LAPORAN PRAKTIKUM
BIOFARMASETIKA
DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
PERCOBAAN
II
KECEPATAN
DISOLUSI INTRINSIK
Disusun Oleh :
Nama : Eldesi Medisa Ilmawati
NIM : K 100110038
Kelompok : B3
Tanggal Praktikum : 1 Oktober 2013
Korektor :
LABORATORIUM
BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
PERCOBAAN
II
KECEPATAN
DISOLUSI INTRINSIK
I.
TUJUAN
PERCOBAAN
Mempelajari
pengaruh keadaan bahan (baku) obat (polimorfi, hidrat, solvat) terhadap
kecepatan disolusi intrinsiknya sebagai preformulasi untuk bentuk sediannya.
II.
DASAR
TEORI
Disolusi didefinisikan sebagai proses
dimana suatu zat padat masuk ke dalam pelarut menghasilkan suatu larutan secara
sederhana. Disolusi merupakan proses dimana zat padat melarut secara prinsip
dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dan pelarut.
Karakteristik fisik sediaan, proses
pembasahan sediaan kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses
pengembangan, proses integrasi dan degadrasi. Sediaan merupakan sebagian dari faktor yang mempengaruhi karakteristik
disolusi obat dari sediaan.
Setelah
pemberian secara insitu dapat timbul endapan zat aktif yang biasanya berbentuk
amorf sebagai akibat perubahan pH dan endapan tersebut selanjutnya akan melarut
lagi. Dengan demikian, pemberian sediaan larutan tidak selalu dapat
mengakibatkan penyerapan yang segera. (Alache, 1998)
Sebagian
besar metode pelarutan berhubungan dengan produk obat, kadarnya suatu obat baru
dapat diuji untuk pelarut tanpa pengaruh dari bahan tambahan atau dari proses
fabrikasi. Pelarutan dari suatu serbuk obat dengan mempatahkan suatu luas permukaan
yang tetap disebut pelarutan intrinsic. Pelarutan intrinsik biasanya dinyatakan
dalam mg/cm2menit. Dalam salah satu metode “basket” disesuaikan
untuk uji kelarutan serbuk dengan menempatkan serbuk dalam suatu cakram yang
dicetakkan dengan menjepit ke dasar keranjang.
Klirens
intrinsik digunakan untuk menggambarkan kemampuan hati untuk menghilangkan obat
dalam keadaan tidak adanya pembatasan aliran sebagai pencemaran aktivitas yang
melekat dari mixed function oxidases.
Klirens hepatis berhubungan dengan faktor aliran darah, hati, dan klirens
intrinsik hati. (Shargel, 1988)
Laju
disolusi intrinsik merupakan laju dimana suatu padatan melarut di dalam suatu
pelarut dalam batasan kuantitatif. Bila suatu tablet sediaan obat lainnya
dimasukkan ke dalam saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan
dari bentuk padatnya. Jika obat tersebut tidak dilapisi polimer, matriks
padatan juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul dan granul yang lain
emngalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus. Disintegrasi,
deagregasi, dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya
suatu obat dari bentuk dimana oat tersebut diberikan. (Voight, 1999)
Pengujian
disolusi sangat bermanfaat karena merupakan faktor pembatas dalam absorbsi
obat. Pengujian disolusi digunakan untuk membuktikan kesesuaian dengan
spesifikasi kampendial dan dapat merupakan persyaratan dalam registrasi obat.
Disolusi digunakan pula selama pengembangan produk dan pengujian stabilitas
sebagai bagian dari spesifikasi produk.
Faktor
yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu obat dari sediaan dikelompokkan
menjadi :
1. Faktor
terkait pada sifat fisika kimia obat
2. Faktor
terkait pada formulasi obat
3. Faktor
terkait dengan bentuk sediaan
4. Faktor
terkait pada obat uji disolusi
5. Faktor
terkait pada parameter pengujian disolusi
Faktor
terkait dengan sifat fisika kimia obat
a. Factor
yang mempengaruhi kelarutan
-
Polimorfisme
-
Keadaan amorf
-
Asam bebas, basa bebas, bentuk garam
-
Pembentukan kompleks, larutan padat
-
Ukuran partikel
-
Surfaktan
b. Faktor
yang mempengaruhi luas permukaan (tersedia) untuk disolusi
-
Ukuran partikel
-
Variabel manufakturing
III.
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
1. Penyangga
(holder) pellet
2. Motor
pemutar
3.
Stopwatch
4. Spektrofotometer
UV
5. Timbangan
analitik
6. Alat-alat
gelas
7. Tabung
disolusi
8. Thermostat
dengan penangan air
Bahan
:
1. Pellet
bahan obat
2. Lilin
cair
3. Medium
disolusi
4. Reagensia
III.
CARA
KERJA
Dibuat pellet
bentuk tablet dengan mencetak ± 300 mg bahan obat dengan tekanan 5 ton selama 5
menit.
Diletakkan
pada penyangga lalu bagian atas dituangi lilin cair, sehingga hanya ada 1
pellet terbuka yang langsung dapat bersinggungan dengan medium disolusi.
Ditutup penyangga yang
sudah berisi sampel lalu ditutup dan dihubungkan dengan motor pemutar.
Diatur suhu tabung
percobaan yang telah diisi 250 mL medium disolusi dengan thermostat pada 37 ±
0,50C.
Dicelupkan pellet yang
sudah dipasang pada penyangga dalam medium disolusi.
Diatur agar tidak ada
gelembung udara di bawahnya.
Dipasang pada motor
pemutar dan segera diputar dengan kecepatan 100 put/menit (jarak antara
permukaan pellet dengan dasar tabung disolusi 2 cm).
Diambil sampel hasil
disolusi tiap selang waktu dan cairan yang diambil segera diganti medium
disolusi dengan volume yang sama.
Ditentukan kadar
sampel yang diperoleh dari spektrofotometris.
Mencari
max
Diambil
50 µm larutan stok 100 mg% + 5 mL FeNO3 1 % ad 10 mL aquadest
Dicari
sampel serapan maksimal
Pembuatan kurva baku
Stok asam salisilat
yang disediakan 10 mg%
Diambil
larutan stok 10 mg% (kadar 1,5 ; 7,5 ; 10 ; 12,5)
Ditambah
5 mL FeNO3 1% ditambah aquadest ad 10 mL
Dibaca
absorbansi pada max dari OT
Dibuat
regresi liniernya.
IV. ANALISIS CARA KERJA
Pada percobaan uji disolusi intrinsic
diaur suhu tabung yang telah diisi medium disolusi dengan thermostat pada
37±0,50C. hal ini ditujukan agar suhu percobaan sama dengan suhu tubuh sehingga
bisa sesuai dengan keadaan yang sebenarnya jika obat di dalam tubuh.
Langkah pada percobaan ini adalah
mempersiapkan seerangkat alat disolusi kemudian pellet yang berupa zat murni
dari asam salisilat anhidrat dimasukkan ke dalam penyangga sebelumnya, bagian
atas dituangi lilin cair. Hal ini dilakukan agar hanya 1 pellet yang dapat
saling bersinggungan dengan medium disolusi sehingga diperoleh hasil yang
valid.
Sapel diambil kemudian ditentukan
kadarnya secara spektrofotometri dengan penambahan FeNO3 1% sehingga
akan membentuk kompleks warna. Selainitu juga harus diperhatikan OT dari asam
salisilat berkisar 5 – 10 menit, pada waktu tersebut terbentuk kompleks warna
yang maksimal sehingga diperoleh nilai kadar dapat maksimal. Kadar asam
salisilat ditetapkan secara spektrofotometri vis dengan serapan berdasarkan
pembentukan warna kompleks.
V.
HASIL
DAN PERHITUNGAN
1. Nama
bahan obat (pellet) : Asam
Salisilat
2. Berat
pellet :
0,4910 g
3. Medium
disolusi : air
4. Diameter
pellet : 1,3 cm
5. Luas
pellet :
2,065 cm2
6. Volume
sampel : 5 mL
KURVA
BAKU ASAM SALISILAT
Y
= 0,00625 X + 0,00469
r
= 0,9999
Operating
time = 5 menit
a.
Sampel
obat
T (menit)
|
Pengenceran
|
Absorbansi
|
Kadar (mg/mL)
|
Tak terkoreksi
|
C Koreksi
|
W
|
A
|
|
2
|
1
|
0,008
|
0,53
|
0
|
0,53
|
132,5
|
2,65
|
50
|
5
|
1
|
0,072
|
10,77
|
0,0106
|
10,7806
|
2695,15
|
1017,03
|
|
10
|
1
|
0,129
|
19,89
|
0,226
|
20,116
|
5029
|
1897,73
|
|
15
|
1
|
0,185
|
28,85
|
0,6238
|
29,4738
|
7368,45
|
2780,37
|
|
20
|
1
|
0,254
|
39,89
|
1,2008
|
41,0908
|
10272,7
|
3876,5
|
|
25
|
1
|
0,296
|
46,61
|
1,9986
|
48,6086
|
12152,15
|
4585,72
|
|
30
|
1
|
0,346
|
54,61
|
2,9308
|
57,5408
|
14385,2
|
5428,38
|
|
45
|
1
|
0,521
|
82,61
|
4,023
|
86,633
|
21658,25
|
8172,92
|
|
60
|
1
|
0,685
|
108,85
|
5,6752
|
114,5262
|
28631,55
|
10804,35
|
|
75
|
2
|
0,480
|
76,05
|
7,8522
|
83,9022
|
20975,55
|
7915,3
|
|
90
|
2
|
0,458
|
72,53
|
9,3732
|
81,9032
|
20475,8
|
7726,72
|
a.
Menghitung
Kadar Obat
Y = 0,00625 X + 0,00469
T (menit)
|
Absorbansi
|
Kadar
obat
|
2
|
0,008
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,008
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 0,5296
|
5
|
0,072
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,072
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 10,77
|
10
|
0,129
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,129
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 19,89
|
15
|
0,185
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,185
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 28,85
|
20
|
0,254
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,254
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 39,89
|
25
|
0,296
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,296
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 46,61
|
30
|
0,346
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,346
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 54,61
|
45
|
0,521
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,521
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 82,61
|
60
|
0,685
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,685
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 108,85
|
75
|
0,480
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,480
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 76,05
|
90
|
0,458
|
Y
= 0,00625 X + 0,00469
0,458
= 0,00625 X + 0,00469
X
= 72,53
|
b.
Menghitung Faktor Koreksi
fk =
+ faktor sebelumnya
T (menit)
|
Kadar (mg/mL)
|
Pengenceran
|
2
|
0,53
|
fk =
=
= 0
|
5
|
10,77
|
fk =
=
= 0,0106
|
10
|
19,89
|
fk =
=
= 0,226
|
15
|
28,85
|
fk =
=
= 0,6238
|
20
|
39,89
|
fk =
=
= 1,2008
|
25
|
46,61
|
fk =
=
= 1,9986
|
30
|
54,61
|
fk =
=
= 2,9308
|
45
|
82,61
|
fk =
=
= 4,023
|
60
|
108,85
|
fk =
=
= 5,6752
|
75
|
76,05
|
fk =
=
= 7,8522
|
90
|
72,53
|
fk =
=
= 9,3732
|
c. Terkoreksi
Terkoreksi = kadar + fk
T (menit)
|
Kadar (mg/mL)
|
Fk
|
Terkoreksi
|
2
|
0,53
|
0
|
Terkoreksi = kadar +
fk
= 0,53 + 0
= 0,53
|
5
|
10,77
|
0,0106
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 10,77 + 0,0106
= 10,7806
|
10
|
19,89
|
0,226
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 19,89 + 0,226
= 20,116
|
15
|
28,85
|
0,6238
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 28,85 + 0,6238
= 29,4738
|
20
|
39,89
|
1,2008
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 39,89 + 1,2008
= 41,0908
|
25
|
46,61
|
1,9986
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 46,61 + 1,9986
= 48,6086
|
30
|
54,61
|
2,9308
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 54,61 + 2,9308
= 57,5408
|
45
|
82,61
|
4,023
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 82,61 + 4,023
= 86,633
|
60
|
108,85
|
5,6752
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 108,85 + 5,6752
= 114,5262
|
75
|
76,05
|
7,8522
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 76,05 + 7,8522
= 83,9022
|
90
|
72,53
|
9,3732
|
Terkoreksi = kadar + fk
= 72,53 + 9,3732
= 81,9032
|
d.
W (Jumlah Obat Terlarut)
W
= C koreksi × volume medium
T (menit)
|
C Koreksi
|
Volume medium
|
Jumlah obat terlarut
|
2
|
0,53
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 0,53 × 250
= 132,5
|
5
|
10,7806
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 10,7806 × 250
= 2695,15
|
10
|
20,116
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 20,116 × 250
= 5029
|
15
|
29,4738
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 29,4738 × 250
= 7368,45
|
20
|
41,0908
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 41,0908 × 250
= 10272,7
|
25
|
48,6086
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 48,6086 × 250
= 12152,15
|
30
|
57,5408
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 57,5408 × 250
= 14385,2
|
45
|
86,633
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 86,633 × 250
= 21658,25
|
60
|
114,5262
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 114,5262 × 250
= 28631,55
|
75
|
83,9022
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 83,9022 × 250
= 20975,55
|
90
|
81,9032
|
250
|
W = C koreksi ×
volume medium
W = 81,9032 × 250
= 20475,8
|
e. A (Luas Permukaan)
A = 
= 2,65
T (menit)
|
W
|
A
|
|
2
|
132,5
|
2,65
|
50
|
5
|
2695,15
|
1017,03
|
|
10
|
5029
|
1897,73
|
|
15
|
7368,45
|
2780,37
|
|
20
|
10272,7
|
3876,5
|
|
25
|
12152,15
|
4585,72
|
|
30
|
14385,2
|
5428,38
|
|
45
|
21658,25
|
8172,92
|
|
60
|
28631,55
|
10804,35
|
|
75
|
20975,55
|
7915,3
|
|
90
|
20475,8
|
7726,72
|
f. Regresi Linear (t vs
)
a = 1521,9
b = 99,506
r = 0,8615
y = bx + a
= 99,506x + 1521,9
VI.
PEMBAHASAN
Disolusi
merupakan proses dimana suatu zat padat melarut. Dalam penentuan kecepatan
disolusi dari bentuk sediaan padat terlihat berbagai macam proses disolusi yang
melibatkan zat murni supaya partikel padat terdisolusi. Molekul solut
pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan padatan, kemudian bergerak
menjauhi permukaan memasuki pelarut, tergantung pada kedua proses ini dan cara
bagaimana transport berlangsung. Perilaku disolusi dapat digambarkan secara
fisika. Ada 3 dasar model fisika yang dapat menggambarkan mekanisme kecepatan
disolusi yang terlibat dalam zat murni, yaknimodel lapisan difusi (diffusion layer model), model halangan
antar muka (interfacial barier model),
dan model dankwert (Dankwert model).
Laju
disolusi intrinsic dapat didefinisikan sebagai laju disolusi dari suatu zat
aktif murni yang diperoleh dengan menjaga konstan kondisi-kondisi yang bisa
mempengaruhi laju disolusi zat tersebut, yaitu luas permukaan, suhu, laju
pengadukan, pH, dan kekuatan ionik dari medium disolusi yang digunakan. Dengan
demikian, besarnya laju disolusi intrinsik suatu zat aktif tidak dipengaruhi
oleh faktor formulasi sehingga bisa dijadikan ukuran kelarutan inharen obat
tersebut di dalam medium disolusi.
Pelarutan
intrinsik merupakan pelarutan dari suatu serbuk yang mempertahankan luas
permukaan yang tetap, yang biasanya dinyatakan dalam mg/cm2 menit.
Obat-obat tersebut umumnya meliputi obat-obat yang kecepatan disolusinya sangat
lambat yang disebabkan oleh kelarutannya yang sangat lambat yang disebabkan
oleh kelarutannya yang sangat kecil.
Dalam praktikum ini, bahan obat yang
digunakan adalah Asam Salisilat dengan medium disolusi 250 mL dan volume sampel
5 mL, digunakan operating time yaitu 5 menitdan persamaan kurva baku Y
= 0,00625 X + 0,00469 pada panjang gelombang 526 nm. Dalam proses disolusi
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu luas permukaan padatan (obatnya), dimana
massa yang sama ukuran lebih kecil, maka luas permukaan lebih besar,
dispersibilitas (keterbagian) serbuk padatan dalam medium, porositas porinya
banyak. Maka, apabila semakin luas permukaannya, pada proses ini ukuran
partikel selalu berubah, semakin lama semakin kecil. Faktor kedua yang
mempengaruhi adalah kelarutan, dimana konsentrasi jenuh (besaran yang statis
dengan kenaikan waktu akan tetap, tetapi termodinamik yang dipengaruhi oleh pH
dan suhu). Konsentrasi ditentukan apabila volume rendah, kadar obat akan
tinggi. Kelarutan tidak dipengaruhi oleh proses pengadukan, karena pengadukan
hanya mempengaruhi proses melarutnya zat itu. Obat atau bahan obat yang
memerlukan solven banyak untuk larut, berarti kelarutannya kecil, begitu juga
sebaliknya. Dapat dinyatakan bahwa pH mempengaruhi kelarutan, asam-asam dengan
kelarutan rendah akan mengendap (dalam ukuran kecil) tetapi akan terjadi
redisolusi yang cepat terlarut.
Uji disolusi pada praktikum ini
menggunakan alat disolusi dengan menggunakan 250 mL, medium disolusi pH 1 – 8,
pada suhu 370C dengan kecepatan putar 50 putaran permenit. Grafik
hubungan W/A (massa terlarut persatuan luas) versus t (waktu) akan menghasilkan
kurva yang mendekati gradient nol pada waktu pertama yaitu 2 menit, sebagi
pendekatan Cs dan Ct. Cs merupakan kadar jenuh atau maksimal solute pada
temperatur.
Dari pengeplotan hasil praktikum, maka
diperoleh sebuah garis lurus dari regresi linier t vs W/A yang merupakan slope,
dan inilah yang dinamakan laju disolusi intrinsik. Persamaan kurva baku yang
didapat yaitu 99,506x + 1521,9, sehingga didapatkan harga slope yang merupakan
kecpatan disolusi intrinsik sebesar 99,506 mg/menit/cm2. Kecepatan
disolusi intrinsik lebih dari 0,1 mg/menit/cm2 menunjukkan tidak ada
masalah serius pada absorbansinya. Dari model fisikanya, merupakan model
lapisan difusi karena terlihat bahwa kecepatan disolusi berbanding lurus dengan
luas permukaan bahan obat dan kelarutannya.
VII.
KESIMPULAN
1. Kecepatan
disolusi intrinsik 99,506 mg/menit/cm2, kecepatan ini lebih dari 0,1
mg/menit/cm2 menunjukkan tidak ada masalah serius pada
absorbansinya.
2. Sesuai
dengan model lapisan difusi karena terlihat bahwa kecepatan disolusi berbanding
lurus dengan luas permukaan bahan obat dan kelarutannya.
3. Hasil
percobaan sesuai dengan teori yang jika kecepatan disolusi intrinsik < 0,1
mg/menit/cm2 menunjukkan masalah yang serius, namun pada percobaan
> 0,1 mg/menit/cm2 menunjukkan sehingga tidak ada masalah serius.
VIII.
DAFTAR
PUSTAKA
Agoes.
2008. Seri Farmasi Industri Sistem
Penghantaran Obat Pelepasan Terkendali. ITB. Bandung
Alache.
1993. Farmasetika 2 Biofarmasetika, Edisi
kedua. Airlangga University Press. Surabaya
Shargel.
1998. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan. Airlangga University Press. Surabaya
Voight. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM
Press. Yogyakarta
b
;lk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar