BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
PERCOBAAN
IV
ABSORBSI
PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO
Disusun Oleh :
Nama : Eldesi Medisa Ilmawati
NIM : K 100 110 038
Kelompok : B2
Korektor : Nadia Dika
LABORATORIUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA TERAPAN
FAKULTAS FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
PERCOBAAN
IV
ABSORBSI
PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO
I.
TUJUAN
PERCOBAAN
Mengetahui
adsorbs perkutan dan fungsi stratum korneum sebagai penghalang fisik dalam
adsorbs perkutan obat.
II.
DASAR
TEORI
Adsorbs
perkutan dapat didefinisikan sebagai adsorbsi obat ke dalam statum corneum
(lapisan tanduk) dan berlanjut obat menembus lapisan di bawahnya serta akhirnya
obat masuk dalam sirkulasi darah.
Kulit
merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat atau senyawa
eksternal. Adsorbsi obat perkutan dipengaruhi oleh sifat fisikokimiawi obat dan
pembawa serta kondisi kulit pada pemakaian obat secara topical, obat berdifusi
dalam pembawanya dan kontak dengan permukaan kulit (statum korneum dan setum)
serta obat selanjtnya menembus epidermis. Penetrasi obat melalui kulit dapat
terjadi dengan dua cara yaitu :
1. Rute
transdermal, yaitu difusi obat menembus stratum korneum.
2. Rute
transfolikuler, yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan selum.
Sebelum obat dapat memberikan efek, obat
perlu dilepaskan dari basisnya setelah obat kontak dengan stratum korneum maka
obat akan menembus epidermis dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik secra difusi
pasif. Laju absorbs melintasi kulit tidak segera tunak tetapi selalu teramati
adanya waktu laten. Waktu laten mencerminkan penundaan penembusan senyawa
kebagian dalam struktur tanduk dan pencapaian gradien difusi (Syukri, 2002).
Hambatan utama dari sistem penghantaran
obat transdermal adalah sifat halangan intrinsic dari kulit. Halangan ini dapat
secara kimiawi dimodifikasi dengan tujuan menurunkan resistensi difusi
menggunakan peningkat penetrasi. Strategi penggunaan peningkat penetrasi
memungkinkan lebih banyak obat dapat diberikan melalui sistem penghantaran
transdermal. Pertimbangan penting selama pengembangan sediaan trandermal adalah
potensi respon alergi, iritasi terhadap obat/konstituen formulasi lain, serta
peningkatan penetrasi (karena mekanisme kerjanya bermacam-macam, antara lain
melarutkan lapisan teratas dari kulit) Agoes, 2008).
Faktor yang mempengaruhi absorbs kuat
yaitu penetrasi dan cara pemakaian temperatur dari kulit sifat fisika kimia
obatnya, pengaruh dari sifat dasar salep, lama pemakaian, kondisi atau keadaan
kulit (Anief, 2000).
Adsorbsi atau penyerapan suatu zat aktif
adalah masuknya molekul-molekul ke dalam tubuh atau menuju peredaran darah
tubuh, setelah melewati penghalang biologic penyerapan akan diteliti bersamaan
dengan fase biofarmasetik (Ansel, 1989).
Adsorbsi melalui kulit (permukaan) bila
suatu obat digunakan secara topikal maka obat akan keluar dari pembawanya dan
berdifusi ke permukaan jaringan kulit. Ada 3 jalan masuk yang utama melalui
daerah kantong rambut, melalui kelenjar keringat atau melalui jaringan keringa
atau stratum korneum yang terletak dianara kelenjar keringat dan kantong rambut
(Lachman, 1989).
III.
ALAT
DAN BAHAN
Alat :
1. Sentrifuge
2. Spektrofotometer
3. Alat-alat
gelas (pipet ukur, pipet volume, pipet tetes, beker glass)
4. Tabung
ependroff
5. Mikropipet
6. Kuvet
7. Pisau/silet
8. Kasa
dan aluminium foil
Bahan
:
1. Hewan
uji kelinci
2. Salep
Natrium Salisilat
3. EDTA
4. Pereaksi
Trinder
IV.
CARA
KERJA
Penentuan
panjang gelombang maksimum asam salisilat dan operating time.
Pembuatan kurva baku
asam salisilat dalam darah. Darah diambil dari bagian vena kelinci sesuai
dengan petunjuk no. 4.
Perlakuan pada kelinci:
Kelinci dicukur
pada daerah punggung seluas sekitar 20 cm2 dengan panjang 5 cm dan
lebar 4 cm.
Pada bagian yang telah
dicukur itu dioleskan salep asam salisilat sebanyak 0,1 gram.
Salep ditutup dengan
alumunium foil dan dibalut dengan kain kassa.
Pengambilan sampel
darah dilakukan pada menit ke 15, 30, 45, 60, 90, 180 konsentrasi asam
salisilat dalam plasma ditentukan seperti pada nomor 3 di atas.
Untuk percobaan yang
lain, stratum korneum dikurangi jumlah lapisannya dengan jalan stripping.
Stratum korneum diambil
dengan cara menempelkan kertas isolasi pada kulit yang telah dicukur bulunya
beberapa kali
Untuk percobaan
ini, stripping dilakukan sebanyak 5 kali.
Pengambilan sampel darah
Darah diambil
dari vena di bagian telinga kelinci sebanyak 2 mL. Vena bagian telinga dilukai
dengan pisau dan darah yang menetes ditampung dalam ependrof yang di dalamnya
diisi dengan sedikit EDTA. Darah yang tertampung ini sebentar-sebentar digoyang-goyangkan
agar tercampur dengan EDTA dan darah tidak menjendal.
Sejulah 0,5 mL darah
yang diperoleh itu ditambah pereaksi Trinder sebanyak 5 mL lalu dicampur.
Disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 25 menit.
Bagian plasma
dipisahkan dan ditempatkan dalam suatu tabung, dibaca serapan pada panjang
gelombang 540 nm.
Dilakukan analisis yang
saa terhadap sampel darah blangko.
Konsentrasi obat dalam
campuran dapat ditentukan dari kurva baku.
Menentukan
perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistematis (Westgard dkk,
1978; Brettscheider dan Gloccke, 1983)
Sediaan
larutan salisilat dalam plasma 25, 100, dan 200 µg/mL, masing=masing 3
replikasi.
Ke
dalam 0,5 mL darah yang sudah diberi antikoagulan, dengan 4,0 mL Pereaksi Trinder.
Dibaca serapannya pada panjang gelombang 540 nm.
Dibandingkan
dengan larutan baku salisilat, dan ditentukan kadar masing-masing. Dihitung
kadar rata-rata dan simpangan bakunya.
Perolehan
kembali
Dihitung perolehan
kembali (recovery) dan kesalahan sistematik tiap besaran kadar
Perolehan kembali =
× 100 % = P %
Kesalahan
sistematik = 100 – P %
Kesalahan
acak
Dihitung kesalahan acak
(random analytical error) untuk tiap besaran kadar
Kesalahan acak =
× 100 %
V.
ANALISIS
CARA KERJA
Digunakan hewan uji kelinci karena
struktur kulit kelinci mirip dengan manusia. Pada praktikum ini dilakukan
stripping untuk mengurangi lapisan stratum agar bekerja maksimal. Diberikan
EDTA untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. HgCl2 untuk
mengendapkan protein. HCl sebagai asam kuat yang dapat menetralkan larutan.
FeNO3 digunakan sebagai pengompleks warna sehingga memudahkan untuk
pembacaan absorbansi. Natrium salisilat berkhasiat sebagai analgetik (pereda
nyeri). Perlakuan strippingdan non stripping untuk membandingkan dan mengetahui
pengaruh stratum korneum merupakan penghalang penetrasi salep ke dalam
sirkulasi darah. Fungsi dari sentrifuge adalah memisahkan protein dengan plasma
sehingga didapat cairan atau supernatant yang akan diukur pada spektrofotometer
dengan
540 nm. Tujuan dibalut dengan kain kasa adalah
untuk mencegah kontaminasi obat dari pengaruh luar agar obat dapat diabsorbsi
dengan sempurna dan untuk mengurangi gesekan udara/benda dari luar, sehingga
dapat mengurangi jumlah obat yang menempel pada punggung kelinci tersebut.
Pengambilan sampel darah pada menit ke 10, 20, 30, 45, 60, dan 90 untuk
mengetahui jumlah obat.
VI.
HASIL
PERCOBAAN
1. Nama
bahan obat : Salep Na Salisilat
2. Berat
salep : 2 gram
3. Kurva
baku : y = 0,122x – 0,0275
4.
max :
592 nm
5. Operating
time : 5 menit
6. Sampel
obat :
T(menit)
|
STRIPPING
|
NON
STRIPPING
|
||||
Absorbansi
|
Pengenceran
|
Kadar
(mg/mL)
|
absorbansi
|
pengenceran
|
Kadar
(mg/mL)
|
|
15
|
0,016
|
1
|
0,356
|
0,072
|
1
|
0,815
|
30
|
0,015
|
1
|
0,348
|
0,019
|
1
|
0,381
|
45
|
0,035
|
1
|
0,512
|
0,040
|
1
|
0,553
|
60
|
0,039
|
1
|
0,545
|
0,025
|
1
|
0,430
|
75
|
0,042
|
1
|
0,570
|
0,027
|
1
|
0,446
|
90
|
0,043
|
1
|
0,578
|
0,034
|
1
|
0,504
|
120
|
0,050
|
1
|
0,635
|
0,041
|
1
|
0,561
|
150
|
0,058
|
1
|
0,701
|
0,049
|
1
|
0,627
|
*Maaf ya teman-teman, laporannya saya publish sampai hasil percobaan aja soalnya bagian perhitungan sampai kesimpulan ada revisi dan saya belum sempat merevisinya, dari perhitungan ada kesalahan yang sangat berpengaruh ke grafik, pembahasan, dan kesimpulan :(.

sangat membantu sekali.. makasih
BalasHapustolong daftar pustaka nya dicantumkan.. terima kasih ^^
sangat bermanfaat tp alngkah baiknya bagian pembahasan dan kesimpulan yg telah direvisi segera dipublish di sini .... salam mahasiswa farmasi
BalasHapuspakai sitasi dong cin
BalasHapus