ABSTRAK
Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas, dan
elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang mana fase diamnya
diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya
berupa lapisan yang seragam (uniform)
pada permukaan bidang datar yang diukur oleh lempeng kaca, pelat aluminium,
atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat
dikatakansebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom.
Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang digunakan lebih sederhana dan lebih dikatakan bahwa hampir semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat.
Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang digunakan lebih sederhana dan lebih dikatakan bahwa hampir semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat.
PENDAHULUAN
DASAR
TEORI
Metode
pemisahan kromatografi didasarkan pada perbedaan distribusi molekul-molekul
komponen diantara dua fase (fase gerak dan fase diam) yang kepolarannya
berbeda.apabila molekul-molekul komponen berinteraksi secara lemah dengan fase
diam maka komponen tersebut akan bergerak lebih cepat meninggalkan fase diam.
Keberhasilan pemisahan kromatografi bergantung pada daya interaksi
komponen-komponen campuran dengan fase diam dan fase gerak.
(Hendayana, 2010)
Dibandingkan
dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (KG), KLT
mempunyai beberapa keuntungan, yaitu :
1.
KLT memberikan
fleksibilitas yang lebih besar, dalam hal memilih fase gerak.
2.
Beberapa macam
teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2 dimensi, pengembangan
bertingkat, dan pembaceman penjerap dapat dilakukan pada KLT.
3.
Proses kromatografi
dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja.
4.
Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi.
BAHAN DAN TEKNIK KLT
1.
Penjerap/fase
diam
Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah
silica dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi yang utama pada
KLT adalah partisi dan adsorbsi
2.
Fase Gerak pada
KLT
System yang paling sederhana ialah dengan menggunakan
campuran 2 pelaut oganik karena daya elusi campurankedua pelarut ini dapat
mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.
3.
Aplikasi
(Penotolan) Sampel
Penotolan (aplikasi) sampel dapat dilakukan sebagai
suatu bercak, pita, atau dalam bentuk zig zag.
4.
Pengembangan
Teknik pengembangan KLT dan KLT kinerja tinggi yaitu
konvensional, pengembangan 2 dimensi, dan pengembangan kontinyu.
5.
Deteksi
(Rohman, 2009)
PENGGUNAAN KLT
KLT
digunakan secara luas untuk analisis solu-solut organic terutama dalam bidang
biokimia, farmasi, klinis forensik, baik untuk analisis kualitatif dengan cara
membandingkan nilai Rf solute dengan nilai Rf senyawa baku atau untuk analisis
kualitatif.
Penggunaan
umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen dalam campuran,
identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi, menentukan efektifitas
pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi kolom, serta untuk
memantau kromatografi kolom, melakukan screening
sampel untuk obat.
(Sudjadi, 2007)
TUJUAN
Dapat mengembangkan dan
menunjukkan kemampuan pengetahuan dan/praktis untuk:
1)
Menjelaskan teori dan
prinsip-prinsip dasar KLT
2)
Memilih fase gerak yang
sesuai untuk pemisahan terbaik
3)
Melakukan analisis
kualitatif untuk identifikasi senyawa obat dalam pengobatan tradisional.
METODOLOGI
ALAT DAN BAHAN
-
Alat
·
Chamber
·
Referensi senyawa obat
·
Fase gerak untuk TLC
·
TLC plate : Silika Gel GF
254
·
TLC plat : Silika Gel G
·
Uap yodium
·
Sinar UV
·
Satu set peralatan TLC
-
Bahan
·
Zat warna
·
Uap iodine
·
Sampel (jamu pegal linu)
·
Fase diam (Silika Gel)
·
Fase Gerak (etanol,
methanol, kloroform, heksan, etil asetat, campuran 2 macam pelarut)
·
Kertas saring
CARA KERJA
Prinsip-Prinsip Dasar KLT
Dipersiapkan ruang berkembang (menggunkan 2 kombinasi
yang berbeda dari dua fase gerak).
Diberi label dan ditandai plat KLT.
Dipercikkan stok laritan pewarna
pada plat KLT.
Dikembangkan plat KLT dan ditandai
bagian dengan elusi.
Dihitung polaritas dan kekuatan elusi fase gerak,
diprediksi nilai Rf dari pewarna.
Divisualisasikan dan ditandai
kromatogram di bawah cahaya putih.
Dihitung nilai Rf dari pewarna.
Ditemukan fase gerak yang sesuai
untuk pemisahan terbaik pewarna.
Mengidentifikasi
Senyawa Obat dalam Pengobatan Tradisional
Disiapkan ruang pengembangan.
Diberi label dan tanda pada plat KLT.
Diberi titik stok dari referensi
senyawa obat pada KLT.
Dikembangkan plat KLT dan tandai
dengan eluen
Divisualisasikan dan ditandai kromatogram di bawah cahaya
UV dan uap iodine.
Dihitung nilai Rf referensi senyawa
obat.
Ditemukan fase gerak untuk pemisahan
paling baik dari senyawa obat.
Ditandai larutan sampel dan
referensi pada plat KLT.
Dikembangkan plat KLT dengan sistem
(fase gerak) yang terbaik.
Diidentifikasikan senyawa obat dalam
sampel.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Rf = 
UV 254 nm UV
366 nm
Sampel = 1 Rf =
= 0,88 Sampel
= 1 Rf =
= 0,88
|
Data
Hasil Perbandingan dengan Kelompok A1 sampai A7
|
NO.
|
Fase
Gerak
|
Sampel
|
Rf Sampel
|
Rf P
|
Rf A
|
Rf Na
|
||||
|
254
|
366
|
254
|
366
|
254
|
366
|
254
|
366
|
|||
|
1.
|
Kloroform : Aseton
(7 : 5)
|
|
0,38
|
0,38
|
0,36
|
-
|
-
|
-
|
I : 0,32
II : 0,46
|
-
|
|
2.
|
Etil Asetat : Me-OH : Amonia
(15 : 20 : 5)
|
|
I : 0,12
II : 0,52
|
-
|
0,62
|
-
|
0,12
|
-
|
0,5
|
-
|
|
3.
|
Kloroform : Metanol (8 : 2)
|
|
I : 0,5
II : 0,64
|
I : 0,5
II : 0,64
|
0,5
|
-
|
0,1
|
-
|
0,6
|
-
|
|
4.
|
Kloroform : Aseton
(7 : 3)
|
|
0,38
|
-
|
0,38
|
-
|
-
|
-
|
I : 0,38
II : 0,54
|
-
|
|
5.
|
Et. User : me-OH : Amonia
(75 : 20 : 5)
|
|
I : 0,2
II : 0,54
III : 0,64
|
-
|
0,6
|
-
|
I : 0,2
II : 0,5
|
-
|
-
|
-
|
|
6.
|
Kloroform : Me-OH
(8 : 2)
|
|
0,88
|
0,88
|
0,88
|
-
|
0,88
|
-
|
0,88
|
-
|
|
7.
|
Kloroform : Aseton
(7 : 3)
|
|
I : 0,30
II : 0,40
|
-
|
0,30
|
-
|
-
|
-
|
0,40
|
-
|
PEMBAHASAN
Percobaan kromatografi kali ini
dengan metode kromatografi lapis tipis atau KLT dengan tujuan untuk mengetahui
dan mengidentifikasi ada tidaknya senyawa bahan kimia obat yang terkandung
dalam obat-obat tradisional. Sampel jamu atau obat tradisional adalah jamu
Pegal Linu yang dicurigai adanya bahan kimia obat dalam campuran jamu
tradisional seperti Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak. Maka dalam
analisis kualitatif ini, senyawa obat-obat tersebut digunakan sebagai
pembanding dalam kromatografi lapis tipis. TLC merupakan suatu pemisahan dengan
menggunakan fase gerak dan fase diam. Di sini yang berperan sebagai fase gerak
adalah kloroform dan methanol, dan fase diamnya adalah silica gel. TLC juga disebut kromatografi planar karena
fase diamnya berupa lapis tipis yang seragam pada permukaan bidang datar,
sedangkan fase geraknya akan berjalan sepanjang fase diam karena daya
kapilaritas. Fase diam akan membawa analit melewati fase diam berdasarkan kepolaritasan.
Untuk melihat pemisahan terbaik yang
kita lakukan adalah pengoptimasian fase gerak, pola optimasi pertama
menggunakan kloroform dan methanol (8 : 2) bersifat nonpolar. Pada percobaan
KLT ini yang perlu diperhatikan adalah saat melakukan penotolan ,saat penotolan
harus serba hati-hati jangan terlalu tebal dan jangan terlalu tipis, serta
diperhatikan batas antara totolan dan pelarut fase gerak agar totolan tidak
larut dalam fase gerak sehingga tidak terjadi elusi. Penandaan pada plat silika gel harus menggunakan
pensil, tidak diperbolehkan menggunakan bolpoint, hal ini disebabka tinta pada
bolpoint akan menganggu saat dicelupkan di fase gerak, tinta akan ikut masuk
dan menganggu pengamatan. Silika gel harus dijaga sebersih mungkin, karena
apabila basah ataupun kotor akan menganggu disebabkan adanya pengotor jadi
bukan dari sampel / zat murni yang akan diteliti. Hal ini bertujuan untuk
mengecek fase gerak apakah mau memisah dan juga membersihkan fase gerak dari
pengotor yang dapat menganggu jalannya pengamatan. Setelah itu dilakukan
penotolan keempat zat ini pada plat silika, lalu dimasukkan ke dalam fase gerak
secara tegak
Dalam praktikum ini kita menggunakan
fase terbalik dimana fase diamnya bersifat
bersifat polar dan fase geraknya bersifat non polar. Di sini kita
menggunakan sampel dan 3 pembanding. Sampel dilarutkan dengan kloroform dan
methanol, pembanding yaitu Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak
masing-masing adarnya 1 %. Fase gerak sebelumnya dijenuhkan dahulu menggunakan
kertas saring yang ditandai dengan adanya titik air atau embun pada chamber
atau kertas saring yang seluruhnya basah dari bawah sampai atas,.
Kemudian dilakukan pengamatan pada
sinar UV dibagi 2 yaitu pada panjang gelombang 324 dan 366. Hasi Rf pada 234
yaitu 4 totolan pada Rf seluruhnya 0,88.
Parasetamol 0,88; Antalgin 0,88; Na Diklofenak 0,88. Dan pada panjang gelombang
366 hasil Rf yang diperoleh juga 0,88. Secara teoritis Rf yang bagus itu antara
0,2 – 0,8. Apabila kurang dari 0,2 berarti bias yang artinya terlihat seperti
memisah tetapi aslinya tidak memisah. Jika lebih besar dari 0,8 mungkin saja
itu terlalu besar terjadi karena fase gerak terlalu kuat sehingga terbawa oleh
fase gerak. Pada pengindentifikasian BKO
kami menyimpulkan bahwa BKO yang terkandung dalam sampel pegal linu kelompok
kami tidak diketahui karena hasil Rf-nya bias.
Kami membandingkan hasil BKO dengan
kelompok 3 yang menggunakan Fase gerak yang sama, dari hasil BKO yang
terkandung dalam sampel pegal linu kelompok 3 diduga terkandung parasetamol dan
Na diklofenak. Kelompok satu dengan fase gerak kloroform : aseton,
pengindentifikasian BKO dalam sampel di duga mengandung parasetamol dan
antalgin, kelompok 2 dengan fase gerak etil asetat : methanol : ammonia (
75:20:5) dengan membanding hasil BKO pada
kelompok 5 dengan fase gerak yang sama didapat hasil BKO dari kelompok 2 yaitu mengandung
antalgin dan Na diklofenak, sedangkan kelompok 5 mengandung parasetamol,
antalgin dan Na diklofenak. Pada kelompok 4 dibandingkan dengan kelompok 7 menggunakan
fase gerak sama didapat hasil BKO kelompok 4 mengandung parasetamol dan Na
diklofenak dan BKO kelompok 7 juga sama yaitu mengandung parasetamol dan Na
dikofenak.
KESIMPULAN
1)
Kromatografi lapis tipis adalah cara pemisahan berdasarkan
fase gerak dan fase diam.
2)
Praktikum ini menggunakan fase terbalik. Fase gerak yang
digunakan adalah kloroform dan metanol (8 : 2) yang bersifat non polar, fase
diam silika gel
3)
Anatalgin bersifat lebih polar dibanding parasetamol
karena antalgin berupa dalam bentuk garam.Digunakan 3 pembanding yaitu
Paracetamol, Antalgin, dan Na Diklofenak.
4)
Rf sampel 0,88 dibanding kan denga Rf parasetamol 0,88, Rf
antalgin 0,86 Rf Na diklofenak 0,88
5)
Secara teoritis
Rf yang bagus itu antara 0,2 – 0,8. Apabila kurang dari 0,2 berarti bias yang artinya
terlihat seperti memisah tetapi aslinya tidak memisah. Jika lebih besar dari
0,8 mungkin saja itu terlalu besar terjadi karena fase gerak terlalu kuat
sehingga terbawa oleh fase gerak
DAFTAR PUSTAKA
Hendayana,
Sumar. 2010. Kimia Pemisahan.
Penerbit Rosda. Bandung
Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha
Ilmu. Yogyakarta
Sudjadi. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar