LAPORAN PRAKTIKUM
BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
PERCOBAAN
III
ABSORBSI OBAT SECARA IN VITRO
Disusun Oleh :
Nama : Eldesi Medisa Ilmawati
NIM : K 100 110 038
Kelompok : B3
Korektor :
LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
FAKULTAS FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
PERCOBAAN
III
ABSORBSI
OBAT SECARA IN VITRO
I.
TUJUAN
PERCOBAAN
Mempelajari
pengaruh pH terhadap absorbs obat di saluran pencernaan secara in vitro.
II.
DASAR
TEORI
Absorbsi obat berkaitan dengan mekanisme
input obat ke dalam tubuh dank e dalam jaringan atau organ di dalam tubuh.
Disposisi dapat dibedakan menjadi distribusi dan eliminasi. Setelah obat
memasuki sirkulasi sistemik pbat didistribusikan ke jaringan tubuh. Penetrasi
obat ke dalam jaringan bergantung pada laju aliran darah ke jaringan,
karakteristik pasrisi antara darah dan jaringan tercapai (Sinko, 2012).
Pada obat yang diberikan secara peroral
absorbs obat dapat terjadi pada saluran cerna. Jadi saluran cerna memegang
peranan penting terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan laju dan
keberadaan absorbs obat. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
1. Sawar
membrane saluran cerna
2. pH
saluran cerna
3. kestabilan
obat dalam saluran cerna.
4. Interaksi
obat dan kompleksasi
Bila diasumsikan bahwa dalam saluran
cerna tidak ada yang menghalangi absorbsi setelah obat berada dalam keadaan
terlarut, maka obat (molekul) harus kontak dengan saluran cerna kalau obat itu
telah terdifusi dari cairan salran cerna ke permukaan membran (Syukri, 2002).
Disolusi dan absorbsi obat dalam saluran
cerna tidak sederhana karena pH cairan bulk bisa berbeda secara bermakna dari
pH lapisan stationer di sekeliling partikel-partikel obat. Pengisi, pengikat
dan zat penambah lainnya dalam bentuk sediaan bisa juga dipengaruhi oleh pH. pH
partisi absorbsi obat dari saluran cerna bisa dipengaruhi oleh pH cairan dan
pKa obat tersebut tapi prinsip ini juga harus dilihat dengan beberapa hal yang
harus diperhatikan seperti setelah diterangkan sebelumnya. Faktor-faktor lain
seperti:
-
Tempat absorbsi spesifik dan luas permukaan dari berbagai daerah
saluran cerna mungkin sama pentingnya atau lebih penting dari pertimbangan asam
basa.
-
Usus halus mempunyai luas permukaan
untuk absorbsi yang jauh lebih besar diabsorbsi di sana tanpa melihat
pertimbangan pH atau pKa (martin, 1993).
Sebagian besar obat merupakan asam atau
basa organic lemah. Ansorbsi obat dipengaruhi oleh derajat ionasasinya pada
waktu zat tersebut berhadapan dengan membrane-membran sel lebih permeable
terhadap bentuk obat yang tidak terionkan daripada bentuk terionkan. Derajat
ionisasi tergantung pada pH larutan dan pKa (Anonim, 2012).
III.
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
1. Tabung
Crane dan Wilson yang dimodifikasi
2. Spektrofotometer
3. Water-bath
(penangas air)
4. Timbangan
analitik
5. pH
meter
6. alat-alat
untuk operasi
7. alat-alat
gelas
Bahan
:
1. Organ
terisolasi berupa usus tikus
2. Cairan
lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2), cairan usus tanpa pankretin (pH 7,5)
3. Larutan
NaCl 0,9% b/v
4. Asam
salisilat
5. Eter
6. Gas
oksigen
7. Alcohol
8. Sel
sulfat dan barium hidroksida
IV.
CARA
KERJA
1.
Penentuan
Absorbsi pada Usus Tikus
Usus untuk
percobaan dipuasakan selama 20-24 jam dan tetap diberi minum air masak.
Tikus
dibunuh dengan eter, kemudian dibuka perutnya di sepanjang lines mediana dan usus dikeluarkan.
Usus sepanjang
15 cm di bawah lambung (pylorus)
dibuang, lalu diukur 20 cm di bawahnya dan dipotong untuk digunakan dalam
percobaan.
Usus dibagi dua bagian
sama panjang, masing-masing ±10 cm kemudian dibersihkan dngan larutan 0,9%
NaCl.
Bagian yang dekat
dengan anal (bagian bawah) digunakan sebagai control dan bagian atas (kerah
lambung) digunakan untk percobaan.
Ujung anal (bagian
bawah) dari potongan usus tersebut diikat dengan benang, kemudian dengan
menggunakan batang gelas yang berdiameter 2 mm usus tersebut dibalik sehingga
bagian mukosa terletak diluar.
Bagian kanula
dari tabung Crane dan Wilson dimasukkan ke ujung oral (bagian atas) dari usus
yang belum diikat.
Usus diukur
dengan panjang efektif 7 cm dan diisi dengan 1,5 mLcairan serosal (larutan
natrium klorida 0,9% b/v).
Kantong usus yang sudah
diisi cairan serosal ini dimasukkan ke dalam tabung Crane dan Wilson yang sudah
diisi 75 mL cairan mucosal yang
mengandung bahan obat pada suhu 370C.
Kantong usus
untuk control diperlakukan dengan cara yang sama, tetapi dengan menggunakan
cairan mucosal tanpa obat.
Selama percobaan
berlangsung, seluruh bagian usus dijaga agar dapat terendam dalam cairan
mucosal dan selalu dialiri gas oksigen dengan kecepatan kira-kira 100 gelembung
permenit.
Pada interval waktu
tertentu, kadar obat yang berada dalam cairan serosal ditentukan.
Untuk penentuan ini
seluruh cairan serosal diambil melalui kanula dan segera dicuci dengan larutan
natrium klorida 0,9% b/v.
Diisi kembali
dengan 1,5 mL larutan natrium klorida 0,9% b/v.
2.
Cara
Analisis
Diambil 1 mL
sampel kemudian ditambah dengan 2 mL larutan seng sulfat 5% dan 2 mL larutan
barium hidroksida 0,3 N.
Larutan
dikocok dengan diputar selama 5 menit.
Diambil
bagian yang jernih 2,5 mL kemudian ditambah dengan FeNO3 sebanyak 5
mL dan ditambah aquadest sampai volume mencapai 10 mL
Dibaca
dengan
maksimum.
V.
ANALISIS
CARA KERJA
-
Tikus dipuasakan selama 20-24 jam dengan
tujuan agar absorbsi obat optimal karena absorbsi obat dipengaruhi oleh
kecepatan pengosongan lambung sehingga proses adsorbs obat akan lebih cepat.
-
Tikus dibunuh dengan eter dan dibuka
perutnya di sepanjang imea mediana dan ususnya dikeluarkan, usus sepanjang 15
cm di bawah pylorus atau lambung dibuang dengan tujuan menghindari kontaminasi
asam-asam lambung yang dihasilkan oleh
lambung, sehingga absorbsinya terganggu sedangkan pembuangan usus 20 cm di
bawah dikarenakan adanya fili dan mikrofili yang menyebabkan besarnya luas
permukaan fili-fili ini tidak terdapat pada daerah saluran cerna lainnya.
-
Bagian usus dibagi menjadi dua bagian
atas yang disebut bagian oral dan bagian bawah disebut bagian awal. Bagian oral
digunakan untuk sampel sedangkan bagian awal digunakan untuk control tanpa
obat.
-
Larutan mukosa diibaratkan sebagai
kompartemen saluran pencernaan dan selama percobaan selalu dialiri gas oksigen
dengan kecepatan kira-kira 100 gelembung/menit, kecepatan ini tergantung dari
panjang usus, media yang digunakan dan perlakuan terhadap usus.
-
Tujuan penambahan cairan serosal yang
masing-masing 2 mL untuk mengikat garam NaCl dalam serosal, menjadi endapan
BaCl2 berwarna putih yang dapat dipisahkan dengan sentrifuge selain untuk
mengendapkan garam NaCl juga untuk mengendapkan protein, sehingga beningan yang
mengandung asam salisilat bisa dibaca serapannya dengan spektrofotometer
visible dengan penambahan FeNO3 sehingga terjadi pembentukan kompleks warna.
-
Tabung Crane dan Wilson merupakan alat
yang digunakan pada praktikum ini, cara kerjanya bahwa obat yang
VI.
HASIL
DAN PERHITUNGAN
1. Nama
bahan obat : Asam salisilat
2. Kadar
bahan obat sebenarnya : 0,01 M
3. Kurva
baku : y = 1,2095 – 0,079 ,
nilai r = 0,964
4. Λmax
: 553 nm
5. Operating
time : 5 menit
6. pH
cairan : 7,5
7. A = 2 . π . r . t
8. = 2 . 3,14 , 0,1 . 10
= 6,28 cm2
9. Sampel
Obat
T
(menit)
|
Ak
|
As
|
Ck
|
Cs
|
Cs-Ck
|
Kadar
Total
|
Q
|
|
15
|
0,030
|
-0,02
|
0,09
|
0,048
|
-0,042
|
-0,042
|
-0,00063
|
-1,003
x 10-4
|
30
|
0,034
|
0,006
|
0,093
|
0,07
|
-0,023
|
-0,065
|
-0,000975
|
-1,55
x 10-4
|
45
|
0,166
|
0,021
|
0,203
|
0,083
|
-0,12
|
-0,185
|
-0,002775
|
-4,419
x 10-4
|
60
|
0,222
|
0,232
|
0,249
|
0,257
|
0,008
|
-0,177
|
-0,002655
|
-4,228
x 10-4
|
90
|
0,240
|
0,295
|
0,263
|
0,309
|
0,046
|
-0,131
|
-0,001965
|
-3,129
x 10-4
|
Perhitungan
Kadar
Kadar kontrol (mg/mL)
|
Kadar sampel (mg/ml)
|
t
= 15 abs = 0,03
y
= 1,2095 – 0,079
0,030
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,09
|
t
= 15 abs = -0,02
y
= 1,2095 – 0,079
-0,02
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,0048
|
t
= 30 abs = 0,034
y
= 1,2095 – 0,079
0,034
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,093
|
t
= 30 abs = 0,006
y
= 1,2095 – 0,079
0,006
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,070
|
t
= 45 abs = 0,166
y
= 1,2095 – 0,079
0,166
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,203
|
t
= 45 abs = 0,021
y
= 1,2095 – 0,079
0,021
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,083
|
t
= 60 abs = 0,222
y
= 1,2095 – 0,079
0,222
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,249
|
t
= 60 abs = 0,232
y
= 1,2095 – 0,079
0,232
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,257
|
t
= 90 abs = 0,240
y
= 1,2095 – 0,079
0,249
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,263
|
t
= 90 abs = 0,295
y
= 1,2095 – 0,079
0,295
= 1,2095 – 0,079
X
= 0,309
|
Cs-Ck
(mg/mL)
t
= 15
0,048
- 0,09 = -0,042
|
t
= 45
0,083
- 0,203 = -0,12
|
t
= 90
0,309
- 0,263 = 0,046
|
t
= 30
0,07
- 0,093 = -0,023
|
t
= 60
0,257
- 0,249 = 0,008
|
Kadar
Total (mg/mL)
t
= 15
-0,042
|
t
= 30
-0,042
+ -0,023 = -0,065
|
t
= 45
-0,042
+ -0,023 + -0,12 = -0,185
|
t
= 60
-0,042
+ -0,023 + -0,12 + 0,008 = -0,177
|
t
= 90
-0,042
+ -0,023 + -0,12 + 0,008 + 0,046 = -0,131
|
Q
|
|
t
= 15
-0,042
x
|
|
t
= 30
-0,065 x
|
|
t
= 45
-0,185 x
|
|
t
= 60
-0,177 x
|
|
t
= 90
-0,131 x
|
Regresi
Linear t vs Q/A
A = -1,312 x 10-4
B = -3,262 x 10-6
R = -0,604
Y = -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
Pm
( Permeabilitas membran )
Pm
=
Slope
= b = -3,262 x 10-6
Cg
= Kadar awal x BM asam salisilat
= 0,01 M x 138,12
= 1,381 mg/cm3
Pm
usus =
= -2,362 x 10-6
= -3,937 x 10-6
|
Lag
time usus
Merupakan
perpotongan garis dengan sumbu x , y = 0
Y
= -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
0
= -3,262 x 10-6 x -1,312 x 10-4
X
= -4,022 menit
|
Grafik Q/A vs t

VII.
PEMBAHASAN
Tujuan pada percobaan ini adalah untuk
mengetahui dan mempelajari adanya pengaruh pHterhadap absorbsi obat melalui
saluran pencernaan secara in vitro. Absorbsi obat merupakan proses pergerakan
obat dari tempat pemberian menuju sirkulasi sistemik, sedangkan in vitro
merupakan preparasi yang dilakukan di luar tubuh makhluk hidup atau hewan uji
dengan menggunakan salah satu hewan uji.
Pada
percobaan ini organ yang digunakan adalah usus halus dari hewan percobaan yakni
tikus, digunakan usus halus karena usus merupakan tempat absorbsi obat dalam
tubuh. Cairan yang digunakan adalah cairan serosal 1,5 mL yang terdiri dari
larutan natrium klorida 0,9 % b/v, serta cairan mucosal yang digunakan adalah
cairan lambung buatan tanpa pepsin pH 1,2 dan bahan obat yang digunakan adalah
asam salisilat.
Asam
salisilat merupakan obat yang bersifat asam lemah dimana absorbsinya lebih baik
pada pH lambung yaitu pH 1,2. Pada obat, asam lemah jika diletakkan pada
mmembranemedium pH rendah maka bentuk tak terionnya lebih banyak daripada
bentuk terionnya. Sehingga lebih banyak yang diabsorbsi pada medium ini.
Sebaliknya, pada medium dengan pH yang lebih besar, maka bentuk terion lebih
banyak, sehingga pbat yang diabsorbsi hanya sedikit.
Membrane
sel lebih permeable dari bentuk obat yang tidak terionkan. Diharapkan dengan pH
percobaan rendah yaitu 1,2 menjadikan bentuk obat banyak dalam bentuk tak
terionkan sehingga sel lebih permeable dan pada akhirnya obat mudah untuk
diabsorbsi. Permeabilitas dari data yang didapat adalah -3,937 x 10-6
cm/detik, sedangkan lag time merupakan nilai dari perpoyongan garis dengan
sumbu t, bahan yang memiliki lag time kurang dari 15 menit biasanya tidak
menimbulkan masalah pada proses transpormelalui membrane biologis. Ada
percobaan ini kami mendapatkan nilai lag time yaitu -4,022
menit yang berarti tidak menimbulkan masalah pada proses transport melalui
membrane biologis.
VIII.
KESIMPULAN
1. Lag time yang didapat yakni -4,022 menit yang
berarti tidak menimbulkan masalah pada proses transport melalui membran biologis
karena kurang dari 15 menit.
2.
Pada praktikum ini digunakan asam
salisilat dimana asam salisilat bersifat asam lemah sehingga akan banyak
diabsorbsi di lambung karena di lambung bentuk tak terionnya lebih banyak
daripada terion.
IX.
DAFTAR
PUSTAKA
Martin. 1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam
Ilmu Farmasetik. Diterjemahkan oleh Yoshita. UII Press. Yogyakarta.
Sinko.
2011. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika
Martin. Diterjemahkan oleh Djajadisastra. EGC. Jakarta.
Syukri.
2002. Biofarmasetika. UII Press.
Yogyakarta.
