil-hasil uji yang secara langsung proporsional dengan
konsentrasi analit pada kisaran yang diberikan. Linieritas suatu metode
merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang menghubungkan antara respon
(y) dengan konsentrasi (x). Evaluasi linieritas paling baik dicirikan dengan
metode uji kurva respon. Suatu alur yang menyatakan hubungan antara konsentrasi
analit dengan responnya seringkali linier pada konsentrasi tertentu. (Snyder et
all,1997)
Presisi merupakan ukuran kedekatan antar
serangkaian hasil analisis yang diperoleh dari beberapa kali pengukuran pada
sampel homogen yang sama. Konsep presisi diukur dengan simpangan baku. Presisi
dapat dibagi lagi menjadi 2 atau 3 kategori. Komisi Eropa membagi presisi ke
dalam keterulangan (repeatibility) dan ketertiruan (reproducibility).
Keterulangan merupakan presisi pada kondisi percobaan yang sama (berulang) baik
orangnya, peralatannya, tempatnya, dan dilakukan dalam interval waktu yang
pendek. Keterulangan sering dirujuk sebagai pengukur. Ketertiruan menggambarkan
presisi yang dilakukan pada percobaan yang berbeda, baik orangnya,
peralatannya, tempatnya, maupun waktunya. Presisi antara menyatakan presisi
yang dilakukan pada laboratorium yang sama pada hari yang berbeda oleh analis
yang berbeda. Tujuan parameter ini adalah untuk memastikan pada laboratorium
yang sama metode akan menyediakan hasil yang tidak berbeda nyata. (Watson,2007).
Akurasi adalah kesesuaian hasil uji yang
didapat dari metode tersebut dengan nilai yang sebenarnya, dengan kata lain
akurasi ukuran ketepatan dari hasil suatu metode analitik. Akurasi sering
dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) dari suatu pengujian
terhadap penambahan sejumlah analit dengan jumlah yang diketahui, syarat dari
perolehan kembali adalah 95 %-105 %. (USP,1995).
III.
ALAT
DAN BAHAN
»
ALAT
1. Potensiometer
dengan autotritator
2. Bekker
glass
3. Statif
dan Klem
4. Pengaduk
magnetic
5. Pipet
tetes
6. Mortir
dan Stamfer
7. Neraca
analitik
8. Pipet
ukur
9. Pipet
volume
10. Pro
pipet
»
BAHAN
1. Tablet
Vitamin C
2. Larutan
Vitamin C (zat aktif)
3. NaOH
4. Larutan
dapar 4 dan 7
5. Air
bebas CO2
6. Aquadest
IV.
PROSEDUR
RESMI
Hati-hati
dalam menghancurkan tablet vitamin C dalam bekker glass denagn batang pengaduk.
Vitamin C akan mengoksidasi di udara dan sangat penting untuk menggunakan
sample tablet dalam analisis oleh karena itu tutup botol setelah mendapat
sampel.
Dilarutkan
sampel vitamin C dalam 100 mL air suling. Dihangatkan untuk mendegradasi
vitamin C. Ingat bahwa partikel pengikat tidak akan larut.
Dikalibrasi
pH meter sesuai dengan petunjuk menggunakan pH buffer standart 4 dan 7.
Peralatan elektron harus dicuci dengan aquadest sebelum dan sesudah digunakan. Jangan
mengeringkan elektroda.
Ditempatkan
magnetic stirrer dibawah elektroda, diberi jarak 2-3 inchi dari ruang ekstra.
Kemudian posisi elektroda di dalam 250 mL bekker glass yang mengandung vitamin
C dan tempatkan batang pengaduk pada bekker glass. Hati-hati meletakkan pengaduk
dalam bekker glass.
Buret
diatur sehingga posisi buret sedekat mungkin dengan permukaan larutan.
Ditambahkan
2-3 tetes PP indikator fenolftalein dan
dimulai titrasi.
Saat
titrasi berlangsung melewati titik ekivalen, perubahan volume dan pH akan
ditunjkkan dengan perubahan warna pada indicator.
Dibilas
elektroda, kemudian diulang analisis baru untuk vitamin C.
Dikembalikan
elektroda ke bekker glass yang mengandung buffer pH 4. Jangan biarkan elektroda
dibawah bekker glass.
V.
SKEMA
TAHAPAN KERJA
A. Pembuatan larutan baku NaOH 0,1N
Ditimbang
4,001 gram NaOH
↓
Dilarutkan
dalam Aqua Bebas CO2
↓
Diadkan
hingga 1000ml
B. Pembakuan larutan baku NaOH 0,1N
Ditimbang
lebih kurang 300mg kalium biftalat secara seksama yang sebelumnya telah
dikeringkan
↓
Dimasukkan
dalam dalam erlenmeyer
↓
Ditambahkan
45ml aquadest bebas CO2
↓
Dikocok
hingga larut semua
↓
Dititrasi
dengan larutan NaOH dengan indikator PP sampai berubah warna menjadi merah
C. Penetapan kadar zat dalam sampel
Ditimbang
lebih kurang 100mg asam askorbat secara seksama
↓
Dilarutkan
dalam air bebas CO2 ad 300ml
↓
Dinyalakan
alat autotitrator yang telah dilakukan kalibrasi sebelumnya
↓
Dititrasi
dengan larutan NaOH 0,1N
↓
Dicatat
volume titran yang dibutuhkan
↓
Dihitung
kadarnya
↓
Dihitung
kesesuaian kadarnya
*Cara
Kalibrasi alat PH meter
Disiapkan
2 macam larutan dapar PH 7 dan PH4 , aquadest
↓
Dikeringkan
elektroda sebelum dipakai
↓
Dicuci
elektroda dengan aquadest 3 kali dan dilap menggunakan kertas tissue
↓
Dihubungkan
arus listrik dengan voltase yang tepat dan sumber arus yang telah dilewatkan
pada stabiliser (220v)
↓
Ditekan
tombol "ON" dan dibiarkan lebih kurang selama 5 menit untuk pemanasan
↓
Diatur
suhunya sesuai dengan suhu yang tertera pada botol larutan dapar,dengan cara
menekan tombol MTC set
↓
Diisi
dengan angka yang sesuai suhu yang akan diset
↓
Dicelupkan
elektroda pada larutan dapar PH 4,diputar tombol PH 4(SLOPE) sampai pada layar
menunjukkan PH 4,00 dan dikeringkan dengan tissue
↓
Dicelupkan
kedalam aquadest dan dikeringkan dengan tissue
↓
Dicelupkan
elektroda pada larutan dapar PH 7,diputar tombol PH 7(CAL) sampai pada layar
menunjukkan PH 7,00 dan dikeringkan dengan tissue
↓
Dicuci
elektroda dengan aqudest sampai bersih dan kering
↓
PH
meter sudah siap digunakan
D. Parameter Linieritas
Ditentukan
bobot rata-rata tablet vitamin C
↓
Ditimbang
sejumlah sampel sesuai dengan prosedur,dibuat 7 titik kadar dengan range 70% -
130%
↓
Dilarutkan
dengan air bebas CO2 add 300 ml,kemudian diletakkan diatas pegaduk magnetik,dan
pengaduk dijalankan tanpa menggunakan pemanasan dengan kecepatan sedang
↓
Dilakukan
kalibrasi terhadap alat potensiometri
↓
Dilakukan
titrasi dengan alat autotitrator
↓
Dicatat
volume titran yang dibutuhkan
↓
Dihitung
kadarnya
↓
Setelah
didapatkan volume titrasi,dihitung kadar senyawa dalam sampel
↓
Data
diolah dengan menggunakan regresi linier antara kadar terhitung vs volume
titran
↓
Dihitung
nilai r, keberterimaannya adalah jika nilai r > 0,98
E. Parameter Ripitabilitas
Ditentukan
bobot rata-rata tablet
↓
Ditimbang
sejumlah sampel setara 100 mg vitamin C sebanyak 7 kali
↓
Dilarutkan
dengan air bebas CO2 add 30 ml, kemudian diletakkan diatas pengaduk magnetik,
pengaduk dijalankan tanpa pemanasan dengan kecepatan sedang
↓
Dilakukan
kalibrasi terhadap alat potensiometri
↓
Dilakukan
titrasi dengan alat autotitrator
↓
Dicatat
volume titran yang dibutuhkan
↓
Setelah
didapatkan volume titrasi,dihitung kadar senyawa dalam sampel
↓
Dihitung
nilai RSDnya dari 7 kadar sampel yang di dapat, keberterimaannya jika nilai RSD
< 2%
F. Parameter Presisi Antara
Dilakukan
pada hari yang berbeda dari ripitabilitas
↓
Ditimbang
sejumlah sampel setara 100 mg vitamin C sebanyak 7x
↓
Dilarutkan
dengan air bebas CO2 add 300 ml, kemudian diletakkan diatas pengaduk magnetik,
pengaduk dijalankan tanpa pemanasan dengan kecepatan sedang
↓
Dilakukan
kalibrasi terhadap alat potensiometri
↓
Dilakukan
titrasi dengan alat autotitrator
↓
Dicatat
volume titran yang dibutuhkan
↓
Setelah
didapatkan volume titrasi,dihitung kadar senyawa dalam sampel
↓
Dihitung
nilai RSDnya dari 7 kadar sampel yang di dapat, dilihat tingkat kedekatan hasil
uji pada kondisi perubahan yang berbeda dengan parameter ripitabilitas dengan
keberterimaannya jika nilai RSD < 2%
G. Parameter Akurasi
Ditentukan
bobot rata-rata tablet vitamin C
↓
Ditimbang
sejumlah sampel sesuai dengan prosedur, setara 100 mg Vitamin C sebanyak 4x
↓
Ditimbang
zat aktif
↓
Tanpa penambahan zat
aktif Penambahan
zat aktif 80% (80 mg)
Penambahan
zat aktif 100% (100 mg) Penambahan
zat aktif 120% (120 mg)
Ditambahkan
kedalam sampel
↓
Dilarutkan
dengan air bebas CO2 add 300 ml,kemudian diletakkan diatas pegaduk magnetik,dan
pengaduk dijalankan tanpa menggunakan pemanasan dengan kecepatan sedang
↓
Dilakukan
kalibrasi terhadap alat potensiometri
↓
Dilakukan
titrasi dengan alat autotitrator
↓
Dicatat
volume titran yang dibutuhkan
↓
Setelah
didapatkan volume titrasi,dihitung kadar senyawa dalam sampel
↓
Dihitung
persen perolehan kembali akurasi
↓
Masing-masing
persen perolehan kembali dari 3 kelompok (kelompok penambahan zat aktif 80%,
100%, 120%).Dihitung RSDnya. Kriteria keberterimaannya adalah jika nilai RSD
< 1% dan angka perolehan kembali antara 98 - 100%
H. Keseragaman Kandungan
Diambil
10 tablet vitamin c secara acak
↓
Ditimbang
satu persatu
↓
Dilakukan
penetapan kadar (masing-masing tablet)
↓
Dihitung
nilai RSDnya ,syarat keterimaan nilai RSD ≤ 6% untuk 10 tablet
Keterangan
:
·
Diterima jika semua 10% α (85%-115%),RSD
≤ 6%
·
Jika ditolak dilakukan penimbangan dan
penetapan kadar 10% tablet lagi dengan syarat keberterimaan 1 dari 10 tablet ≠
(85%,115%) semua sepuluh tablet (75%,125%)
·
Jika memenuhi syarat tersebut maka di
lakukan penimbangan lagi 20 tablet dan dilakukan penetapan kadar kembali.Syarat
keberterimaan 1 - 30 tablet ≠ (85%,115%) semua 30 tablet (75%,125%) RSD 7,8%
VI.
HASIL
DAN PERHITUNGAN
PEMBAKUAN
Orientasi
Berat
zat:301,2 mg
N
= 
=

=
=
0,0977 N
Replikasi
1
Berat
zat = 315,2 mg
N
= 
=

=
=
0,0945 N
Replikasi
2
Berat
zat = 312,0 mg
N
= 
=

=
=
0,0970 N
Replikasi
3
Berat
zat = 305,4 mg
N
= 
=

=
=
0,0955 N
Penetapan
Kadar Vitamin C
N
=
100%
=
100%
=
59,426 % v/b
Kadar
(mg/tab) =
bobot rata-rata tablet
=
133,5
=
79,337 mg/tab
Vitamin
C
Berat
kertas = 266,4 mg
Berat
tablet = 366,3 mg
Kertas
+ sisa = 268,0
Zat = 98 mg
LINIERITAS
Membuat
7 seri kadar dengan range 70%-130%
-
70% x 100 mg = 70 mg.
-
80% x 100 mg = 80 mg.
-
90% x 100 mg = 90 mg.
-
100% x 100 mg = 100 mg.
-
110% x 100 mg = 110 mg.
-
120% x 100 mg = 120 mg.
-
130% x 100 mg = 130 mg.
-
70 %
139,3 =
97,51 mg
-
80 %
139,3 =
111,44 mg
-
90 %
139,3 =
125,37 mg
-
100 %
139,3 =
139,3 mg
-
110 %
139,3 =
153,23 mg
-
120 %
139,3 =
167,16 mg
-
130 %
139,3 =
181,69 mg
-
Zat aktif =
= 
=
71,0696 mg
Perhitungan
70%
Kertas =
0,2433 g
Kertas + zat = 0,3457 g
Kertas + zat sisa = 0,2467 g
Zat =
0,0990 g
N
=
100%
=
100%
= 71,8138 % b/b
80
%
Kertas = 0,2425 g
Kertas + zat = 0,3551 g
Kertas + zat sisa = 0,2440 g
Zat =
0,1111 g
Kadar =
100%
=
100%
= 68,9529 % v/b
Kadar
(mg) = 4,3801
0,0993
176,13 = 76,61 mg
Zat aktif =
= 
= 79,75 mg
90%
Kertas = 0,2310 g
Kertas + zat = 0,3664 g
Kertas + zat sisa = 0,2377 g
Zat = 0,1287 g
N
=
100%
=
100%
= 63,0554 % v/b
Kadar
(mg) = 4,6400
0,0993
176,13 = 81,15 mg
Zat aktif =
= 
= 92,39 mg
100%
Kertas = 0,2544 g
Kertas + zat = 0,4012 g
Kertas + zat sisa = 0,2589 g
Zat = 0,1414 g
N
=
100%
=
100%
= 76,1248 % v/b
Kadar
(mg) = 6,1545
0,0993
176,13 = 107,64 mg
Zat aktif =
= 
= 101,51 mg
110%
Kertas = 0,2471 g
Kertas + zat = 0,4174 g
Kertas + zat sisa = 0,2514 g
Zat = 0,1660 g
N
=
100%
=
100%
= 72,6199 % v/b
Kadar
(mg) = 5,4061
0,0993
176,13 = 94,55 mg
Zat aktif =
= 
= 93,47 mg
120%
Kertas = 0,2471 g
Kertas + zat = 0,4174 g
Kertas + zat sisa = 0,2514 g
Zat = 0,1660 g
N
=
100%
=
100%
= 70,4108 % v/b
Kadar
(mg) = 6,6829
0,0993
176,13 = 116,88 mg
Zat aktif =
= 
= 119,7 mg
130%
Kertas = 0,2416 g
Kertas + zat = 0,426 g
Kertas + zat sisa = 0,2466 g
Zat = 0,1802 g
N
=
100%
=
100%
= 82,4348 % v/b
Kadar
(mg) = 8,4938
0,0993
176,13 = 148,55 mg
Zat aktif =
= 
= 129,52 mg
|
Kadar A (% b/b)
|
Kadar B (zat aktif)
|
Kadar mg
|
Volume titran
|
|
71,8138
|
71,0696
|
71,0957
|
4,0650
|
|
68,9529
|
79,75
|
76,61
|
4,3801
|
|
63,0554
|
92,39
|
81,15
|
4,6400
|
|
76,1248
|
101,51
|
197,64
|
6,1545
|
|
72,6199
|
93,47
|
94,55
|
5,4061
|
|
70,4108
|
119,17
|
116,88
|
6,6829
|
|
82,4384
|
129,52
|
148,55
|
8,4938
|
A
vs B B
vs C B
vs Volume titran
r
= 0,5587 r
= 0,9605 r
= 0,9605
a
= -40,256 a =
-24,89 a =
-1,4239
b = 1,9166 b = 1,2678 b = 0,0725
RIPITABILITAS
Penyetaraan 100mg (zat
aktif) Vitamin C
X = 125, 5mg
v
Penimbangan
zat vitamin C
Berat rata-rata = 141,2 mg/tablet
|
§
Sampel I
Kertas = 255,2 mg
Kertas + zat = 396,8 mg
Kertas + zat
sisa= 256,8 mg
Zat vit C = 140 mg
|
§
Sampel V
Kertas = 248,4 mg
Kertas + zat = 390,8 mg
Kertas + zat
sisa= 248,8 mg
Zat vit C = 142,0 mg
|
|
§
Sampel II
Kertas = 253,1 mg
Kertas + zat = 394,1 mg
Kertas + zat
sisa= 252,9 mg
Zat vit C = 141,7 mg
|
§
Sampel VI
Kertas = 248,8 mg
Kertas + zat = 392,7 mg
Kertas + zat
sisa= 251,7 mg
Zat vit C = 141 mg
|
|
§
Sampel III
Kertas = 248,2 mg
Kertas + zat = 389,2 mg
Kertas + zat
sisa= 248,9 mg
Zat vit C = 140,3 mg
|
§
Sampel VII
Kertas = 252,2 mg
Kertas + zat = 396,3 mg
Kertas + zat
sisa= 254,5 mg
Zat vit C = 141,8 mg
|
|
§
Sampel IV
Kertas = 254,5 mg
Kertas + zat = 397,3 mg
Kertas + zat
sisa= 255,4 mg
Zat vit C = 141,9 mg
|
|
v
Perhitungan
Kadar b/b
Kadar =
x 100 %
|
§
Sampel I
=
=
= 66,029 % b/b
|
§
Sampel II
=
=
= 69,911 % b/b
|
|
§
Sampel III
=
=
= 70,984 % b/b
|
§
Sampel IV
=
=
= 71,801 % b/b
|
|
§
Sampel V
=
=
= 72,740 % b/b
|
§
Sampel VI
=
=
= 70,96 % b/b
|
|
|
§
Sampel VII
=
=
= 67,925 % b/b
|
v
Perhitungan
Kadar mg/tablet
Kadar
= Kadar % b/b x bobot rata” tablet
|
§
Sampel
I
=
= 93,23 mg/tablet
|
§
Sampel
II
=
= 98,714 mg/tablet
|
|
§
Sampel
III
=
= 100,230 mg/tablet
|
§
Sampel
IV
=
= 101,383 mg/tablet
|
|
§
Sampel
V
=
= 102,70 mg/tablet
|
§
Sampel
VI
=
= 101,607 mg/tablet
|
|
|
§
Sampel
VII
=
= 95,91 mg/tablet
|
v
Perhitungan
RSD
|
Kadar
% b/b
SD=
2,334
Ẍ
= 70,05
RSD =
=
=
3,331 %
|
Kadar
mg/tablet
SD
= 3,428
Ẍ =
99,11
RSD =
=
= 3,458 %
|
PRESISI
ANTARA
v Penimbangan zat vitamin C
Berat
rata-rata = 142,26 mg/tablet
|
§ Sampel I
Kertas = 241,0 mg
Kertas + zat = 343,5 mg
Kertas + zat sisa= 244,9 mg
Zat vit C = 98,6 mg
|
§ Sampel V
Kertas = 281,0 mg
Kertas + zat = 388,4 mg
Kertas + zat sisa= 288,1 mg
Zat vit C = 100,3 mg
|
|
§ Sampel II
Kertas = 248,7 mg
Kertas + zat = 355,4 mg
Kertas + zat sisa= 254,8 mg
Zat vit C = 100,5 mg
|
§ Sampel VI
Kertas = 252,7 mg
Kertas + zat = 358,5 mg
Kertas + zat sisa= 260,2 mg
Zat vit C = 71,035 mg
|
|
§ Sampel III
Kertas = 251,8 mg
Kertas + zat = 358,4 mg
Kertas + zat sisa= 257,8 mg
Zat vit C = 100,6 mg
|
§ Sampel VII
Kertas = 250,8 mg
Kertas + zat = 358,1 mg
Kertas + zat sisa= 256,3 mg
Zat vit C = 101,8 mg
|
|
§ Sampel IV
Kertas = 249,8 mg
Kertas + zat = 353,9 mg
Kertas + zat sisa= 253,6 mg
Zat vit C = 100,24 mg
|
|
v
Perhitungan
Kadar b/b
Kadar =
x 100 %
|
§
Sampel I
=
=
= 67,931 % b/b
|
§
Sampel II
=
=
= 68,29 % b/b
|
|
§
Sampel III
=
=
= 72,149 % b/b
|
§
Sampel IV
=
=
= 72,46 % b/b
|
|
§
Sampel V
=
=
= 70,472 % b/b
|
§
Sampel VI
=
=
= 67,96 % b/b
|
|
|
§
Sampel VII
=
=
= 68,556 % b/b
|
v
Perhitungan
Kadar mg/tablet
Kadar
= Kadar % b/b x bobot rata” tablet
|
§
Sampel
I
=
= 96,63 mg/tablet
|
§
Sampel
II
=
= 97,14 mg/tablet
|
|
§
Sampel
III
=
= 102,63 mg/tablet
|
§
Sampel
IV
=
= 103,08 mg/tablet
|
|
§
Sampel
V
=
= 100,25 mg/tablet
|
§
Sampel
VI
=
= 96,67 mg/tablet
|
|
|
§
Sampel
VII
=
= 97,52 mg/tablet
|
v
Perhitungan
RSD
|
Kadar
% b/b
SD=
1,9859
Ẍ
= 69,688
RSD =
=
=
2,8497 %
|
Kadar
mg/tablet
SD=
2,827
Ẍ
= 99,131
RSD =
=
=
2,852 %
|
v
Perhitungan
RSD rata-rata
|
Kadar
% b/b
RSD =
=
= 3,091 %
|
Kadar
mg/tablet
RSD =
=
= 3,155 %
|
AKURASI
|
Penimbangan
|
Tanpa zat
aktif (mg)
|
ZA 80% (mg)
|
ZA 100% (mg)
|
ZA 120% (mg)
|
|
Berat kertas
|
274,5
|
263,3
|
263,7
|
256,3
|
|
Kertas+zat
|
418,9
|
407,0
|
403,1
|
400,1
|
|
Zat+sisa
|
277,5
|
263,6
|
274,5
|
260,1
|
|
Zat
|
141,5
|
143,4
|
128,6
|
140,0
|
ORIENTASI (hasil teoritis)
Tanpa za =
72,1301% x 141,4 = 101,99 mg
80% =
126,9188% x 143,4 = 182,0 mg
100% =
152,7532% x 128,6 = 196,44 mg
120% =
156,7406% x 140,0 = 219,44 mg
HASIL ANALISIS
80%
100mL = 2g
4mL = 0,08g
x 1000
=
80 mg
100%
100mL = 2g
5mL = 0,1g
x 1000
=
100 mg
120%
100mL = 2g
6mL = 0,12g
x 1000
=
120 mg
% Recovery
80% =
x 100% = 100,01%
100% =
x 100% = 94,45%
120% =
x 100% = 97,875%
Perhitungan Manual
Kadar = V x N x BE
Tanpa ZA = 5,7950 x
0,0993 x 176,13 = 101,360 mg
80 % =
10,3410 x 0,0993 x 176,13 = 180,860 mg
100 % =
11,1614 x 0,0993 x 176,13 = 195,189 mg
120 % = 12,4680
x 0,0993 x 176,13 = 218,064 mg
% Recovery
REPLIKASI
|
Penimbangan
|
Tanpa
zat (mg)
|
ZA
80% (mg)
|
ZA
100% (mg)
|
ZA
120% (mg)
|
|
Berat
Kertas
|
258,8
|
269,4
|
263,8
|
257,7
|
|
Kertas+zat
|
405,5
|
413,1
|
409,8
|
400,6
|
|
Kertas+sisa
|
260,3
|
275
|
260,9
|
261,1
|
|
Berat
Zat
|
145,2
|
138,1
|
148,9
|
139,5
|
Tanpa ZA = 73,2121%
x 145,2 = 106,304%
80% =
123,9761% x 138,1 = 171,211%
100% =
127,2424% x 148,9 = 189,464%
120% = 156,5403% x 139,5 = 218,374%
% Recovery
80% =
x 100% = 81,09%
100% =
x 100% = 83,16%
120% =
x 100% = 93,39%
KADAR (REPLIKASI)
Kadar = V x N x BE
Tanpa ZA = 6,0400 x 0,0993 x 176,13 = 105,64 mg
80% = 9,7279 x 0,0993 x 176,13 = 170,14 mg
100% = 10,7650 x 0,0993 x 176,13 = 188,28 mg
120% = 12,4076 x 0,0993 x 176,13 = 217,00 mg
% Recovery
80% =
x 100% = 80,625%
100% =
x 100% = 82,64%
120% =
x 100% = 92,80%
REPLIKASI II
|
Penimbangan
|
Tanpa
ZA (mg)
|
80%
(mg)
|
100%
(mg)
|
120%
(mg)
|
|
Berat
Kertas
|
264,2
|
264,2
|
261,0
|
262,0
|
|
Kertas+zat
|
409,7
|
406,0
|
401,4
|
400,8
|
|
Kertas+sisa
|
272,2
|
268,8
|
263,0
|
263,8
|
|
Zat
|
137,5
|
137,2
|
138,4
|
137,0
|
Tanpa ZA = 69,9200% x 137,5 = 96,14mg
80% = 133,2520% x 137,2 = 182,82mg
100% = 138,3584% x 138,4 = 191,48mg
120% = 154,9519% x 137,0 = 212,28mg
% Recovery
80% =
x 100% = 108,35%
100% =
x 100% = 95,34%
120% =
x 100% = 96,78%
Perhitungan Manual
Kadar = V x N x BE
Tanpa ZA = 5,4625 x 0,0993 x 176,13 = 95,54%
80% = 10,3876 x 0,0993 x 176,13 =
181,68%
100% = 10,8800 x 0,0993 x 176,13 =
190,28%
120% = 12,0616 x 0,0993 x 176,13 =
210,9%
% Recovery
80% =
x 100% = 107,65%
100% =
x 100% = 94,74%
120% =
x 100% = 96,18%
REPLIKASI III
|
Penimbangan
|
Tanpa
ZA (mg)
|
80%
(mg)
|
100%
(mg)
|
120%
(mg)
|
|
Berat
Kertas
|
259,3
|
263,6
|
261,2
|
259,4
|
|
Kertas+Zat
|
402,3
|
400,4
|
400,4
|
399,7
|
|
Kertas+sisa
|
260,0
|
262,7
|
262,9
|
264,6
|
|
Zat
|
142,3
|
137,7
|
137,5
|
135,1
|
Tanpa Zat = 71,1211% x 142,3 = 101,20mg
80% = 132,7477% x 137,7 = 182,79mg
100% = 146,0480% x 137,5 = 200,81mg
120% = 158,9276% x 135,1 = 214,71mg
% Recovery
80% =
x 100% = 101,98%
100% =
x 100% = 99,61%
120% =
x 100% = 94,59%
Kadar = V x N x BE
Tanpa Zat Aktif = 5,7503 x 0,0993 x 176,13 = 100,57mg
80% = 10,3860 x 0,0993 x 176,13 =
182,08mg
100% =
11,4100 x 0,0993 x 176,13 = 199,55mg
120% =
12,1995 x 0,0993 x 176,13 = 213,36mg
% Recovery
80% =
x 100% = 101,88%
100% =
x 100% = 99,98%
120% =
x 100% = 93,99%
Autotitrator
80%
Replikasi 1 = 81,09%
Replikasi 2 = 108,35%
Replikasi 3 = 101,98%
X =
97,14
SD =
14,260
RSD = 14,68
100%
Replikasi 1 = 83,16%
Replikasi 2 = 95,34%
Replikasi 3 = 99,61%
X =
92,70
SD = 8,54
RSD = 9,21%
120%
Replikasi 1 = 93,39%
Replikasi 2 = 96,78%
Replikasi 3 = 94,59%
X =
94,92
SD = 1,72
RSD = 1,81%
Manual
80%
Replikasi 1 = 82,63%
Replikasi 2 = 107,65%
Replikasi 3 = 101,88%
X =
97,38
SD =
13,10
RSD = 13,45%
100%
Replikasi 1 = 82,64%
Replikasi 2 = 94,74%
Replikasi 3 = 98,98%
X =
92,12
SD = 8,48
RSD = 9,21%
120%
Replikasi 1 = 92,80%
Replikasi 2 = 96,18%
Replikasi 3 = 93,99%
X =
94,32
SD = 7,71
RSD = 1,81%
KESERAGAMAN
KANDUNGAN
Kadar =
x 100%
1. =
x 100% = 63,92 % b/b pH = 2,84
2. =
x 100% = 65,39 % b/b pH = 2,77
3. =
x 100% = 72,984 % b/b pH = 2,79
4. =
x 100% = 68,93 % b/b pH = 2,70
5. =
x 100% = 70,61 % b/b pH = 2,66
6. =
x 100% = 70,31 % b/b pH = 2,67
7. =
x 100% = 66,18 % b/b pH = 2,60
8. =
x 100% = 76,78 % b/b pH = 2,59
9. =
x 100% = 74,80 % b/b pH = 2,64
10. =
x 100% = 74,41 % b/b pH = 2,57
Berat Tablet
Tablet 1 = 140 mg
Tablet 2 = 136,7 mg
Tablet 3 = 147,4 mg
Tablet 4 = 139,7 mg
Tablet 5 = 140,8 mg
Tablet 6 = 138,4 mg
Tablet 7 = 140 mg
Tablet 8 = 137,3 mg
Tablet 9 = 140 mg
Tablet 10 = 127,8 mg
Rata-rata tablet = 138,81mg
Kadar mg/tablet
1. =
x 140 = 80,49 mg/tab
2. =
x136,7 = 89,32 mg/tab
3. =
x147,4 = 107,60 mg/tab
4. =
x135,7 = 96,29 mg/tab
5. =
x140,8 = 99,42 mg/tab
6. =
x138,41 = 97,31 mg/tab
7. =
x140,81 = 92,65 mg/tab
8. =
x137,3 = 105,42 mg/tab
9. =
x140 = 104,72 mg/tab
10. =
x127,8 = 95,09 mg/tab
SD =6,18
RSD=6,51
X =97,73
Range 85-115
1.
x 100% = 89,49%
2.
x 100% = 89,32%
3.
x 100% = 107,60%
4.
x 100% = 96,29%
5.
x 100% = 99,42%
6.
x 100% = 97,31%
7.
x 100% = 92,65%
9.
x 100% = 104,72%
10.
x 100% = 95,09%
VII.
PEMBAHASAN
Titrasi adalah metode analisis kimia secara
kuantitatif yang biasa digunakan untuk menentukan konsentrasi dari titrat
(sampel yang dianalisis). Titrasi dapat dilakukan dengan cara salah satunya
adalah potensiometri.Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisika
kimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda
indikator. Besarnya elektroda indikator ini tergantung pada konsentrasi ion-ion
tertentu dalam larutan. (Gandjar&Rohman, 2007).
Kegunaan
metode potensiometri adalah untuk menentukan konsentrasi suatu ion (ion
selective electrode), pH suatu larutan dan menentukan titik akhir titrasi. Potensiometri ini sangat bermanfaat
digunakan jika tidak ada indikator yang sesuai untuk menentukan titik akhir
titrasi dan jika daerah titik ekuivalen sangat pendek.
Tablet
Vitamin C mempunyai BM 176,13 direaksikan dengan NaOH. Reaksi yang terjadi adalah reaksi
alkalimetri. Alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa yang bersifat asam
dengan menggunakan larutan baku basa. Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi,
yaitu reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida
yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi
dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima
proton (basa). (Anonim,2012).
Pada potensiometri autotitrator
pertama-tama dikalibrasi dahulu dengan pH 4 kemudian pH 7. Kalibrasi tersebut
bertujuan untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan dan ditelusuri sampai ke standar yang lebih tinggi (standar primer
nasional dan internasional) melalui rangkaian perbandingan yang tidak terputus.
Sedangkan manfaat kalibrasi adalah untuk mendukung system mutu yang diterapkan
diberbagai industry pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki dan
dengan kalibrasi bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara
harga benar harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Keuntungan
metode potensiometri autotitrator adalah : Titik ekivalensi jelas karena
menggunakan indicator alat, praktis, perhitungan tepat karena perubahan
terlihat bertahap, lebih teliti, hemat tenaga, lebih jelas, lebih objektif, dan
lebih mudah.
Selain keuntungan juga terdapat
kelemahan atau kekurangan, yaitu : membutuhkan listrik, potensial elektroda
indicator tidak dapat dihitung secara sendiri akan tetapi akan tetapi harus
menggabungkan elektroda-elektroda indicator dengan elektroda pembanding, dapat
terjadi kesalahan karena kerusakan alat, terjadi kesalahan pembacaan jika alat
terkontaminasi, dan lebih mahal.
Sebelum
melakukan validasi metode hal pertama yang dilakukan adalah pembakuan larutan
baku. Pembakuan berperan penting dalam prose analisa volumetric yang merupakan
analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan
larutan baku yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti. Pembakuan
dilakukan menggunakan Kalium biftalat sebagai titrat yang dilarutkan dalam
akuades dan dititrasi dengan NaOH, dengan indikator pp sampel yang semula
jernih berubah menjadi merah. Normalitas yang didapat dari hasil orientasi,
replikasi I,II,III masing-masing adalah 0,0977 N; 0,0945 N; 0,0970 N; 0,0955 N.
Hasil ini sesuai karena hasil yang didapat mendekati 0,1 N.
Penetapan kadar vitamin C secara
alkalimetri dengan titran NaOH menggunakan potensiometri autotitrator,
didapatkan hasil kadar 59,426 % b/b dan 79,337 mg/tab. Hasil yang didapat cukup
jauh dari 100%, hal ini dimungkinkan karena saat proses titrasi berlangsung
alat terpengaruh getaran dari luar, aqua bebas CO2 yang tidak murni
juga dapat mempengaruhi kadar yang didapat.
Validasi metode analisis dilakukan
untuk mengetahui bahwa karakteristik kerja dari suatu metode memenuhi persyaratan sesuai tujuan
penggunaan. Karakteristik kerja ini dinyatakan sebagai parameter analisis yang
terdiri dari antara lain spesifitas atau selektifitas, presisi antara, akurasi,
ripitabilitas maupun linearitas.
Linieritas merupakan parameter yang
dipakai untuk melihat respon metode terhadap perubahan konsentrasi analit dalam
sampel. Dalam penetapan kadar vitamin C secara alkalimetri ini, linearitas
digunakan untuk melihat adanya kenaikan respon metode yang berupa volume titran
terhadap kenaikan jumlah atau kadar sampel yang dianalisis. Kadar sampel dibuat
7 titik antara 70%-130% agar dapat
diketahui perubahannya. Data dari kadar inilah yang diolah menggunakan regresi
linear antara kadar vs volume titran, sehingga akan didapat nilai r-nya. Hasil
yang didapatkan dari kadar % b/b vs zat aktif diperoleh r = 0,5587 , untuk
hasil regresi antara zat aktif vs kadar mg didapatkan r = 0,9605 , dan pada
regresi antara zat aktif vs volum titran didapat r= 0,9605. Kriteria
keberterimaan untuk parameter linearitas adalah r>0,98 . Hasil yang didapat
tidak sesuai dengan syarat keberterimaan (<0,98), hal ini dimungkinkan
karena air bebas CO2 maupun
reagen lain tidak murni akibat terkontaminasi udara luar sehingga mempengaruhi
sampel vitamin C. Ketidaksesuaian hasil ini juga menunjukkan bahwa harus
dilakukan validasi ulang terhadap metode analisis.
Ripitabilitas merupakan suatu
parameter yang digunakan untuk melihat tingkat kedekatan hasil uji pada hari
yang sama, sampel yang sama, analis yang sama,ataupun pada kondisi kerja yang
normal. Parameter ini bertujuan memperoleh data keterulangan yang dapat
memenuhi syarat keberterimaannya, yaitu jika nilai RSD <2% . Pengerjaannya
dengan menimbang sampel sesuai prosedur sebanyak 7 kali dengan kadar yang sama,
sehingga diharapkan hasil yang didapat memiliki keterulangan dengan hasil yang
sama. Tujuh kadar vitamin C yang didapat
dari penetapan kadar secara alkalimetri menggunakan potensiometri autotitrator,
dihitung nilai RSD-nya. Dari kadar % b/b didapatkan RSD= 3,331
%, sedangkan dari kadar mg/tab didapatkan RSD = 3,458 %. Hasil RSD ini tidak
sesuai dengan syarat keberterimaan ripitabilitas yang seharusnya RSD <2%. Ketidaksesuaian
hasil ini menunjukkan bahwa harus dilakukan validasi ulang terhadap metode
analisis. Hal ini dimungkinkan karena air bebas CO2 maupun reagen lain tidak murni akibat
terkontaminasi udara luar sehingga mempengaruhi sampel vitamin C dan kadar yang
didapat tidak dapat stabil.
Presisi antara memiliki prinsip yang sama dengan
ripitabilitas, bertujuan memperoleh data keterulangan yang dapat memenuhi
syarat keberterimaannya, yaitu jika nilai RSD <2% , perbedaannya terletak
pada hari, analis, dan kondisi percobaan yang berbeda dengan saat dilakukan
ripitabilitas. Cara pengerjaannya juga sama, yaitu menimbang sampel sesuai
prosedur sebanyak 7 kali dengan kadar yang sama, sehingga diharapkan hasil yang
didapat memiliki keterulangan dengan hasil yang sama. Hasil yang didapat untuk
kadar % b/b RSD=2,8497 %, sedangkan untuk kadar mg/tab
RSD=2,852 %. Hasil yang didapat dari presisi antara juga tidak sesuai dengan
syarat keberterimaannya (RSD<2%), yang dimungkinkan juga karena reagen
yang dipakai tidak murni akibat terkontaminasi udara luar sehingga berpengaruh
pada kadarnya. RSD rata-rata yang didapat dari ripitabilitas dan presisi
antara, untuk kadar % b/b RSD=3,091 %, sedangkan untuk kadar mg/tab
RSD=3,155 %. Hasil ini juga tidak sesuai, menunjukkan perlunya validasi ulang
pada metode analisis.
Akurasi adalah parameter untuk menunjukkan kedekatan hasil uji
dengan nilai yang sebenarnya, dikerjakan dengan menghitung nilai perolehan
kembali yaitu suatu tolak ukur efisiensi
analisis yang dapat bernilai positif dan negatif. Sampel yang digunakan terdiri
dari 4 kelompok, masing-masing yaitu kelompok tanpa penambahan zat aktif,
dengan penambahan zat aktif 80%, 100%, dan 120%. Hasil perhitungan kadar dari
kelompok inilah yang dimasukkan perhitungan untuk mendapatkan %recovery (perolehan
kembali)/ RSD-nya. Kriteria keberterimaan dari parameter akurasi ini adalah
jika nilai RSD<1%. Hasil RSD yang didapat untuk penambahan 80% zat aktif
RSD= 14,68 %, penambahan 100% zat aktif
RSD = 9,21%, dan untuk penambahan 120% zat aktif
RSD= 1,81%.
Hasil ini tidak sesuai dengan kriteria keberterimaannya (RSD<1%), menunjukkan
metode analisis perlu dilakukan validasi ulang karena sudah tidak sesuai lagi.
Parameter keseragaman kandungan menunjukkan tingkat keseragaman
kadar zat aktif dalam setiap unit sediaan. Pelaksanaannya dengan menentukan
kadar zat aktif satu per satu dari 10 tablet vitamin C yang dipilih secara
acak. Kadar yang didapat digunakan untuk menentukan kriteria keberterimaan
keseragaman kandungan yaitu RSD < 6% , namun dari hasil penetapan kadar vitamin C secara alkalimetri yang didapat
menggunakan potensiometri autotritator, RSD=6,51 hasil ini lebih besar dari
syarat diterimanya.
Secara keseluruhan hasil yang didapat untuk validasi metode
analisis menunjukkan hasil yang tidak sesuai, lebih besar ataupun lebih kecil
dari kriteria keberterimaan. Hal ini dikarenakan reagen yang digunakan
kemungkinan tidak murni sehingga mempengaruhi kadar yang didapat, getaran dari
luar juga mempengaruhi hasil kadar karena titrasi berlangsung tidak stabil.
Dari hasil ini menunjukkan perlunya validasi ulang terhadap metode analisis karena hasil yang didapat banyak yang tidak
sesuai.
VIII.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Ø Hasil
yang didapat dari pembakuan dan penetapan kadar vitamin C normalitas dan
kadarnya sesuai meskipun hasilnya tidak tepat 100%
Ø Hasil
validasi metode analisis, secara keseluruhan tidak sesuai kriteria
keberterimaan. Hal ini dikarenakan reagen yang digunakan kemungkinan tidak
murni sehingga mempengaruhi kadar yang didapat, getaran dari luar juga
mempengaruhi hasil kadar karena titrasi berlangsung tidak stabil.
Ø Dari
hasil ini menunjukkan perlunya validasi ulang terhadap metode analisis karena hasil yang didapat banyak yang tidak
sesuai.
SARAN
·
Saat sedang digunakan alat potensiometri
autotitrator sebaiknya dihindarkan dari pengaruh getaran luar agar kadar yang
diperoleh dapat stabil.
·
Air bebas CO2 yang digunakan
sebagai pelarut harus ditutup supaya tidak terkontaminasi udara luar sehingga
tidak mempengaruhi kadarnya.
IX.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia IV, DepKes
RI, Jakarta.
Anonim.
2012. Buku Petunjuk Praktikum Kimia
Analisa. Fakultas Farmasi UMS; Surakarta.
Basset,J.,et
al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit
Buku Kedokteran EGC; Jakarta.
Gandjar,Ibnu
Gholib dan Rohman,Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar;
Yogyakarta.
Snyder,
L. R., Kirkland, S.J., and Glajch, J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, John Wiley & Son, New York.
USP,1995.
The United States Pharmacopeia Convention, Inc., Twinbrook ParkWay Rockville,
USA.
Watson,David,
2007,Buku Ajar Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi Kimia Farmasi,Edisi 2,Buku
kedokteran EGC,Jakarta
