LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM
FARMAKOLOGI

UJI KETOKSIKAN AKUT
Disusun Oleh:
Nama :
Eldesi Medisa Ilmawati
NIM :
K 100 110 038
Kelompok : B 2
Korektor : Irfanah
LABORATORIUM
FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
MODUL III
KELARUTAN SEMU
(Apparent Solubility)
TUJUAN
Mengetahui pengaruh pH larutan
terhadap kelarutan bahan obat yang bersifat asam lemah.
DASAR TEORI
Bahan-bahan obat yang bersifat asam
lemah, pada pH yang absolute rendah zat tersebut praktis tidak mengalami
ionisasi. Kelarutan obat dalam bentuk ini sering disebut sebagai kelarutan
intrinsic. Jika pH dinaikkan, maka kelarutannya pun akan meningkat, karena
selain terbentuk kelarutan jenuh obat dalam bentuk molekul tidak terionisasi
(kelarutan intrinsik) juga terlarut obat yang terbentuk ion, seperti terlihat
pada kesetimbangan ionisasi skema gambar berikut :
HA(aq)
H+aq
+ A-aq
(aq) (
HA(s)
Gb. Skema
kesetimbangan ionisasi asam lemah dalam keadaan jenuh.
Keterangan :
S0 =
[HA]aq = kelarutan intrinsik
S = [HA]aq + [A-]aq = apparent
solubility
Adapun fraksi
obat yang terionkan (fi) dan fraksi obat yang tidak terionkan (fu) dalam
larutan, hubungannya dengan pH larutan megikuti persamaan Handerson-Hasselbaleh.
pH = pKa + log
Dari
uraian di atas dalam keadaan jenuh, persamaan di atas dapat diubah menjadi:
pH = pKa = log
log
= pH
pKa
apabila
besarnya pH sama dengan pKa maka kelarutan obat menjadi dua kali kelarutan
intrinsiknya:
bukti:
pH
= pKa = x ; maka :
x = x + log 
log
=
0
S =
2
Jika besarnya pH
satu unit dilakukan atas pKa kelarutan obat menjadi 11 kali kelarutan intrinsiknya,
dan jika besarnya dua unit dilakukan atas harga pKa maka kelarutannya meningkat
menjadi 101 kali kelarutan intrinsiknya.
(Anonim, 2012)
Kelarutan zat dalam bagian tertentu
pelarut adalah kelarutan pada suhu 200C dan kecuali dinyatakan lain menunjukkan
bahwa 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian
volume tertentu pelarut. Pernyataan bagian dalam
kelarutan berarti
bahwa 1 gram zat padat atau 1 mL zat cair dalam sejumlah mL pelarut.
(Anonim, 1979)
Pengeruh pelarut dalam kelarutan
obat elektrolit lemah dapat bersifat seperti elektrolit kuat dan seperti non
elektrolit dalam larutan. Apabila larutan pada pH obat yang bentuknya ion, maka
larutan tersebut bersifat elektrolit kuat dan kelarutan tidak menjadi masalah
serius. Sedangkan jika pH disesuaikan pada harga pH dimana molekul tidak
terdisosiasi diproduksi dalam konsentrasi yang cukup mencapai kelarutan , maka
terjadi pengendapan.
Zat terlarut lebih kuat dalam
campuran pelarut daripada dalam suatu pelarut saja. Gejala ini dikenal dengan
melarut bersama (cosolvency) dan
kombinasi pelarut yang menaikkan kelarutan za t terlarut disebut cosolvent.
Banyak obat-obat penting termasuk
dalam kelompok asam lemah dan basa lemah. Obat-obat ini bereaksi dengan asam
kuat dan basa kuat. Serta dalam jarak pH tertentu berada sebagai ion yang
biasanya larut dalam air.
Kelarutan elektrolit lemah sangat
dipengaruhi pH larutan. Untuk menjamin larutan homogeny yang jernih dan
keefektifan terapi yang maksimum. Pembuatan harus sesuai dengan pH optimum.
(Martin, 1990)
ALAT DAN BAHAN
Alat :
-
Spektrofotometer
-
Flakon
-
Filter
-
Kuvet
-
Sonikator
Bahan :
-
Asam Benzoat
-
Larutan dapar dengan pH : 1,2; 4,7; 7,4
CARA KERJA
Percobaan
Kelarutan asam benzoat
Dilarutkan asam benzoat berlebih (
dalam flakon berisi 10 mllarutan dapar pada
suhu (300C)
Letakkan pada sonikator
Diambil sampel setelah larutan jenuh dan
disaring
Diencerkan sampel dan ditetapkan kadarnya
HASIL PERCOBAAN
|
pH
|
Abs
|
Fp
|
Kadar
(mg%)
|
Kadar rata-rata (mg%)
|
Kadar (M)
|
|
|
1,2
|
A
|
0,300
|
100
|
38,3
|
32,1
|
2,62
|
|
B
|
0,220
|
100
|
25,9
|
|||
|
4,7
|
A
|
0,442
|
100
|
60,4
|
54,7
|
4,47
|
|
B
|
0,527
|
66,6
|
49,0
|
|||
|
7,4
|
A
|
0,369
|
66,6
|
32,6
|
31
|
2,53
|
|
B
|
0,338
|
66,6
|
29,4
|
|||
PERHITUNGAN
Perhitungan
fp = 
Fppertama =
=
= 100
Perhitungan kadar (mg%) dan kadar (M)
Kurva
baku y = 0,644x + 0,053
BM
asam benzoate = 122,12
pH 1,2
(a) Kadar (mg%)
1,2A y =
Abs = 0,300
y = 0,644x + 0,053
0,300 =
0,644x + 0,053
0,644x =
0,300 – 0,053
0,644x
= 0,247
x = 
x
=
0,383
Kadar (mg%)
= x . fp
=
0,383 . 100
=
38,3 mg%
1,2B y = Abs = 0,220
Y
= 0,644x + 0,053
0,220 = 0,644x
+ 0,053
0,644x =
0,220 – 0,053
0,644x =
0,167
x
= 
x = 0,259
Kadar (mg%) = x . fp
= 0,259 . 100
=
25,9 mg%
(b)Kadar
rata-rata (mg%) = 
=

= 32,1 mg%
(c)Kadar (M),
untuk menentukan S
Kadar =

= 
= 2,62 M
pH 4,7
fp =
=
= 100
fp =
=
= 66,6
(a) Kadar mg%
4,7 A
y = Abs = 0,442
y = 0,644x + 0,053
0,0442 =
0,644x + 0,053
0,644x = 0,442 – 0,053
0,644x = 0,389
x =
x = 0,604
Kadar =
x . fp
=
0,604 . 100
=
60,4 mg%
4,7B
y = Abs = 0,527
y = 0,644x + 0,053
0,527 =
0,644x + 0,053
0,644x = 0,527 – 0,053
0,644x = 0,474
x = 
x = 0,736
Kadar =
x . fp
=
0,736 . 66,6
= 49,0 mg%
(b) Kadar rata-rata = 
= 
= 54,7 mg%
(c) Kadar (M), untuk
menentukan S
S =
=
= 2,62 . 10-3 M
pH 7,4
fp =
=
= 66,6
(a) Kadar (mg%)
7,4A
y = Abs = 0,369
y = 0,644x + 0,053
0,369 =
0,644x + 0,053
0,644x = 0,369 – 0,053
0,644x = 0,316
x = 
x = 0,490
Kadar =
x . fp
=
0,490 . 66,6
= 32,6 mg%
7,4B
y = Abs = 0,338
y = 0,644x + 0,053
0,338 =
0,644x + 0,053
0,644x = 0,338 – 0,053
0,644x = 0,285
x = 
x = 0,442
Kadar =
x . fp
=
0,442 . 66,6
= 29,4 mg%
(b) Kadar rata-rata = 
= 
= 31 mg%
(c) Kadar (M), untuk
menentukan S
S =
=
= 2,53 . 10-3 M
Perhitungan Si dalam Percobaan
Si = S – So
So = 2,62 . 10-3
Dari pH terkecil :
a)
pH 1,2
Si = S – So
Si = 2,62 . 10-3 – 2,62 . 10-3
Si = 0 M
b)
pH 4,7
Si = S – So
Si = 4,47 . 10-3 – 2,62 . 10-3
Si = 1,85 . 10-3 M
c)
pH 7,4
Si = S – So
Si = 2,53 . 10-3 – 2,62 . 10-3
Si = -0,09 . 10-3 M
Perhitungan S dan
Si secara teoritis
pH = pKa + log
, pKa asam benzoate 4,2
a)
pH 1,2
pH = pKa +
log 
1,2 = 4,2 +
log 
-3 = log 
10-3 = 
2,62 . 10-6 =
S – 2,62 . 10-3
S = 2,62 . 10-6 + 2,62 . 10-3
S = 0,00262 . 10-3 + 2,62 .
10-3
S = 2,62262 . 10-3 M
Si = S – So
= 2,62262 . 10-3
– 2,62 . 10-3
= 2,62 . 10-6 M
b)
pH = 4,7
pH = pKa +
log 
4,7 = 4,2 +
log 
0,5 = log 
3,16 = 
14,1252 . 10-3 =
S – 4,47 . 10-3
S = 14,1252 . 10-3 + 4,47 .
10-3
S = 18,5952 . 10-3
Si = S – So
=18,5952. 10-3
– 4,47 . 10-3
= 14,1252 . 10-6 M
c)
pH 7,4
pH = pKa +
log 
7,4 = 4,2 +
log 
3,2 = log 
1584,89 = 
4009,77 . 10-3 =
S – 2,53 . 10-3
S = 4009,77 . 10-3 + 2,53 .
10-3
S = 4012,30 . 10-3 + 2,53 .
10-3
Si = S – So
= 4012,30 . 10-3
– 2,53 . 10-3
= 4009,77 . 10-3
= 4,00977 M
|

|
|
PEMBAHASAN
Tujuan dari percobaan kelarutan semu (Apparent solubility) adalah untuk
mengetahui pengaruh pH terhadap kelarutan asam benzoat yang bersifat asam
lemah. Asam benzoat yang berupa hablur halus, ringan, tidak berwarna dan tidak
berbau mudah larut dalam etanol dan eter, berfungsi sebagai anti septic extern
dan anti jamur
Asam benzoat ditimbang, kemudian
dilarutkan dalam flakon dengan larutan dapar pH 1,2; 4,7; 7,4 lalu dimasukkan
kelereng ke dalamnya untuk mempercepat melarutkan asam benzoat. Selanjutnya
flakon dimasukkan ke sonikator untuk mendapat penggojokan yang sama dan
teratur, juga suhunya dapat diatur sehingga larutan bercampur secara homogen.
Penggojokan dilakukan hingga jenuh
15 menit. Kemudian dilakukan penyaringan
karena sampel tidak dapat larut sempurna dalam aquadest. Kelarutan asam benzoat
dalam aquadest 1 : 350. Penyaringan
dilakukan karena jika ada endapan di dalam larutan akan mengganggu pembacaan
absorbansinya.
Pengenceran
pertama dilakukan dengan 100
dan aquadest ad 10 mL. Faktor pengencerannya
100 kemudian absorbansinya dibaca pada spektrofotometer, pada pH 1,2 diperoleh
absorbansi 0,300 dan 0,220. Sedangkan pada pH 4,7 dilakukan pengenceran yang
pertama dengan 100
dan aquadest ad 10 mL. Faktor pengencerannya
100. Hasil absorbansinya 0,442. Pada
pengenceran 4,7 yang kedua dilakukan dengan 150
sampel dan aquadest ad 10 mL. Faktor
pengencerannya 66,6. Nilai absorbansinya pada spektofotometer 0,527.
Selanjutnya dilakukan pengenceran pada pH 7,4 dengan 150
sampel dan aquadest ad 10 mL. Faktor
pengencerannya 66,6 pada spektrofotometer absorbansinya dibaca 0,369 dan 0,338.
Faktor pengencerannya berbeda karena saat dibaca di spektrofotometer ada nilai
pH yang absorbansinya tidak masuk dalam range.
Secara teori, jika pH naik maka
kelarutan obat juga naik.Karena larutan berada dalam keadaan jenuh yang
mengandung molekul tak terion dan bentuk obat yang terion. Kelarutan semu
menunjukkan dalam larutan ada bentuk molekul dan ion sehingga makin tinggi pH,
maka kelarutan akan meningkat karena selain terbentuk larutan jenuh obat dalm
bentuk molekul, kelarutan intrinsik (tidak terionisasi) juga obat terlarut
dalam bentuk ion sehingga jumlah ion meningkat. Hal ini kurang sesuai dengan
percobaan kami, pada pH 1,2 S=2,62x10-3
M, pH 4,7 S=4,47x10-3 M, dan
pada pH 7,4 S=2,53x 10-3.
Ketidaksesuaian ini dikarenakan banyak faktor diantaranya adalah kuvet yang
sulit terbaca di spektrofotometer.
Dari hasil tersebut, dapat
ditentukan kelarutan intrinsiknya (S0=2,62x10-3) sehingga
diperoleh obat terlarut dalam bentuk ion (Si), pH 1,2= 0 M pH
4,7=1,85x10-3M Ph 7,4= -0,09x10-3M.
Kurva pH
berbanding S
-
Data secara teoritis, pada pH 1,2 dan 4,7 , S berada pada keadaan
yang hampir sama, tapi pada pH 7,4 S mengalami kenaikan yang sangat tajam.
-
Data hasil percobaan , S mengalami kenaikan dari pH 1,2 ke pH 4,7 , tapi dari pH 4,7 ke pH
7,4 S mengalami penurunan .
Kurva pH
berbanding Si
-
Data secara teoritis, Si mengalami kenaikan namun tidak begitu
signifikan dari pH 1,2 ke pH 4,7 , Si mengalami kenaikan yang signifikan pada
pH 7,4 .
-
Data hasil percobaan, Si mengalami kenaikan dari pH 1,2 ke pH 4,7 , namun Si mengalami penurunan pada pH
7,4 .
KESIMPULAN
·
Secara teori, jika pH dinaikkan , maka kelarutanya juga naik .
·
Hasil percobaan kurang sesuai dengan teori , dari pH 1,2 ke pH 4,7
kelrutan naik , namun kelarutan menurun pada pH 7,4 .
·
Pada keadaan kelarutan semu ( ion dan molekul) obat lebih larut
daripad keadaan kelarutan intrinsik( molekul) .
·
Obat yang bersifat asam bila dilarutkan dalam pelarut asam maka
kelarutannya kecil karena fraksi obat berbentuk ion kecil.
·
Obat yang bersifat asam bila dilarutkan dalam pelarut basa maka
kelarutanya besar karena fraksi obat berbentuk ion besar.
·
Asam Benzoat berfungsi sebagai antiseptik ekstern dan anti jamur.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.
Anonim. 2012. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Universitas Muhammadiyah
Surakarta: Surakarta .
Martin,Alfred. 1990. Dasar-dasar Farmasi Fisika Edisi III. UI
Press. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar